batampos — Jamaah haji Indonesia menjalani prosesi wukuf di Arafah pada Selasa (26/5) waktu Arab Saudi. Prosesi tersebut diawali dengan khutbah wukuf yang disampaikan anggota Amirul Hajj, Asep Saifuddin Chalim.
Dalam khutbah bertema “Tri Sukses Haji: Jalan Menuju Haji Mabrur dan Kemaslahatan Bangsa”, KH Asep menegaskan bahwa wukuf bukan sekadar kehadiran fisik, melainkan momentum spiritual untuk kembali kepada Allah SWT.
“Di Padang Arafah ini, manusia belajar bahwa tidak ada kemuliaan sejati selain ketakwaan. Di tempat ini, air mata taubat lebih berharga daripada kemegahan dunia,” ujar KH Asep.
Ia mengingatkan bahwa harta maupun jabatan tidak menjadikan seseorang lebih mulia di hadapan Allah. Semua manusia hadir di Arafah sebagai hamba yang memohon ampunan dan rahmat-Nya.
“Semua hadir sebagai hamba. Semua memohon ampun. Semua mengharap rahmat. Semua menunggu karunia Allah,” katanya.
Wukuf Jadi Momentum Memperbanyak Doa
KH Asep juga mengajak jamaah memanfaatkan waktu wukuf dengan memperbanyak istighfar dan doa.
Ia mengutip hadis Rasulullah SAW:
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.” (HR. Tirmidzi)
Menurutnya, jamaah perlu mendoakan diri sendiri, keluarga, orang tua, guru, petugas haji, para pemimpin, umat Islam, hingga bangsa Indonesia.
Haji Mabrur Terlihat dari Perubahan Sikap
Dalam khutbahnya, KH Asep menegaskan bahwa haji mabrur bukan sekadar berhasil menyelesaikan rangkaian manasik, tetapi tercermin dari perubahan perilaku setelah pulang dari Tanah Suci.
“Haji mabrur adalah perubahan hidup yang akan menampakkan diri pada wujud hati yang lebih lembut, ibadah yang lebih terjaga, lisan yang lebih santun, sikap yang lebih sabar dan bijak, serta kepedulian yang lebih nyata dalam kehidupan,” tegasnya.
Ia menambahkan, oleh-oleh terbaik dari ibadah haji bukanlah barang atau suvenir, melainkan ketakwaan, akhlak yang lebih baik, serta kepedulian sosial kepada sesama.
Menurut KH Asep, ibadah haji juga mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan kemampuan menjaga sikap di tengah jutaan manusia dengan berbagai latar belakang.
“Di tengah jutaan manusia, haji menguji watak kita. Di tengah panas dan padat, haji menguji kesabaran kita,” ujarnya.
Tri Sukses Haji
KH Asep turut menyinggung konsep “Tri Sukses Haji”, yakni:
-
sukses spiritual,
-
sukses ekosistem ekonomi haji,
-
serta sukses keadaban dan peradaban.
Sukses spiritual berarti jamaah mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah sesuai syariat. Sementara sukses ekonomi haji diharapkan dapat membuka peluang bagi produk Indonesia di Arab Saudi.
Adapun sukses keadaban dan peradaban diwujudkan melalui akhlak yang lebih baik setelah berhaji.
“Haji harus menjadikan seseorang lebih santun kepada keluarga, lebih peduli kepada tetangga, lebih jujur dalam pekerjaan, lebih disiplin dalam amanah, dan lebih rendah hati dalam kehidupan sosial,” ucap KH Asep.
Ia berharap jamaah haji Indonesia dapat menjadi teladan yang membawa kesejukan, mempererat persaudaraan, serta menebarkan kedamaian ketika kembali ke Tanah Air. (*)
Editor : Jamil Qasim