batampos - Pemerintah mendorong Jakarta berkembang menjadi salah satu pusat fesyen di Asia. Tren influencer asal negara tetangga yang datang ke Jakarta untuk berbelanja produk fesyen dan menikmati kuliner menjadi salah satu peluang yang ingin dimanfaatkan.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan, promosi Jakarta sebagai destinasi fesyen perlu terus diperkuat. Ia melihat semakin banyak influencer asal Malaysia yang membuat konten mengenai pengalaman mereka berbelanja fesyen dan kuliner di ibu kota.
"Kita harus dorong terus Jakarta sebagai pusat fesyen karena saya lihat influencer-influencer Malaysia banyak mereview soal kunjungannya ke Jakarta untuk belanja fesyen dan kuliner," kata Ni Luh dalam Jakarta International Investment, Trade, Tourism, and SMEs Expo (JITEX) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Menurut Ni Luh, Jakarta kini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan bisnis. Ibu kota juga memiliki posisi penting sebagai pusat perdagangan, investasi, pariwisata, serta ekonomi kreatif.
Dalam konteks pariwisata, Jakarta bersama Bali dan Batam menjadi tiga gerbang utama pariwisata Indonesia. Namun, karakter wisatawan yang datang ke Jakarta berbeda dengan Bali.
"Kalau Bali kebanyakan wisatawannya for leisure, tetapi kalau Jakarta mostly for business, MICE (pertemuan, insentif, konferensi, dan pameran), dan seterusnya," ujarnya.
Karena itu, pemerintah ingin mengembangkan potensi Jakarta melalui berbagai jenis wisata, mulai dari wisata kuliner, belanja, urban, budaya, hingga wisata berbasis ekonomi kreatif dan kegiatan MICE.
Kunjungan Wisatawan Jakarta Masih Bisa Ditingkatkan
Ni Luh menyebut Jakarta menerima 2,22 juta wisatawan nusantara dan 21.381 wisatawan mancanegara sepanjang 2025. Menurut dia, angka tersebut masih memiliki ruang untuk ditingkatkan dengan memperkuat daya tarik dan pengalaman wisatawan.
Data BPS menunjukkan aktivitas pariwisata Jakarta tetap bergerak pada 2026. Pada Juli 2026, perjalanan wisatawan nusantara ke Jakarta mencapai 8,84 juta perjalanan atau meningkat 2,72 persen dibandingkan Juni. Pada periode yang sama, tingkat penghunian kamar hotel bintang mencapai 58,28 persen.
Angka perjalanan wisatawan nusantara tersebut menunjukkan besarnya pasar domestik Jakarta. Sebagai pembanding, BPS mencatat perjalanan wisatawan nusantara ke Jakarta pada Juni 2026 mencapai 8,70 juta perjalanan, tumbuh 2,23 persen secara tahunan. Tingkat penghunian kamar hotel bintang pada bulan tersebut mencapai 55,47 persen.
Namun, pemerintah tidak hanya mengejar jumlah kunjungan. Peningkatan kualitas pengalaman wisatawan, lama tinggal, serta belanja wisatawan menjadi bagian penting dari pengembangan pariwisata Jakarta.
"Tantangannya adalah bagaimana kita meningkatkan quality of experience, length of stay dan juga spending wisatawan di Jakarta. Experience adalah kunci. Ini menjadi PR kita bersama dan kami tetap siap untuk terus mendukung dan berkolaborasi," kata Ni Luh.
JITEX Didorong Buka Investasi dan Pasar UMKM
Dorongan menjadikan Jakarta sebagai pusat fesyen Asia juga berkaitan dengan penguatan ekosistem ekonomi kreatif, UMKM, perdagangan, dan investasi.
Ni Luh berharap JITEX 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi mampu menghasilkan investasi baru, membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk UMKM, serta mempertemukan pelaku usaha dengan mitra strategis.
Menurut dia, semangat "Ignite the Economy" dalam JITEX bukan sekadar mendorong aktivitas ekonomi dalam jangka pendek. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan ikut membangun ekosistem ekonomi yang mampu tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Pemerintah juga mengajak berbagai pemangku kepentingan memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang tetap memiliki karakter budaya.
Pengembangan wisata fesyen, kuliner, belanja, budaya, urban, dan MICE diharapkan dapat memperkuat daya saing Jakarta sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari sektor pariwisata Indonesia. (*)
Editor : Putut Ariyo