Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Saham Pop Mart International Group Anjlok, Padahal Labubu Laris Manis

Juliana Belence • Jumat, 27 Maret 2026 | 10:15 WIB

Pop Mart Labubu.
Pop Mart Labubu.

batampos - Popularitas boneka koleksi Labubu terus mendorong lonjakan pendapatan Pop Mart International Group di pasar global.

Namun, di tengah performa gemilang saham perusahaan justru mengalami tekanan signifikan di bursa.

Saham Pop Mart turun lebih dari 20% setelah perusahaan merilis laporan kinerja tahunan 2025. 

"Pendapatan melonjak sekitar 185% secara tahunan menjadi 27,12 miliar yuan. Didorong oleh popularitas global produk seperti Labubu," tulis laporan Pop Mart, dikutip dari Reuters, Jumat (27/3).

Fenomena Labubu yang sempat viral secara global kini mulai menunjukkan tanda - tanda pelemahan. Harga jual kembali produk di pasar sekunder dilaporkan turun.

Hal ini yang menjadi indikator menurunnya minat kolektor. Beberapa analis membandingkan fenomena ini dengan tren mainan koleksi masa lalu yang sempat meledak namun kemudian redup.

Pertumbuhan di pasar internasional seperti Amerika Utara juga mulai melambat dibandingkan periode sebelumnya.

Salah satu kekhawatiran utama investor adalah ketergantungan besar perusahaan pada satu produk.

Penurunan saham dipicu oleh aksi ambil untung setelah saham Pop Mart melonjak tinggi berkat popularitas Labubu.

Setelah kenaikan signifikan sepanjang 2025, banyak investor memilih menjual sahamnya untuk mengamankan keuntungan.

Labubu diketahui menyumbang sekitar 40% pendapatan perusahaan pada paruh pertama 2025. Namun, ketergantungan besar pada satu produk justru menjadi risiko.

Kekhawatiran bahwa Labubu bisa menjadi one hit wonder atau tren sesaat yang sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Analis juga mulai menurunkan target harga saham karena adanya tanda - tanda perlambatan ekspansi internasional.

Saham kembali turun setelah analis memangkas proyeksi dengan alasan momentum pasar luar negeri mulai melemah.

Laporan sebelumnya menunjukkan harga jual kembali Labubu di pasar sekunder sempat turun signifikan akibat peningkatan pasokan dan perubahan dinamika permintaan.

"Perusahaan akan fokus pada pertumbuhan yang lebih seimbang dan tidak terlalu agresif demi menjaga profitabilitas," ujar CEO Pop Mart, Wang Ning, dikutip dari Reuters.

Perusahaan juga mulai memperluas bisnis ke kategori baru, termasuk taman hiburan dan produk lain untuk mengurangi ketergantungan pada satu karakter.(*)

Editor : Juliana Belence
#Pop Mart International Group #Labubu #Pop Mart #saham