HUT ke-28 IJTI, Jurnalis Harus Adaptif di Era Digital dan AI

Chahaya Simanjuntak • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:23 WIB

 

Peringatan 28 tahun Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kepulauan Riau di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis (20/8/2026). F.Ist
Peringatan 28 tahun Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kepulauan Riau di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis (20/8/2026). F.Ist

 

batampos - Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kepulauan Riau merayakan 28 tahun kiprahnya menyajikan informasi berita visual di Indonesia. Mengangkat tema Beyond Journalism, acara dilaksanakan di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

“Peringatan 28 tahun IJTI ini menjadi momentum bagi para jurnalis untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi khususnya di bidang AI tanpa meninggalkan etika jurnalistik,” ujar Ketua Umum IJTI Herik Kurniawan saat temu pers kemarin.

Herik mengatakan, perubahan teknologi yang pesat menuntut para jurnalis untuk terus meningkatkan kemampuannya secara terampil, pengetahuan yang harus terus berkembang, serta etika yang tidak boleh berubah.

“Keterampilan dan pengetahuan terus berkembang seiring zaman. Tapi etika tidak boleh berubah. Etika jurnalistik itu harus ada,” ujarnya.

Herik mengatakan, konsep Beyond Journalism dalam peringatan 28 tahun IJTI berkiprah di bawah naungan Dewan Pers, keberpihakan jurnalis harus tetap kepada kebenaran dan kepentingan publik. Perubahan teknologi dan pola konsumsi informasi tidak boleh membuat jurnalis kehilangan prinsip dasar profesinya.

“Apapun perubahan besar di luar sana, kita tetap harus tegak kepada kebenaran dan berpihak kepada publik,” katanya.

Baca Juga: Jaga Investasi Batam, BP Batam dan Polri Perkuat Pengamanan 22 Pulau

Menurut dia, tantangan industri media juga semakin kompleks, termasuk kondisi ekonomi yang fluktuatif. Karena itu, jurnalis dan institusi media dituntut mampu beradaptasi sekaligus mempertahankan kualitas produk jurnalistiknya.

“Kita tidak bisa berdiri sendiri. Sejak awal tahun, kita sudah melakukan konsultasi dengan daerah dan seluruh stakeholder. Dalam konteks Beyond Journalism, kita harus memahami bagaimana teman-teman semua bisa bertahan dalam kondisi saat ini, ketika ekonomi sangat fluktuatif,” ujarnya.

Ia menambahkan, kualitas jurnalistik harus tetap menjadi prioritas. Jurnalis tidak cukup hanya menyampaikan fakta dan peristiwa, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menyoroti tantangan pers di tengah derasnya arus informasi media sosial yang hadir menyuguhkan ragam cerita dan peristiwa ke masyarakat tanpa sortir.

Ia pun mengingatkan kepada seluruh insan pers, khususnya jurnalis televisi bahwa kebebasan informasi harus berjalan beriringan dengan kualitas dan tanggung jawab. Jangan gampang diombang-ambingkan keadaan. Pers harus hadir sebagai pilar demokrasi. “Bangsa ini dari dulu sampai sekarang sangat tidak tahan godaan,” ujar Komaruddin.

Komarudin, dalam sambutannya juga mengutip pemikiran Friedrich Nietzsche mengenai kekuasaan dan pers. Menurutnya, kekuasaan yang bersifat tiran cenderung tidak menyukai pers yang kritis.

“ Ada tiga hal yang kini saling berkaitan dalam ekosistem informasi, yakni pers, media sosial, dan ruang publik. Media sosial memiliki kekuatan besar dalam menyebarkan informasi, bahkan dapat memengaruhi publik lebih luas dibandingkan media konvensional. Nah kita para jurnalis harus mampu beradaptasi dalam menyajikan informasi yang sesuai fakta dan bebas nilai,” ungkapnya.

Namun, menurutnya, persoalan utama bukan hanya seberapa cepat informasi tersebar, melainkan apakah informasi tersebut berkualitas atau tidak.

“Kalau media sosial itu berkualitas, tentu sangat membantu. Tetapi kalau kualitasnya rendah, justru menjadi persoalan,” katanya.

Di sisi lain, Ketua IJTI Kepri yang juga Koordinator Wilayah Sumatera, Gusti Yennossa optimistis industri jurnalisme televisi masih memiliki masa depan.

"Saya tidak berani mengatakan bahwa dunia jurnalisme televisi itu tidak baik-baik saja. Justru saya sangat berharap dunia jurnalisme televisi itu baik-baik saja,” ujar Gusti yang akrab disapa Oca ini.

Oca mengaku tidak sepakat jika industri jurnalisme disebut akan memasuki era sunset industry.

Menurutnya, perubahan dalam industri media memang tidak bisa dihindari. Namun, kondisi tersebut harus dihadapi dengan optimisme dan kemampuan beradaptasi.

“Kita akui perubahan itu terjadi. Tetapi kita harus yakin dan optimistis, semua akan baik-baik saja,” ujarnya.

Membawa 14 anggota IJTI Kepri, Oca berharap para anggota di daerah tetap menjadi ruang berkumpul dan bertumbuh bagi para jurnalis televisi khususnya di wilayah Kepulauan Riau. 

“Kebersamaan para jurnalis khususnya jurnalis televisi sangat penting dalam menghadapi perubahan industri media saat ini,” ungkapnya. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
IJTI Kepulauan Riau 28 tahun jurnalis AI dewan pers