batampos – Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menyiapkan Tim Ekspedisi Patriot sebagai bagian dari strategi mengembangkan industri berbasis potensi lokal di kawasan transmigrasi. Program ini diharapkan mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui industrialisasi dan hilirisasi.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan transformasi program transmigrasi kini tidak lagi hanya berorientasi pada pemindahan penduduk, tetapi diarahkan untuk membangun kawasan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.
"Transformasi transmigrasi bukan lagi sekadar memindahkan orang. Yang kita bangun adalah pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui industrialisasi dan hilirisasi," kata Iftitah dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu.
Pernyataan tersebut disampaikan saat memimpin diskusi bersama para guru besar dari 10 perguruan tinggi mitra Program Tim Ekspedisi Patriot pada Selasa (30/6).
Hubungkan Potensi Lokal dengan Dunia Industri
Iftitah menjelaskan, kawasan transmigrasi ke depan tidak lagi dipandang hanya sebagai wilayah permukiman, tetapi dikembangkan menjadi ekosistem ekonomi yang menghubungkan potensi sumber daya alam, hasil riset perguruan tinggi, inovasi teknologi, dunia usaha, investasi, hingga akses pasar.
Dalam konsep tersebut, Tim Ekspedisi Patriot akan berperan sebagai penghubung antara masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku usaha untuk merancang pengembangan kawasan secara terpadu.
Tim ini akan bertugas mengidentifikasi komoditas unggulan, mendorong pengembangan industri pengolahan, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, serta membangun kemitraan dengan pelaku usaha yang dapat menyerap hasil produksi masyarakat.
Program Transmigrasi Patriot tahap awal akan difokuskan di sejumlah kawasan transmigrasi di Papua dengan melibatkan berbagai perguruan tinggi mitra.
Kementerian Transmigrasi menargetkan potensi lokal di kawasan transmigrasi tidak lagi dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Ciptakan Lapangan Kerja dan Tarik Investasi
Menurut Iftitah, pengembangan kawasan transmigrasi berbasis industrialisasi diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru, menarik investasi, sekaligus membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.
"Ada gula, ada semut. Kita bangun dulu ekonominya. Ketika peluang kerja dan usaha tumbuh, masyarakat akan datang karena melihat masa depan yang lebih baik," ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai masukan dari kalangan akademisi akan menjadi dasar penyempurnaan indikator keberhasilan Tim Ekspedisi Patriot.
Keberhasilan program nantinya tidak hanya diukur dari jumlah kajian atau pemetaan yang dihasilkan, tetapi juga dari tumbuhnya industri lokal, meningkatnya kesempatan kerja, naiknya pendapatan masyarakat, serta berkembangnya kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Akademisi Tekankan Pentingnya Akses Pasar
Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Sjarief Widjaja, menilai keberhasilan industrialisasi kawasan transmigrasi sangat bergantung pada kepastian pasar bagi produk yang dihasilkan masyarakat.
"Yang paling penting adalah offtaker. Produk masyarakat harus sejak awal dihubungkan dengan pasar sehingga industrialisasi benar-benar menghasilkan nilai tambah dan kesejahteraan," kata Sjarief.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Padjadjaran, Prof Tommy Perdana, menilai Tim Ekspedisi Patriot harus berperan sebagai konsolidator yang mampu menghubungkan sistem produksi masyarakat dengan kebutuhan pasar.
Menurutnya, industrialisasi kawasan hanya dapat berjalan apabila rantai pasok dibangun secara utuh, mulai dari penguatan kapasitas petani, pengolahan hasil, akses pembiayaan, hingga pemasaran ke pasar modern dan ekspor.
"Patriot perlu menjadi konsolidator yang memahami sistem produksi sekaligus sistem pasar sehingga masyarakat mampu bertransformasi dari pola produksi tradisional menuju pertanian dan agroindustri yang berorientasi pasar," ujarnya. (*)
Editor : Putut Ariyo