Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Nyepi, Satu Hari Perayaan Hening bagi Umat Hindu

Chahaya Simanjuntak • Kamis, 19 Maret 2026 | 06:00 WIB

ILUSTRASI Upacara Melasti oleh warga Hindu Bali menyambut hari raya Nyepi. F Radar Brom/JPG
ILUSTRASI Upacara Melasti oleh warga Hindu Bali menyambut hari raya Nyepi. F Radar Brom/JPG

Batampos - Umat Hindu di Indonesia merayakan hari raya Nyepi, Kamis (19/3/2026) hari ini. Perayaan yang dikenal juga dengan Tahun Baru Saka ini biasanya dijalani dengan satu hari tanpa aktivitas. Menyepi. Diam di rumah. Introspeksi diri dalam damai penyepian dari rutinitas harian.

Merayakan Nyepi di Bali, satu hari sebelumnya, umat Hindu akan mengadakan ritual upacara Melasti dan pawai Ogoh-ogoh yang artinya melarungkan segala bentuk duniawi dan kejahatan ke laut. Lalu kemudian hari selanjutnya ditandai dengan suasana jalanan kosong, lampu dipadamkan, dan masyarakat memilih berdiam diri di rumah.

Bukan hanya umat Hindu saja, tapi warga Bali baik pendatang, dan juga turis turut menghormati dengan cara berdiam di rumah. Namun di balik momen sakral keheningan tersebut, Nyepi menyimpan makna filosofis yang dalam dan tetap relevan di tengah kehidupan modern dan zaman digitalisasi saat ini.

Menurut Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Nyepi dijalankan dengan empat pantangan utama yang dikenal sebagai Catur Brata Penyepian. Keempatnya meliputi amati geni (tidak menyalakan api atau listrik), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan).

Seluruh pantangan tersebut wajib dijalankan, dan bertujuan memberi ruang bagi manusia melakukan introspeksi diri.

Baca Juga: Ketupat Identik dengan Idulfitri di Indonesia, Ini Makna dan Proses Pembuatannya

Dalam praktiknya, keheningan yang tercipta saat nyepi, memberi kesempatan bagi setiap individu untuk merenung, mengevaluasi diri, serta memperbaiki hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Nyepi dapat dimaknai sebagai bentuk reset kehidupan. Mengosongkan pikiran dari hiruk-pikuk dunia luar untuk kembali menemukan keseimbangan batin.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, manusia cenderung sulit lepas dari distraksi. Kehadiran media sosial, pekerjaan tanpa batas waktu, hingga tekanan sosial membuat waktu untuk diri sendiri semakin terbatas.

Nilai keheningan yang diajarkan Nyepi menjadi penting. Diam bukan berarti kosong, melainkan proses mengisi ulang energi mental dan emosional. Ini sejalan dengan tren global seperti mindfulness dan digital detox yang kini semakin populer sebagai cara menjaga kesehatan mental, seperti dikutip dari WHO terkait Upaya Keseimbangan dalam Kesehatan Mental. Rahajeng Rahina Nyepi! (*)

 

Editor : Chahaya Simanjuntak
#hari raya nyepi #nyepi #hari raya keagamaan #hindu bali