batampos – TNI Angkatan Laut (TNI AL) mengerahkan sejumlah kapal perang dan kapal patroli untuk membantu operasi pencarian lima jurnalis yang hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau, Banten.
Pencarian tersebut dilakukan pada hari kedua operasi SAR, Rabu (9/9), setelah lima jurnalis bersama tiga kru kapal dilaporkan belum diketahui keberadaannya.
Dikutip dari akun Instagram resmi TNI Angkatan Laut, unsur Pangkalan TNI AL (Lanal) Banten mengerahkan KAL Anyer I.3-64 dan RHIB Peucang untuk menyisir sejumlah sektor perairan yang diduga menjadi lokasi terakhir keberadaan para jurnalis.
Selain itu, Lanal Lampung menyiagakan KAL Siaga untuk mendukung pencarian sekaligus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Untuk memperluas jangkauan operasi, TNI AL juga mengerahkan tiga kapal perang, yakni KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861. Kapal-kapal tersebut membantu memperkuat unsur pencarian di kawasan perairan Selat Sunda.
Pengerahan sejumlah unsur laut itu merupakan bagian dari dukungan TNI AL terhadap operasi SAR gabungan. Tim melakukan penyisiran secara terkoordinasi berdasarkan sektor yang telah ditentukan dan mencari kemungkinan adanya tanda-tanda keberadaan korban maupun sarana yang digunakan saat peliputan.
Hari Kedua Pencarian Belum Membuahkan Hasil
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten (SAR), Al Amrad, mengatakan pencarian pada hari kedua melibatkan tujuh Search and Rescue Unit (SRU) yang disebar ke sejumlah sektor.
"Hari kedua ini kami memperluas area pencarian dengan membagi tim menjadi beberapa SRU di sejumlah sektor. Seluruh sarana dan unsur yang terlibat kami optimalkan untuk menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian," kata Al Amrad kepada awak media.
Operasi SAR gabungan melibatkan Kantor SAR Banten dan Lampung, USS Pandeglang, USS Merak, TNI, Polri, BPBD, KSOP, potensi SAR, media, keluarga korban, nelayan, serta masyarakat setempat.
Sejumlah sarana yang digunakan antara lain KN SAR Tetuka 247, KAL Anyer, KP Sanjaya, KRI Lepu, KRI Leuser, RIB 02 Banten, RIB 02 dan RIB 03 Lampung. Tim juga menggunakan drone thermal serta peralatan SAR air, medis, komunikasi, dan perlengkapan pendukung lainnya.
Berdasarkan laporan petugas di lapangan, kondisi cuaca di lokasi pencarian pada Rabu terpantau cerah berawan. Angin bertiup dari selatan ke utara dengan kecepatan sekitar 14 knot, sedangkan tinggi gelombang berkisar 0,4 hingga 1 meter.
Meski kondisi tersebut masih memungkinkan pencarian dilakukan, tim SAR tetap mempertimbangkan aspek keselamatan karena aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dipantau.
"Sampai saat ini hasil pencarian masih nihil. Kami tidak berhenti melakukan upaya pencarian. Setiap perkembangan di lapangan akan terus kami evaluasi untuk menentukan strategi berikutnya. Kami berharap delapan orang yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan," ujar Al Amrad.
Area Pencarian Berpotensi Diperluas
Hingga pukul 15.22 WIB, SRU 5 yang menggunakan KP Sanjaya masih melakukan pencarian berdasarkan titik koordinat pada SAR Map. Namun, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan korban.
Al Amrad mengatakan evaluasi akan dilakukan setelah operasi hari kedua selesai. Tim juga membuka opsi untuk kembali memperluas area pencarian pada operasi SAR Kamis (10/9).
Selain kondisi laut, aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan dalam operasi tersebut.
"Kami juga memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Saat terlihat adanya material debu vulkanik yang cukup tebal, kami tetap mempertimbangkan faktor keselamatan bagi seluruh personel. Pencarian akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan," katanya.
Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri atas Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) sebagai ABK, dan Heriyanto (49) yang merupakan guide.
Lima lainnya merupakan jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal, jurnalis freelance.
TNI AL memastikan dukungan unsur operasional akan terus dioptimalkan untuk membantu tim SAR gabungan hingga seluruh korban berhasil ditemukan, dengan tetap menyesuaikan perkembangan cuaca dan aktivitas Gunung Anak Krakatau. (*)
Editor : Putut Ariyo