Batampos - Nama Tiuridah Silitonga didunia perpolitikan kabupaten Karimun maupun Provinsi Kepulauan Riau sudah tidak asing lagi. Wanita berdarah batak ini, dalam menjalankan tugasnya tetap tegas terhadap aturan yang berlaku. Sehingga, saat musim pesta demoktrasi baik itu Pemilu legislatif, presiden dan wakil presiden hingga kepala daerah sejak tahun 2008 hingga saat ini menjadi perhitungan bagi para kontestan.
Menitik karir wanita berjilbab ini diawali pada tahun 2008 dengan menjadi komisioner, hingga ketua Panwaslu Kabupaten Karimun yang kala itu secara add hoc, sampai menjadi Bawaslu Kabupaten Karimun satu periode.
" Alhamdulillah, dijalani saja dunia perpolitikan di Kabupaten Karimun. Sekarang, saya menjabat anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Karimun,'' terangnya diawal pertemuan green house Talita Garden, Selasa (27/1/2026).
Ia mengungkapkan, bahwa dunia politik sangat unit yang ditekuni hingga sekarang. Berbagai tantangan, telah dihadapi dari para konstestan. Mulai dari waktu, tenaga yang mengarungi pulau-pulau saat menjalankan tugas hingga berbagi bersama keluarga dan usahanya harus tetap eksis sejalan dengan tugas negara.
Walaupun, disaat itu dirinya mengawali usaha dengan ternak ayam potong yang mencapai 12 ribu ekor ditahun 2010 silam. Namun, dengan berbagai kesibukan sebagai penyelenggara Pemilu maupun Pilkada.
Akhirnya, usaha ayam potong tersebut ditutup dan dialihkan dengan menanam berbagai macam sayuran, seperti jagung, sawi, kangkung, ubi kayu dan sebagainya selama 3 tahun sejak 2016 silam hingga sekarang. Seiring waktu berjalan, ditahun 2019 lalu terjadi pandemi Covid-19 yang sangat berdampak terhadap aktivitas dirinya.
" Waduh pas pandemi Covid-19, tantangan sangat berat. Harus putar otak, bagaimana usaha ini tetap eksis dan sejalan dengan tugas negara, maupun keluarga serta suami tercinta,'' ucapnya.
Dengan terjadi pembatasan aktivitas, dirinya memulai membuka usaha baru dengan memanfaatkan pekarangan bekalang rumah yaitu usaha menanam bunga hias yang didatangkan dari luar daerah. Namun, proses usaha tanaman hias ini tantangannya juga sangat berat bagaimana tanaman tersebut harus bisa hidup dengan kondisi cuaca yang berbeda dari asal tanaman.
Waktu terus berjalan, sudah ratusan tanaman yang telah dipesannya mati akibat perubahan iklim cuaca di Karimun yang cukup panas dibandingan tanaman yang dipesannya berbeda cuaca. Namun, tanpa menyerah dirinya terus berusaha yang berbuah hasil tanamanya kini sudah cukup banyak peminat baik itu di Karimun maupun luar Karimun.
" Tantanganya, bagaimana tanaman bunga hias sampai di Karimun hidup. Nah, sekarang syukurlah saya sudah ada green house sendiri jadi lumayan bisa membantu masukan rumah selain dari suami,'' kisahnya.
Ia mengungkapkan, tantangan demi tantangan telah dilaluinya baik itu dunia politik maupun mempertahankan usaha yang awalnya hobi. Sehingga, bisa memberikan contoh kepada anak-anaknya, bahwa hidup ini jangan menyerah. Terus, berusaha dan berusaha yang suatu saat akan ada hasilnya.
" Saya pesan saja anak-anak, jangan mudah menyerah, ketika gagal terus diulang hingga berhasil. Belajarlah dari kegagalan, apalagi sekarang tantangan ekonomi yang sulit kita harus tetap optimis.'' katanya mengakhiri perbincangan. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak