batampos - Influenza pada anak tidak boleh dianggap sepele. Pada kelompok tertentu, infeksi influenza dapat berkembang menjadi komplikasi berat. Kondisi ini perlu menjadi perhatian seiring meningkatnya aktivitas Influenza A di Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI menyebut subtipe Influenza A H3N2 subklad K, yang populer disebut "Super Flu", telah terdeteksi di 13 provinsi.
Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengatakan influenza dapat menyebabkan komplikasi berat pada anak dengan faktor risiko.
Komplikasi tersebut antara lain pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis hingga ensefalopati.
"Diagnosis laboratoris sangat penting, terutama dengan RT-PCR yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi serta mampu mengidentifikasi subtipe virus," ujar Anggraini kepada wartawan, Rabu (23/9).
Secara global, influenza diperkirakan menyebabkan sekitar 1 miliar infeksi setiap tahun. Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 3 juta hingga 5 juta kasus berat dan 290 ribu hingga 650 ribu kematian terkait gangguan pernapasan.
Kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi meliputi anak berusia di bawah 5 tahun, lansia, ibu hamil, individu dengan penyakit kronis, serta tenaga kesehatan dan pengasuh.
Aktivitas Influenza Meningkat
Menurut data WHO Western Pacific Region periode 1 September 2025 hingga 30 Agustus 2026, aktivitas influenza di zona transmisi Asia Tenggara terus meningkat.
Di Indonesia, pemantauan sentinel menunjukkan fluktuasi kasus positif influenza sepanjang tahun, dengan puncak pada akhir 2025 dan kembali mengalami lonjakan pada pertengahan 2026.
Sementara itu, data IDAI menunjukkan sekitar 5 persen anak yang terinfeksi influenza memerlukan perawatan di rumah sakit. Dari kelompok tersebut, sekitar 80 persen merupakan anak berusia di bawah 2 tahun dan 50 persen di antaranya berusia kurang dari 6 bulan.
Anak berusia di bawah 5 tahun memiliki risiko morbiditas lebih tinggi, terutama mereka yang berada di tempat penitipan anak, memiliki kelainan neurologis atau gangguan tumbuh kembang, tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang, maupun berada di lingkungan dengan kepadatan penduduk tinggi.
"Anak dapat menularkan virus influenza sejak 24 jam sebelum gejala muncul hingga 10 hari setelahnya. Oleh karena itu, anak yang sakit harus diisolasi di rumah, tidak boleh dibawa ke sekolah atau tempat bermain sampai benar-benar pulih," tegas Anggraini.
Selain membatasi aktivitas anak saat sakit, pencegahan juga dapat dilakukan dengan menerapkan etika batuk, mencuci tangan secara rutin, mencukupi kebutuhan cairan untuk mencegah dehidrasi, serta menggunakan masker.
IDAI Rekomendasikan Vaksinasi Influenza Tahunan
IDAI juga merekomendasikan vaksinasi influenza setiap tahun untuk anak mulai usia 6 bulan.
Vaksin influenza tersedia dalam bentuk inaktif, baik trivalen maupun kuadrivalen, serta vaksin hidup intranasal untuk kelompok usia 2 hingga 49 tahun yang memenuhi persyaratan kesehatan.
Vaksinasi influenza disebut dapat mengurangi risiko infeksi sekitar 40 hingga 60 persen, sekaligus membantu mengurangi keparahan penyakit dan risiko komplikasi.
"Vaksinasi influenza harus diberikan setiap tahun karena virus influenza terus berevolusi melalui antigenic drift dan antigenic shift," tandas Anggraini.(*)
Editor : Cipi Ckandina