Operasi Robotik untuk Kanker Rektum, Apa Manfaatnya bagi Pasien?

JawaPos • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 15:10 WIB
Tindakan operasi kanker rektum menggunakan da Vinci Xi Robotic-Assisted Surgery, yang memungkinkan sayatan lebih kecil dan mendukung pemulihan lebih cepat. (Ist).
Tindakan operasi kanker rektum menggunakan da Vinci Xi Robotic-Assisted Surgery, yang memungkinkan sayatan lebih kecil dan mendukung pemulihan lebih cepat. (Ist).

batampos – Kanker rektum merupakan kondisi ketika tumor ganas tumbuh di bagian akhir usus besar. Letaknya berada di rongga panggul yang sempit dan berdekatan dengan otot pengontrol anus serta saraf yang berperan dalam fungsi berkemih dan seksual.

Kondisi tersebut membuat operasi kanker rektum menjadi tindakan yang kompleks. Pasien juga kerap mengkhawatirkan risiko gangguan buang air besar (BAB) dan berkemih setelah operasi.

Saat ini, operasi kanker rektum dapat dilakukan dengan pendekatan minimal invasif menggunakan da Vinci Xi Robotic-Assisted Surgery. Teknologi tersebut memungkinkan dokter melakukan tindakan melalui sayatan yang lebih kecil dan mendukung proses pemulihan pasien.

Menurut Dr. dr. Errawan Ramawitana Wiradisuria, Sp.B-KBD, M.Kes, dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, tujuan utama operasi kanker rektum adalah mengangkat kanker secara optimal sekaligus mempertahankan fungsi anus dan saraf di sekitarnya apabila memungkinkan.

“Pilihan operasi disesuaikan dengan kondisi pasien, termasuk lokasi dan ukuran tumor, stadium kanker, serta respons terhadap terapi sebelum operasi seperti kemoterapi atau radioterapi. Pada pasien yang sesuai untuk operasi minimal invasif, pendekatan robotik dapat menjadi salah satu pilihan dengan mempertimbangkan manfaatnya bagi pasien,” jelas dr. Errawan.

Manfaat Operasi Robotik Kanker Rektum

Dr. Errawan menjelaskan, pendekatan robotik sebagai teknik minimal invasif dapat memberikan sejumlah manfaat bagi pasien. Di antaranya sayatan yang lebih kecil, nyeri yang lebih minimal, serta masa rawat inap yang lebih singkat.

“Operasi robotik dapat memberikan manfaat, seperti sayatan yang lebih kecil, minim nyeri, serta masa rawat inap lebih singkat. Pendekatan ini juga dapat mengurangi kebutuhan untuk beralih ke operasi terbuka serta membantu mempertahankan fungsi buang air kecil, seksual, dan buang air besar setelah operasi,” terangnya.

Teknologi robotik juga membantu dokter melakukan tindakan pada area panggul yang sempit. Sistem tersebut menyediakan visualisasi tiga dimensi dan instrumen fleksibel dengan kendali gerakan yang presisi serta fitur filtrasi tremor.

“Dengan kendali dokter selama operasi, teknologi robotik membantu menjangkau area panggul yang sempit dengan visualisasi 3D dan instrumen yang fleksibel dengan ketepatan gerakan, dan menghilangkan tremor (filtrasi tremor), yang mendukung pemisahan jaringan secara lebih terkontrol, termasuk di sekitar saraf yang perlu dipertahankan,” ungkap dr. Errawan.

Ia menegaskan, seluruh gerakan selama operasi tetap dikendalikan oleh dokter. Teknologi robotik berperan membantu meningkatkan kontrol dan ketepatan tindakan.

Berpotensi Mempertahankan Fungsi Anus

Teknologi robotik juga dapat mendukung upaya dokter mempertahankan fungsi anus, termasuk pada pasien dengan tumor yang berada di bagian rektum sangat rendah.

Pada kasus tertentu, setelah tumor diangkat, dokter dapat menyambungkan kembali usus ke bagian bawah rektum atau anus. Untuk melindungi sambungan tersebut, dokter dapat membuat stoma atau saluran pembuangan feses sementara melalui dinding perut dalam operasi yang sama.

“Setelah sambungan usus pulih, stoma dapat ditutup melalui operasi berikutnya sehingga pasien dapat kembali buang air besar melalui anus,” jelas dr. Errawan.

Tidak Semua Pasien Cocok

Meski memiliki sejumlah manfaat, operasi robotik tidak otomatis menjadi pilihan untuk seluruh pasien kanker rektum. Penentuan metode operasi memerlukan pemeriksaan dan penilaian kondisi pasien secara menyeluruh.

“Pemeriksaan dapat meliputi kolonoskopi untuk melihat kondisi bagian dalam usus, MRI panggul dan atau CT Scan Abdomen untuk mengetahui lokasi dan luas tumor, serta kondisi organ lain dan kemungkinan penyebaran penyakit,” terang dr. Errawan.

Pada tumor yang berisiko tinggi, sumbatan usus akut, atau kebocoran usus akibat kanker, operasi terbuka dapat lebih dipertimbangkan. Dalam kondisi tertentu, pemasangan stoma permanen juga dapat menjadi pilihan yang dinilai aman secara medis.

Karena kompleksitas penanganannya, kanker rektum idealnya ditangani melalui pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter bedah digestif, hematologi-onkologi medik, radiologi, radioterapi, patologi anatomi, serta dokter lain sesuai kebutuhan pasien.

Perkembangan teknologi bedah memungkinkan sejumlah tindakan kompleks dilakukan dengan pendekatan minimal invasif, termasuk operasi robotik untuk kanker rektum.

Mayapada Hospital Jakarta Selatan menyediakan teknologi da Vinci Xi Robotic-Assisted Surgery untuk mendukung tindakan bedah secara presisi dan terarah sesuai kebutuhan pasien. Teknologi tersebut melengkapi layanan Oncology Center Mayapada Hospital Jakarta Selatan untuk penanganan kasus kanker dengan dukungan tim dokter multidisiplin.

Untuk konsultasi penanganan kanker, masyarakat dapat menghubungi Call Center 150770 atau WhatsApp 0817-17-150770. Dalam kondisi gawat darurat, layanan Emergency Call dapat dihubungi melalui 150990 atau tombol emergency call pada aplikasi MyCare.(*)

Editor : Cipi Ckandina
Robotik Rektum kanker operasi