Danantara Susun Ulang BUMN Karya, PTPP-ADHI Jadi Prioritas

JawaPos • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 21:15 WIB
Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria, kepada wartawan usai acara Executive Breakfast Meeting (EBM) seri ke-6 bertajuk
Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria, kepada wartawan usai acara Executive Breakfast Meeting (EBM) seri ke-6 bertajuk 'Dua Tahun Danantara' di Jakarta Selatan, Jumat (2/10)/(JawaPos)

batampos - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memprioritaskan proses merger sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya. Empat perusahaan yang didahulukan yakni PT PP Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Brantas Abipraya, dan PT Nindya Karya.

Sementara itu, Danantara juga melakukan restrukturisasi terhadap PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT). Proses merger kedua perusahaan tersebut ditargetkan menyusul setelah restrukturisasi selesai.

"Bahwa merger PTPP, Adhi Karya, kemudian Brantas Abipraya dan Nindya Karya, ini akan kita selesaikan. Ini yang paling mudah untuk dilakukan mergernya. Sehingga kita mulai melakukan merger ini dulu. Kemudian baru berikutnya perusahaan yang harus kita restrukturisasi. Itu ada WIKA dan Waskita," ujar Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, seusai acara Executive Breakfast Meeting oleh IKA Fikom Unpad di Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Dony menjelaskan, Danantara akan fokus menyelesaikan proses merger empat BUMN Karya tersebut terlebih dahulu. Setelah itu, perhatian akan diarahkan pada perusahaan yang membutuhkan proses restrukturisasi lebih kompleks, terutama WIKA dan Waskita.

Menurutnya, WIKA dan Waskita membutuhkan sejumlah langkah penataan, termasuk optimalisasi atau investasi aset serta penurunan beban utang.

"Terutama sekali WIKA dan Waskita. Kalau yang PT Hutama Karya, mereka relatively sehat. Jadi hanya WIKA, Waskita yang akan menjadi persoalan," ujar Dony.

Empat Skema Penataan BUMN

Dony mengatakan, Danantara saat ini melakukan penataan terhadap perusahaan-perusahaan BUMN melalui empat skema, yakni penutupan atau likuidasi, divestasi, konsolidasi, dan restrukturisasi.

Untuk perusahaan yang masuk dalam skema restrukturisasi, langkah yang dilakukan dapat berupa penambahan ekuitas, injeksi aset, maupun restrukturisasi pinjaman.

"Ini sudah selesai kita tentukan, sehingga harapannya yang selalu disampaikan oleh Bapak Presiden (Prabowo Subianto), kita harapkan akhir tahun ini tinggal hanya 200 perusahaan saja yang kita kelola," ujar Dony.

Sebelumnya, Danantara memang tengah menjalankan program perampingan jumlah entitas BUMN. Pada Juni 2026, Dony menyebut jumlah entitas BUMN ditargetkan berkurang dari sekitar 1.077 menjadi sekitar 200–300 perusahaan pada 2026.

Konsolidasi BUMN Asuransi

Selain sektor konstruksi, Danantara juga melakukan konsolidasi terhadap perusahaan-perusahaan BUMN di sektor asuransi.

Dony menargetkan konsolidasi perusahaan asuransi milik negara dapat rampung pada akhir 2026. Konsolidasi tersebut mencakup perusahaan asuransi jiwa, asuransi umum, dan asuransi kredit, termasuk perusahaan asuransi berbasis syariah.

Sebelumnya, Danantara menyatakan konsolidasi tersebut diarahkan untuk menyederhanakan struktur perusahaan asuransi BUMN sekaligus memperkuat integrasi bisnis dan permodalan.(*)

Editor : Cipi Ckandina
Danantara BUMN Susun Prioritas