Bela Negara di Era Global, Rektor UI Tekankan Pentingnya SDM Unggul

JawaPos • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 18:20 WIB

 

Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU, saat menjadi narasumber pada Seminar Nasional Bela Negara yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Nasional Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (DPN IARMI) di IPDN Kampus Cilandak, Jakarta, Sabtu (26/9). (Ist).
Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU, saat menjadi narasumber pada Seminar Nasional Bela Negara yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Nasional Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (DPN IARMI) di IPDN Kampus Cilandak, Jakarta, Sabtu (26/9). (Ist).

batampos – Ketahanan bangsa di tengah ketidakpastian global tidak lagi cukup ditopang kekuatan fisik. Kualitas sumber daya manusia (SDM) serta kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor yang semakin menentukan daya tahan dan daya saing suatu negara.

Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU, saat menjadi narasumber Seminar Nasional Bela Negara yang digelar Dewan Pimpinan Nasional Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (DPN IARMI) di IPDN Kampus Cilandak, Jakarta, Sabtu (26/9).

Seminar bertajuk “Bela Negara dan Pengabdian Generasi Muda untuk Indonesia” tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pelantikan Pengurus, Rapat Kerja Nasional, dan Seminar Nasional DPN IARMI yang berlangsung pada 25–27 September 2026.

Kegiatan tersebut menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, Wakil Menteri Dalam Negeri Komjen. Pol. (Purn.) Akhmad Wiyagus sebagai keynote speaker, serta sejumlah narasumber dari unsur pemerintah dan perguruan tinggi, termasuk Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, Ph.D.

Peserta seminar terdiri atas delegasi IARMI dari berbagai provinsi, alumni Resimen Mahasiswa, mahasiswa, serta mitra strategis organisasi.

Dalam paparannya yang bertajuk “Membangun Ekosistem SDM Unggul untuk Memperkuat Ketahanan dan Daya Saing Bangsa”, Prof. Heri memetakan empat tantangan strategis yang dihadapi Indonesia.

Pertama, ketidakpastian ekonomi yang berdampak pada rantai pasok serta harga energi dan komoditas. Kedua, dinamika geopolitik dan perang dagang yang memengaruhi keamanan energi. Ketiga, perubahan iklim yang mendorong kebutuhan transisi menuju energi bersih. Keempat, persaingan talenta global, khususnya di bidang kecerdasan artifisial, sains data, dan keamanan siber.

Menurut Prof. Heri, perubahan teknologi dan pasar yang berlangsung cepat membutuhkan strategi adaptif serta respons yang sigap.

“Medan bela negara hari ini juga berada di ruang kelas, laboratorium, dan pusat inovasi. Persaingan antarbangsa pada dasarnya adalah persaingan talenta. Karena itu, membangun SDM unggul bukan semata agenda pendidikan, melainkan agenda ketahanan nasional,” ujar Prof. Heri.

Rektor UI juga mengajak peserta melihat perjalanan sejumlah negara yang merdeka dalam periode berdekatan dengan Indonesia dan memiliki titik awal relatif serupa, seperti Tiongkok dan India.

Dari pengalaman negara-negara tersebut, ia menyoroti sejumlah pelajaran, antara lain pentingnya visi pembangunan jangka panjang yang dijaga secara konsisten, investasi pada pendidikan tinggi khususnya bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM), keberpihakan terhadap riset dan inovasi, pemanfaatan pasar domestik, serta kemampuan menarik diaspora untuk kembali berkontribusi membangun negeri.

Indonesia, lanjutnya, juga pernah menunjukkan kapasitas anak bangsa melalui pengembangan pesawat N-250 Gatotkaca yang digagas B.J. Habibie dan melakukan penerbangan perdana pada 10 Agustus 1995.

Namun, program strategis tersebut terhenti setelah krisis ekonomi 1998. Menurut Prof. Heri, pengalaman itu menunjukkan bahwa guncangan ekonomi dan geopolitik dapat mengubah arah pengembangan sains dan teknologi suatu bangsa.

“Kita pernah membuktikan bahwa putra-putri Indonesia mampu merancang dan menerbangkan pesawatnya sendiri. Kapasitas itu ada. Yang perlu kita jaga bersama adalah kesinambungan: visi yang konsisten, ekosistem yang kokoh, dan talenta yang terus tumbuh, sehingga program strategis bangsa tetap bertahan menghadapi guncangan,” tuturnya.

Sebagai langkah ke depan, Prof. Heri menekankan pentingnya sinergi multipihak. Model triple helix yang menghubungkan pemerintah, perguruan tinggi, dan industri, menurut dia, perlu dikembangkan menjadi hexa helix dengan melibatkan masyarakat, media, dan aspek lingkungan.

Ia mencontohkan ekosistem inovasi Silicon Valley di Amerika Serikat yang berkembang dari perpaduan universitas riset, perusahaan teknologi, dan dukungan kebijakan pemerintah.

Contoh lainnya adalah program bioetanol Brasil yang memadukan riset universitas, adopsi industri energi, regulasi transisi energi, pelatihan petani, kampanye publik, serta kebijakan keberlanjutan lingkungan.

Menutup paparannya, Rektor UI mengaitkan pesan tersebut dengan semboyan Resimen Mahasiswa, Widya Castrena Dharma Siddha.

“Semangat pengabdian melalui ilmu sejalan dengan panggilan perguruan tinggi. UI berkomitmen menjadi bagian dari ekosistem itu, dengan menyiapkan talenta, menghasilkan riset yang menjawab kebutuhan bangsa, dan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bersama pemerintah, industri, dan masyarakat. Generasi muda yang menguasai ilmu dan teknologi adalah garda terdepan bela negara hari ini,” pungkasnya.(*)

Editor : Cipi Ckandina
Era AI global Bela Febrie Adriansyah Negara