batampos – Pengadaan dua kapal perang Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) dari Italia tidak hanya perlu dilihat sebagai upaya menambah kekuatan armada TNI AL. Nilai pengadaan yang mencapai €1,18 miliar untuk dua kapal tersebut juga dinilai perlu diikuti dengan pemanfaatan offset secara maksimal untuk memperkuat industri pertahanan Indonesia.
Kepala Bidang Ahli Teknologi dan Offset Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Yono Reksoprodjo mengatakan, offset merupakan sarana, bukan tujuan akhir dalam penguasaan teknologi. Keberhasilannya, kata dia, harus diukur dari kemampuan Indonesia menghasilkan sesuatu setelah proses transfer teknologi selesai.
”Offset itu vehicle, bukan tujuan akhir. Kalau offset adalah tujuan akhir, selesai offset, selesai sudah permasalahannya. Pertanyaannya, kita dapat apa?” kata Yono dalam siniar Ngobrol Pertahanan Indonesia (Ngopi), dikutip Sabtu (26/9).
Menurut Yono, setiap program offset harus memiliki blueprint yang jelas sejak awal. Khusus pengadaan kapal perang, offset tidak cukup berhenti pada kemampuan fabrikasi atau pengelasan badan kapal.
Indonesia perlu mempelajari keseluruhan proses engineering, mulai dari desain, manajemen produksi, sistem integrasi hingga teknologi yang berada di balik platform kapal.
Dua kapal PPA yang dipesan Indonesia dari Fincantieri kemudian diberi nama KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321.
Yono menilai, karena kapal tersebut didatangkan dalam kondisi jadi, skema offset perlu diarahkan pada bidang yang dapat meningkatkan kemampuan industri pertahanan Indonesia. Termasuk simulator, penguasaan teknologi, serta kemampuan integrasi sistem.
”Indonesia sebenarnya telah memiliki kemampuan yang cukup untuk membangun platform kapal. Tantangan yang lebih besar berada pada aspek what's inside, yakni teknologi dan sistem yang membuat kapal tersebut menjadi kapal perang dengan kemampuan tempur,” imbuhnya.
Dalam siniar yang sama, konsultan Marapi Consulting & Advisory Alman Helvas Ali mengatakan offset hanya merupakan salah satu tahapan dalam proses panjang penguasaan teknologi.
Menurut dia, pengalaman Indonesia menunjukkan manfaat offset dapat menjadi signifikan apabila teknologi yang diperoleh kemudian digunakan untuk mengembangkan produk baru.
”Offset hanyalah salah satu tahapan dalam penguasaan teknologi maju. Teknologi yang didapatkan dari offset harus digunakan untuk mengembangkan suatu produk baru yang buatan kita sendiri,” jelasnya.
Alman mengingatkan, hasil offset tidak akan optimal apabila industri pertahanan dalam negeri tidak memperoleh kesempatan untuk menggunakan teknologi yang telah diserap.
Dalam konteks kapal perang PPA dari Italia, dia mencontohkan peluang pengembangan simulator. Transfer teknologi akan lebih bermakna apabila perusahaan Indonesia yang menerima teknologi diberi kesempatan mengembangkan simulator atau produk sejenis untuk kebutuhan pertahanan nasional.
Selain itu, Alman mendorong pengurangan ketergantungan terhadap indirect offset dan memperluas direct offset.
Dalam pengadaan kapal perang, peluang direct offset dapat diarahkan pada desain kapal, sistem elektronika pertahanan, combat management system (CMS), integrasi berbagai subsistem, serta kemampuan engineering dan produksi.
Penguasaan elektronika pertahanan menjadi salah satu pekerjaan penting. Sebab, sistem tersebut merupakan bagian vital dari kemampuan tempur kapal perang modern.
Sejalan dengan itu, Kementerian Pertahanan sebelumnya menyebut industri dalam negeri telah menerima manfaat offset dari Fincantieri, antara lain berupa mock-up atau blok mesin tiruan serta fasilitas pelatihan sumber daya manusia untuk mendukung kemampuan perawatan mesin kapal di dalam negeri.
Karena itu, pengadaan kapal PPA dari Italia dinilai dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk menambah kekuatan armada TNI AL, tetapi juga membangun kapasitas industri pertahanan nasional.
Offset dari proyek tersebut akan memiliki nilai strategis apabila teknologi yang diperoleh dapat dikembangkan menjadi kemampuan, produk, dan sumber daya manusia yang memperkuat kemandirian industri pertahanan Indonesia. (*)
Editor : M Tahang