batampos - Kasus pembajakan gim dan anime asal Jepang mengalami lonjakan tajam dalam tiga tahun terakhir.
Pemerintah Jepang mencatat kerugian akibat pembajakan konten digital pada 2025 hampir tiga kali lipat dibandingkan 2022.
Survei 2026 memasukkan kategori baru seperti merchandise karakter. Survei ini menyasar konsumen dari Jepang, Tiongkok, Vietnam, Prancis, Amerika Serikat, dan Brasil.
Perkiraan nilai kerugian akibat pembajakan online konten Jepang dihitung berdasarkan tanggapan para responden tersebut. Seluruh kategori menunjukkan kenaikan hampir tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir.
"Kerugian akibat pembajakan digital pada 2025 mencapai sekitar 5,7 triliun yen. Hampir tiga kali lipat dibandingkan angka sekitar 2 triliun yen pada 2022," tulis data survei, dikutip dari Auto Maton, Rabu (28/1).
Sektor penerbitan sebesar 2,6 triliun yen, film sebesar 2,3 triliun yen, pembajakan gim video 500 miliar yen, dan pembajakan musik sekitar 100 miliar yen.
Sektor film dan publikasi menjadi yang paling terdampak. Jumlah konten bajakan yang dikonsumsi per orang terlihat menurun, tetapi peningkatan jumlah pengguna internet yang mengakses konten ilegal serta popularitas konten Jepang tetap meningkat.
Kerugian akibat pembajakan konten Jepang pada produk merchandise karakter bajakan sekitar 10,4 triliun yen.
Angka tersebut menggambarkan bahwa pembajakan pada produk fisik yang bernilai komersial tinggi.
Pemerintah Jepang menyadari bahwa penindakan hukum saja tidak cukup mengatasi masalah ini.
METI menekankan pentingnya perluasan jalur distribusi legal yang mudah diakses secara global untuk mendorong konsumen beralih dari konten bajakan ke layanan resmi.
Kerja sama internasional dengan otoritas lokal dan upaya memperkuat perlindungan hak cipta menjadi bagian dari strategi pemerintah.
Langkah tersebut penting mengingat semakin populernya anime dan game Jepang di seluruh dunia.
Pemerintah berharap melalui kombinasi penegakan hukum dan edukasi pasar dapat menekan konsumsi konten ilegal yang menjadi ekspor budaya terpenting negara.(*)
Editor : Juliana Belence