batampos – Fase mabit di Mina dan lontar jumrah di Jamarat kembali menjadi tahapan paling berat dalam rangkaian ibadah haji tahun ini. Ribuan jamaah harus berjalan kaki dalam jarak cukup jauh di tengah padatnya lautan manusia dan cuaca panas ekstrem Arab Saudi.
Tak sedikit jamaah yang tumbang akibat kelelahan. Sebagian lainnya dilaporkan tersasar karena lupa arah kembali menuju tenda di Mina usai melontar jumrah. Ada pula jamaah yang terpisah dari rombongan akibat kepadatan arus manusia menuju Jamarat.
Berbeda dengan ibadah di Masjidil Haram, wukuf di Arafah, maupun mabit di Muzdalifah yang relatif lebih banyak dilakukan dengan berdiam di tempat, aktivitas di Mina dan Jamarat justru menguras tenaga karena jamaah harus terus bergerak dan berjalan hampir tanpa henti.
Jamaah memulai perjalanan dari tenda di Mina menuju Jamarat dengan berjalan kaki sejauh beberapa kilometer. Setelah melontar jumrah, mereka kembali berjalan menuju tenda masing-masing.
Menariknya, waktu yang dibutuhkan untuk melontar jumrah sebenarnya sangat singkat. Untuk satu jumrah, jamaah hanya memerlukan waktu kurang dari satu menit untuk melempar tujuh batu kerikil. Namun, perjalanan menuju dan keluar dari area Jamarat justru menjadi tantangan terbesar karena padatnya jutaan jamaah dari berbagai negara.
Kepala Satuan Operasi Armuzna, Letkol Surnadi, mengatakan pihaknya telah mengimbau jamaah Indonesia agar tidak keluar tenda maupun menuju Jamarat pada pukul 10.00 hingga 14.00 waktu Arab Saudi.
Menurutnya, cuaca panas pada siang hari sangat berisiko bagi kondisi fisik jamaah, terutama lansia.
“Jangan lupa membawa air minum agar saat haus bisa langsung diminum,” ujarnya di area Jamarat, Kamis (28/5).
Ia menambahkan, secara umum jamaah Indonesia dinilai cukup tertib mengikuti aturan dan arahan petugas selama proses lontar jumrah berlangsung.
Pemerintah Indonesia juga telah mengatur pembagian lokasi lontar jumrah untuk mengurangi kepadatan. Jamaah yang mabit di Mina diarahkan melontar di lantai 3 Jamarat, sedangkan jamaah tanazul diarahkan ke lantai 1.
“Kita lihat sendiri, Alhamdulillah jamaah Indonesia sudah mulai mengikuti aturan-aturan yang dikeluarkan pemerintah,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan kejadian jamaah tersasar maupun lupa arah pulang lebih banyak terjadi pada hari pertama lontar jumrah Aqabah.
Menurut Dahnil, kondisi tersebut terjadi karena jamaah masih dalam tahap mengenali lokasi di kawasan Mina dan Jamarat.
“Biasanya di Mina itu memang lebih melelahkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah menjalani wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah, jamaah hanya memiliki waktu istirahat yang sangat singkat sebelum kembali berjalan menuju Jamarat untuk melontar jumrah Aqabah dan melaksanakan tahalul awal.
Di saat bersamaan, jutaan jamaah dari seluruh dunia juga bergerak menuju lokasi yang sama. Petugas keamanan Arab Saudi pun memberlakukan sistem buka tutup jalur untuk mengurangi kepadatan arus jamaah.
Akibatnya, sebagian jamaah harus berjalan memutar lebih jauh di tengah suhu panas dan padatnya kerumunan.
Karena itu, Dahnil mengimbau jamaah, khususnya lansia, agar tidak memaksakan diri apabila kondisi fisik tidak memungkinkan.
“Kalau memang tidak sanggup, ada baiknya dibadalkan untuk lontar jumrahnya,” katanya.
Editor : Jamil Qasim