Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Kisah Haru Jumariah, Buruh Tani 70 Tahun dari Maros yang Jadi Ikon Haji 2026

jpg • Senin, 18 Mei 2026 | 09:31 WIB
Nenek Jumariyah semringah usai melihat Ka
Nenek Jumariyah semringah usai melihat Ka'bah. Ia menjadi ikon indonesia untuk promosi haji internasional oleh Arab Saudi. (Bayu Putra/JawaPos.com/MCH 2026)

batampos - Di bawah langit cerah Kota Suci Makkah pagi itu, lautan manusia berpakaian ihram bergerak bagai gelombang yang tak pernah putus. Di antara jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia, terselip senyum tulus dari wajah renta yang dipenuhi guratan kehidupan.

 Ia adalah Jumariah, seorang buruh tani berusia 70 tahun asal Kabupaten Maros, yang kisahnya viral dan menyita perhatian publik sebagai salah satu ikon inspiratif musim haji 2026.

Tak banyak yang tahu, jauh sebelum langkahnya menapaki marmer dingin Masjidil Haram, kehidupan Jumariah berjalan dalam kesederhanaan yang nyaris sunyi. Selama lebih dari dua dekade, ia hidup sendiri di rumah kecil sederhana yang berdiri di tengah hamparan sawah.

Hari-harinya dimulai sejak dini hari. Sebelum matahari terbit, Jumariah telah bangun untuk memberi makan ayam peliharaannya, menyapu halaman rumah, hingga mengambil air dan mencuci pakaian sendiri. Setelah sarapan seadanya, ia berjalan menyusuri pematang menuju kebun dan sawah milik warga lain untuk bekerja sebagai buruh tani.

Usia yang terus menua tak membuat semangatnya surut. Dengan tenaga seadanya, Jumariah tetap menjalani pekerjaan berat demi bertahan hidup sekaligus memelihara harapan yang telah ia simpan selama puluhan tahun: menunaikan ibadah haji.

Kesederhanaan hidupnya kini berubah menjadi kisah yang menginspirasi banyak orang. Sosoknya menjadi simbol keteguhan, kesabaran, dan kuatnya iman seorang perempuan desa yang tak pernah menyerah pada keadaan.

Di tengah jutaan jamaah haji dari seluruh dunia, Jumariah hadir bukan sebagai orang terkenal atau tokoh besar, melainkan sebagai representasi rakyat kecil yang membuktikan bahwa mimpi dan doa dapat menemukan jalannya sendiri.

Perjalanan hidup Jumariah juga menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi perjalanan panjang penuh pengorbanan, kerja keras, dan keyakinan yang dijaga sepanjang hidup.

Tangannya yang kasar adalah saksi bisu dari kerasnya kehidupan, membersihkan rumput liar dan merawat tanaman dengan penuh ketelatenan hingga matahari terbenam. Pulang ke rumah, ia kembali membersihkan diri, menyisakan lelah yang ditidurkannya dalam doa-doa panjang.

Bagi sebagian orang, pergi ke Tanah Suci adalah soal menunggu bonus tahunan cair atau menjual aset berharga. Namun bagi Jumariah, panggilan Baitullah dijawab dengan keringat, kesabaran, dan sebuah ember plastik yang diletakkan di sudut rumahnya.

Ia bukanlah orang berada. Pendapatannya dari bertani dan mencari hasil bumi di gunung sangatlah tidak menentu. "Kalau saya dapat uang Rp 100 ribu, saya simpan Rp 50 ribu," ceritanya dengan mata berbinar.

Uang lembaran demi lembaran, receh demi receh itu, ia masukkan ke dalam sebuah ember pudar di rumah kayunya di tengah sawah. Ember itu menjadi saksi bisu dari niat kuat seorang hamba yang merindukan Tuhannya.

Lebih dari 20 tahun ia menabung dalam diam. Tidak ada yang tahu betapa besar perjuangannya menyisihkan uang dari perut yang mungkin masih setengah lapar, demi mengumpulkan Rp 25 juta untuk biaya pendaftaran awal.

Pada 2011, impian itu akhirnya tercatat di atas kertas. Lima belas tahun ia menunggu sejak pendaftaran itu, menyambung harap dari musim panen ke musim panen berikutnya, hingga akhirnya tahun 2026 ini, semesta mendukung untuk memberangkatkannya.

Makkah Route

Keberangkatan Jumariah adalah sebuah lompatan sejarah dalam hidupnya. Sebelum ini, perjalanan terjauh yang pernah ia tempuh hanyalah ke Kendari untuk menjenguk sepupunya.

Menaiki "burung besi" menuju Tanah Suci adalah pengalaman yang tak pernah terlintas dalam benaknya. "Pertama, saya agak ragu. Takut. Tapi lama-lama, ya sudah baik. Makanan di pesawat juga cocok," kisahnya sambil terkekeh pelan. Kepolosan Jumariah menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya.

Perjalanan yang berpotensi melelahkan bagi seorang lansia sepertinya berhasil dilalui dengan senyum berkat layanan yang luar biasa dari pemerintah. Melalui fasilitas Makkah Route, sebuah inisiatif brilian hasil kerja sama pemerintah Indonesia dan Kementerian Haji (Kemenhaj) Arab Saudi, perjalanan Jumariah menjadi jauh lebih mudah.

Layanan fast track tersebut memungkinkan proses keimigrasian Arab Saudi dilakukan di bandara embarkasi di Indonesia. Ketika Jumariah mendarat di Tanah Suci, ia tidak perlu lagi antre berjam-jam. Ia bisa langsung masuk ke bus dan diantar ke hotel.

Inovasi layanan haji yang sangat ramah lansia itu benar-benar memberikan dampak positif yang nyata, menjaga fisik dan mental jemaah berusia senja agar tetap prima saat tiba.​​​​​ Sesampainya di Madinah, ketangguhan fisik Jumariah membuat para pembimbing ibadah dan rekan seregunya takjub.

Jarak ratusan meter dari hotel menuju Masjid Nabawi ia tempuh tanpa keluhan. Bahkan ketika jamaah lain mulai kelelahan, Jumariah tetap teguh melangkah. Puncak emosional perjalanan itu terjadi saat ia tiba di Makkah. Ketika matanya yang mulai rabun untuk pertama kali menangkap kemegahan Ka'bah, tangisnya pecah. Tubuh rentanya bergetar. ’’Kenapa saya bisa di sini? Saya orang miskin,” ujarnya lirih dengan suara bergetar.

Meski kerinduannya untuk mencium Hajar Aswad begitu besar, para petugas dan pendamping dengan penuh welas asih memberi pengertian. Keselamatan dan kesehatan Jumariah menjadi prioritas utama.

Mengingat usianya serta padatnya jamaah, keinginan itu disepakati untuk ditunda, setidaknya hingga rangkaian wukuf di Arafah selesai ditunaikan. Pelayanan dan pendampingan dari Kementerian Haji dan Umrah RI memastikan Jumariah tidak hanya dapat beribadah dengan khusyuk, tetapi juga terlindungi dari risiko fisik yang membahayakan.

Kini, Jumariah bersiap menyambut puncak ibadah haji. Fisik dan mentalnya tampak teguh. Tak ada rasa takut di wajahnya karena ia dikelilingi teman-teman serta para petugas yang memperlakukannya layaknya ibu sendiri.

Dari seorang perempuan renta yang sehari-harinya menyapu dedaunan di tengah sawah Kabupaten Maros, Jumariah kini menjelma menjadi simbol keteguhan hati di musim haji 2026.

Kisahnya menabung selama puluhan tahun di dalam ember plastik mengajarkan bahwa ketika niat telah tertanam kuat di dada, kemiskinan maupun kesunyian tak mampu menghalangi panggilan-Nya. Di bawah langit Makkah, doa-doa Jumariah mengangkasa. ’’Saya berdoa, mudah-mudahan bisa kembali lagi,” ucapnya. Sebuah doa sederhana dari jiwa yang kaya, meski hidupnya bersahaja. (*) 

 
Editor : Jamil Qasim
#Jumariah