Kearifan Lokal untuk Ketahanan Pangan, Masyarakat Badui Mulai Tanam Padi Huma

JawaPos • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 22:00 WIB
Ratusan petani Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, mulai melaksanakan "ngaseuk" atau menanam padi huma secara serentak. (ANTARA)
Ratusan petani Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, mulai melaksanakan "ngaseuk" atau menanam padi huma secara serentak. (ANTARA)

batampos - Ratusan petani Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, mulai melaksanakan tradisi "ngaseuk" atau menanam padi huma secara serentak di ladang. Penanaman dilakukan mengikuti kalender adat untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menopang pendapatan ekonomi masyarakat.

Gerakan penanaman padi huma secara serentak tersebut dilaksanakan di Tanggungan Anyar Palima dan melibatkan sekitar 300 petani Badui.

"Kami berharap menanam padi huma tumbuh subur dan bisa dipanen April 2027," kata Tetua Adat Badui yang juga Kepala Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Jaro Oom, di Lebak, Minggu (4/10).

Masyarakat Badui melaksanakan ngaseuk secara gotong royong. Tradisi tersebut menjadi bagian dari budaya saling membantu dalam kegiatan bercocok tanam. Gotong royong diperlukan karena pekerjaan menanam padi akan membutuhkan waktu lebih lama jika dilakukan secara individual.

Jaro Oom mengatakan jumlah penduduk Badui saat ini tercatat 11.620 jiwa. Mereka terdiri dari 5.870 laki-laki dan 5.570 perempuan. Sebagian besar masyarakat Badui menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian, terutama dengan bercocok tanam di ladang.

Setelah menanam padi huma, masyarakat Badui juga menanam pisang, jagung, aneka sayuran, cabai, hingga tanaman keras seperti albasia.

Sistem tumpang sari yang diterapkan dalam satu kawasan tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh pendapatan dari berbagai jenis tanaman. Masa panen setiap tanaman pun bervariasi, mulai dari tiga bulan, enam bulan, 12 bulan, hingga lima tahun.

"Kami turun-temurun menanam padi huma, hortikultura dan palawija di lahan darat tidak menggunakan pupuk kimia," kata Jaro Oom.

Menurutnya, lahan yang digunakan untuk gerakan perdana ngaseuk kali ini mencapai satu hektare dan proses penanaman dapat diselesaikan dalam waktu sekitar empat jam.

Para petani mulai menanam padi pada awal Oktober 2026, bertepatan dengan mulai turunnya hujan. Kondisi tersebut diharapkan mendukung pertumbuhan tanaman padi hingga masa panen.

"Kami minta petani lainnya bisa melakukan ngaseuk padi huma, ditargetkan hingga pertengahan Oktober 2026 semua sudah ditanam," ujarnya.

Salah seorang petani Badui, Arman, 55, mengatakan kegiatan ngaseuk dilakukan secara gotong royong dengan menggunakan batang kayu berujung runcing untuk membuat lubang pada tanah. Lubang tersebut kemudian digunakan untuk memasukkan gabah.

"Tanaman tersebut nantinya dalam sepekan akan mulai tumbuh, dan dalam enam bulan ke depan sudah bisa dipanen," katanya.

Arman mengatakan dirinya telah bercocok tanam padi huma di ladang sejak dahulu. Kegiatan tersebut merupakan warisan sekaligus amanat leluhur dan tetua adat yang terus dijalankan masyarakat Badui.

Selain padi huma, ia juga menanam palawija dan tanaman hortikultura dengan sistem tanam terpadu dalam satu kawasan.

Menurut Arman, masyarakat Badui bercocok tanam di ladang setahun sekali sesuai dengan ketentuan adat. Penanaman dilakukan secara gotong royong dan berpindah-pindah.

"Kami menanam padi huma, hortikultura dan palawija menjadikan andalan ketahanan pangan keluarga dan menghasilkan pendapatan ekonomi," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan pihaknya mendorong petani Badui untuk terus meningkatkan produksi pangan. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan pangan sekaligus mendukung pendapatan keluarga.

Ia menyebut masyarakat Badui saat ini telah mampu mencapai swasembada pangan. Cadangan pangan masyarakat bahkan disebut dapat memenuhi kebutuhan hingga 50 tahun ke depan melalui rumah pangan atau "leuit".

"Kita mengapresiasi hingga saat ini belum ditemukan masyarakat Badui mengalami kerawanan pangan, karena hasil panen padi mereka tidak dijual," katanya.(*)

Editor : Cipi Ckandina
Badui kearifan lokal lokalisasi pangan