batampos - Kementerian Agama (Kemenag) bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menyiapkan program perbaikan sarana dan prasarana di 700 pesantren dan madrasah melalui program Pesantren Nyaman Belajar.
Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari komitmen Baznas memperkuat sektor pendidikan sebagai salah satu prioritas penyaluran zakat.
“Prioritas kita ada lima, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan mualaf. Salah satu prioritas kita adalah pendidikan,” kata Sodik saat peluncuran program Pesantren Nyaman Belajar di Kantor Kemenag, Jakarta, Rabu (16/9).
Menurut Sodik, dukungan Baznas terhadap pendidikan diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari beasiswa hingga penguatan infrastruktur pendidikan. Program tersebut juga dilakukan melalui kolaborasi dengan kementerian dan lembaga pemerintah.
“Jadi, satu beasiswa, infrastruktur, IT, dan lain-lain,” ujarnya.
Baznas Alokasikan Rp40 Miliar untuk Pendidikan
Sodik mengungkapkan, Baznas tahun ini telah mengalokasikan sekitar Rp40 miliar untuk berbagai program di sektor pendidikan. Sebagian dukungan tersebut juga diarahkan untuk membantu program Kemenag.
Baznas, lanjut dia, akan terus memperluas pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) untuk mendukung pendidikan.
Pengembangan program diharapkan dapat berlanjut pada tahun anggaran berikutnya. Langkah tersebut sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang memiliki basis pendidikan keagamaan sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemenag Sebut Ada 42 Ribu Pesantren
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, Indonesia memiliki sekitar 42 ribu pesantren. Sebagian besar lembaga pendidikan tersebut dikelola secara mandiri dan mengandalkan dukungan masyarakat.
Karena itu, menurut Nasaruddin, masih banyak pesantren yang membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kualitas sarana maupun sumber daya manusia.
“Kolaborasi ini menjadi strategis dalam memperkuat tata kelola dan sumber daya manusia di lingkungan pesantren. Itu (santri) anak bangsa kita juga yang perlu mendapatkan bantuan dari pemerintah. Tapi pemerintah kan keterbatasan anggaran, tentu juga harus ada aturannya yang tersendiri,” kata Nasaruddin.
Kemenag juga baru membentuk dan melantik pimpinan Direktorat Jenderal Pesantren. Menurut Nasaruddin, keberadaan direktorat tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan pesantren.
Ia menilai kolaborasi antara Baznas dan Direktorat Jenderal Pesantren diperlukan untuk memperluas dukungan pembiayaan, terutama karena sebagian besar pesantren masih bertumpu pada masyarakat.
“Juga kewajaran kalau Baznas bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pondok Pesantren, yang kebetulan anggarannya belum muncul sepenuhnya di APBN kita,” ujar Nasaruddin.
Nasaruddin menambahkan, sekitar 42 ribu pesantren di Indonesia menaungi sekitar 12 juta santri. Menurut dia, dukungan terhadap pesantren merupakan bagian dari upaya memperkuat akses pendidikan bagi generasi muda.
“Mereka itu anak bangsa kita juga yang perlu mendapatkan bantuan dari pemerintah,” pungkasnya. (*)
Editor : Putut Ariyo