Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Sport Tourism Dongkrak Ekonomi, Bukan Sekadar Event Olahraga

Abdul Azis Maulana • Kamis, 26 Maret 2026 | 10:00 WIB

Peserta Tour de Batam saat star di Bundaran Nuvasa Bay, Nongsa, beberapa waktu lalu. F. Dok. Batam Pos
Peserta Tour de Batam saat star di Bundaran Nuvasa Bay, Nongsa, beberapa waktu lalu. F. Dok. Batam Pos

batampos – Event olahraga tak lagi sekadar lomba. Di Kepulauan Riau, konsep sport tourism mulai menjadi motor penggerak ekonomi daerah dengan dampak yang jauh melampaui arena pertandingan.

Perwakilan Asosiasi Pariwisata Bahari Indonesia sekaligus Direktur Eksekutif Forum Jurnalis Pariwisata (FJP) Kepri, Surya Wijaya, menegaskan perbedaan mendasar antara sport tourism dan event olahraga biasa.

“Event olahraga hanya berhenti di kompetisi. Sementara sport tourism dirancang untuk menarik wisatawan dan menggerakkan ekonomi,” ujarnya, Rabu (25/3).

Dalam konsep ini, olahraga menjadi pintu masuk bagi perputaran sektor lain. Mulai dari UMKM, perhotelan, transportasi, hingga destinasi wisata ikut terdorong.

Wisatawan yang datang tak hanya bertanding atau menonton, tetapi juga menginap, berbelanja, dan menjelajahi daerah tujuan.

Berbeda dengan lomba lari skala lokal seperti 5K atau 10K yang umumnya minim daya tarik wisata, sport tourism justru dikemas sebagai pengalaman menyeluruh.

“Kalau hanya event, dampaknya terbatas. Sport tourism itu menjual pengalaman,” kata Surya.

Di Kepri, praktik ini sudah terlihat nyata. Ajang Bintan Triathlon di kawasan Lagoi menjadi contoh sukses dengan menarik peserta dari puluhan negara.

Event tersebut tak hanya menghidupkan kompetisi, tetapi juga meningkatkan kunjungan wisata dan memperkuat citra Bintan di level internasional.

Hal serupa terjadi pada Mandiri Bintan Marathon yang memadukan olahraga dengan promosi budaya dan keindahan alam lokal.

Keduanya kini menjadi ikon sport tourism di Kepri karena menghadirkan pengalaman wisata yang terintegrasi.

Batam pun mulai mengikuti tren tersebut. Salah satunya melalui Jambore Sepeda Lipat Nasional yang sukses menarik ribuan peserta dari berbagai daerah hingga mancanegara.

Kegiatan ini berdampak langsung pada pergerakan ekonomi, mulai dari hotel, kuliner, hingga transportasi lokal.

Kawasan Lagoi sendiri telah lama diposisikan sebagai pusat sport tourism, dengan dukungan infrastruktur pariwisata dan daya tarik pantai yang kuat.

Menurut Surya, kunci keberhasilan sport tourism terletak pada perencanaan yang terintegrasi antara olahraga dan pariwisata.

“Ketika dikemas dengan baik, manfaatnya tidak hanya untuk atlet, tetapi juga masyarakat luas,” ujarnya.

Di tengah persaingan destinasi wisata, sport tourism dinilai mampu memberikan nilai tambah yang berkelanjutan—bukan sekadar keramaian sesaat, melainkan perputaran ekonomi yang terus bergerak. (*)

Editor : M Tahang
#sport tourism #event olahraga