batampos – Kabar duka datang dari misi kemanusiaan untuk membantu korban gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Ahmad Zaki Ali, relawan sekaligus pendiri Gerak Bareng, meninggal dunia saat tengah mendistribusikan bantuan kepada warga terdampak gempa.
Zaki, yang akrab disapa Bang Jek, dikenal sebagai relawan kemanusiaan yang aktif membantu masyarakat, terutama kelompok dhuafa.
Gerak Bareng merupakan lembaga sosial kemanusiaan yang berfokus memberikan pelayanan dan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Sejak didirikan, lembaga tersebut rutin terlibat dalam berbagai kegiatan sosial.
Ketika gempa bumi mengguncang NTT, Zaki bersama relawan Gerak Bareng langsung bergerak ke lokasi untuk membantu para korban.
Namun, di tengah misi pendistribusian bantuan, kondisi kesehatan Zaki menurun hingga akhirnya meninggal dunia.
Berdasarkan informasi Basarnas, Zaki meninggal saat dalam perjalanan membawa bantuan dari Reo, Kabupaten Manggarai, menuju Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.
“Korban adalah relawan kemanusiaan, pada saat kejadian yang bersangkutan dalam rangka pendistribusian logistik,” kata Deputi Operasi dan Siaga Basarnas Mayjen TNI (Mar) Edy Prakoso, Sabtu (22/8).
Kondisi Zaki Sempat Menurun
Edy menjelaskan, kondisi tubuh Zaki sempat menurun ketika perjalanan berlangsung. Dia kemudian meminta rekan-rekannya berhenti untuk beristirahat.
Zaki juga sempat dibantu melepas jaket dan helm yang dikenakannya selama menjalankan misi kemanusiaan.
Namun, tak lama kemudian Zaki tidak sadarkan diri. Rekan-rekannya segera membawanya ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter menyatakan Zaki telah meninggal dunia.
Kabar duka tersebut kemudian menyebar pada Jumat (21/8). Akun media sosial Gerak Bareng dibanjiri ucapan belasungkawa dari masyarakat, kerabat, serta para relawan yang mengenal almarhum.
Jenazah Dievakuasi dengan Helikopter Basarnas
Jenazah Zaki dievakuasi pada Sabtu (22/8) untuk dibawa pulang ke rumah duka di Jakarta. Proses evakuasi dilakukan menggunakan helikopter Basarnas.
“Pukul 07.04 WITA, Tim Heli Dauphin Basarnas telah mendarat di Helipad Kampung Ronting, Desa Satar Kampas, Kabupaten Manggarai Timur, dan langsung memproses evakuasi jenazah almarhum Ahmad Zaki Ali,” ujar Edy.
Basarnas bersama seluruh unsur SAR yang terlibat dalam misi kemanusiaan di NTT menyampaikan duka cita atas kepergian Zaki.
Ucapan belasungkawa juga datang dari kerabat dan rekan-rekan almarhum. Sosok Zaki dikenang sebagai relawan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama.
Dalam salah satu unggahan di media sosial, Zaki pernah menyampaikan keinginannya untuk meninggal ketika sedang membantu orang lain.
“Kalau pun saya meninggal dunia, saya ingin meninggal saat membantu orang,” demikian kutipan pernyataan Zaki yang beredar di media sosial.
Enam Hari Berada di NTT
Sehari sebelum kabar meninggalnya tersiar, akun Gerak Bareng dan Zaki sempat mengunggah video dari lokasi terdampak gempa.
Dalam video tersebut, Zaki menyampaikan bahwa dirinya telah enam hari berada di NTT. Dia juga menggambarkan kondisi di sejumlah wilayah terdampak gempa yang masih mengkhawatirkan, ditambah gempa susulan yang masih terjadi.
Meski demikian, Zaki bersyukur karena bantuan dari berbagai pihak terus berdatangan dan dapat disalurkan kepada masyarakat.
“Alhamdulillah sebagian besar amanah-amanah dari orang-orang baik telah tersampaikan dan tersalurkan ke ratusan keluarga yang ada di lokasi terdampak gempa 7,7,” ujar Zaki dalam video tersebut.
Kini, Zaki telah berpulang setelah menuntaskan salah satu bentuk pengabdiannya kepada masyarakat. Kepergiannya meninggalkan duka sekaligus kenangan bagi keluarga, rekan-rekan relawan, dan masyarakat yang pernah menerima bantuannya.
Di media sosial, banyak warganet memberikan kesaksian tentang sosok Zaki yang dikenal ringan tangan dan cepat bergerak membantu sesama, termasuk warga yang terdampak gempa di NTT. (*)
Editor : Jamil Qasim