Batampos - Dalam sejumlah foto dan video yang beredar di media sosial, ada bangunan dengan bentuk unik dan beragam. Semua bahannya sama, yakni marmer putih. Bahkan mobil-mobil yang melintas di jalan raya depan bangunan itu pun berwarna putih. Apakah itu hasil kreasi AI? Aneh ya? tapi itu nyata. Ada di Ashgabat. Ibu kota Turkmenistan di Asia Tengah, yang terkenal sebagai kota futuristik .
Ashgabat, sering disebut sebagai salah satu kota paling aneh, tapi megah, sekaligus misterius di dunia. Dipenuhi bangunan marmer putih, jalan raya super lebar, dan monumen megah yang tampak seperti berasal dari masa depan, kota ini menawarkan pengalaman visual yang tak ditemukan di tempat negara lain.
Baca Juga: 5 Tempat Belanja di Singapura yang Disukai Warga Indonesia
Ashgabat memegang pengakuan internasional sebagai kota dengan bangunan berlapis marmer putih terbanyak di dunia. Hampir seluruh pusat kota dipenuhi gedung berwarna putih yang memantulkan cahaya matahari dan memberikan kesan bersih, futuristik, dan tak biasa.
Selain itu, Ashgabat juga memiliki beragam rekor unik lainnya:
- Ferris wheel indoor terbesar
- Bintang arsitektural terbesar di dunia
- Kompleks air mancur terbanyak
- Bangunan kementerian dengan desain unik, seperti berbentuk buku atau pemantik api.
Setiap sudut kotanya tampak seperti hasil perencanaan yang sangat hati-hati, yakni simetris, rapi, dan monumental.
Namun di balik kemewahan arsitekturnya, Ashgabat juga dikenal sebagai kota yang sunyi dan lengang. Banyak wisatawan menggambarkan kota ini seperti “kota hantu futuristik”. Megah, tetapi minim aktivitas manusia. Demikian dikutip dari unfilteredtraveling.
Bangunannya besar, jarak antar monumen sangat jauh, dan jalanannya begitu lebar hingga menciptakan kesan kosong meski berada di ibu kota negara. Suasana ini semakin diperkuat dengan kebijakan ketat dan aturan-aturan tertentu yang membatasi aktivitas di ruang publik. Ternyata, Banyak ruang publik dirancang hanya untuk simbolisme dan visual daripada kegiatan masyarakatnya sehari-hari. Memang agak aneh ya? (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak