Biomassa untuk Cofiring Masih Kurang, PLN EPI Kembangkan Program Biodes

JawaPos • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 22:20 WIB
Ketersediaan biomassa berbasis limbah siap pakai memiliki keterbatasan dari sisi volume dan keberlanjutan pasokan. (ANTARA)
Ketersediaan biomassa berbasis limbah siap pakai memiliki keterbatasan dari sisi volume dan keberlanjutan pasokan. (ANTARA)

batampos - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengembangkan ekosistem biomassa berbasis masyarakat melalui inovasi Biomassa dari Desa atau Biodes. Program tersebut menjadi salah satu upaya PLN EPI menjaga keberlanjutan pasokan biomassa untuk mendukung program cofiring pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan mengatakan Biodes mengintegrasikan potensi biomassa desa, pertanian terpadu, pemberdayaan masyarakat, dan rantai pasok.

"Inovasi Biodes merupakan wujud komitmen PLN EPI dalam membangun ekosistem biomassa yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan," ujar Mamit, dikutip Minggu (4/10).

Menurutnya, integrasi potensi biomassa desa, pertanian terpadu, serta rantai pasok diharapkan mampu menghasilkan pasokan biomassa yang berkualitas dan berkelanjutan. Di sisi lain, masyarakat desa juga dapat berperan lebih besar dalam mendukung transisi energi Indonesia.

Biodes dikembangkan untuk mengoptimalkan limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan, termasuk tanaman energi yang dibudidayakan di lahan kering atau marjinal.

Melalui pendekatan tersebut, desa tidak hanya menjadi sumber bahan baku, tetapi juga bagian dari ekosistem produksi dan rantai pasok biomassa. Ekosistem tersebut melibatkan petani, BUMDes, pemasok, hingga pembangkit.

Inovasi Biodes telah dipaparkan tim PLN EPI yang terdiri dari Khalda Az Zahra, Pandu Trijaka, dan Nurlita Dewi Utami dalam sesi Knowledge Hub Enlit Asia MKI Electricity Connect 2026.

Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2022 yang digunakan dalam pengembangan Biodes, ketersediaan biomassa berbasis limbah siap pakai masih menghadapi keterbatasan dari sisi volume dan keberlanjutan pasokan.

Potensi biomassa tersebut diperkirakan mencapai titik jenuh sekitar 2,4 juta ton. Sementara itu, masih terdapat kesenjangan pasokan sekitar 7,6 juta ton untuk memenuhi target cofiring dalam RUPTL 2025-2034.

Mamit mengatakan PLN EPI mengembangkan enam pendekatan utama melalui Biodes. Pendekatan tersebut meliputi optimalisasi potensi biomassa desa, penanaman tanaman energi dengan pola tumpang sari, pengembangan rantai pasok berbasis spoke-hub, peningkatan kualitas dan kuantitas biomassa, digitalisasi berbasis marketplace, serta integrasi desa dengan industri.

"Pendekatan ini diarahkan untuk membangun rantai pasok yang lebih efisien sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam ekosistem biomassa," katanya.

Officer Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI Khalda Az Zahra mengatakan Biodes tidak hanya mengandalkan biomassa dari limbah yang telah tersedia. Program tersebut juga mendorong pengembangan tanaman energi secara produktif dan terintegrasi dengan komoditas pangan.

"Tidak hanya mengandalkan limbah yang sudah tersedia, Biodes juga mendorong penanaman tanaman energi secara tumpang sari dengan tanaman pangan, sehingga aspek keberlanjutan pasokan biomassa dapat berjalan beriringan dengan manfaat ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat desa," ujarnya.

Implementasi awal Biodes dikembangkan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sejak 2023 dengan memanfaatkan lahan seluas 106 hektare.

Program tersebut dilaksanakan secara bertahap, mulai dari survei dan sosialisasi, penerapan sistem pertanian terpadu, panen dan pengumpulan hasil di subhub, produksi biomassa melalui BUMDes, hingga pengiriman biomassa ke PLTU Adipala, Cilacap.

Ekosistem tersebut kemudian diperkuat melalui digitalisasi untuk mengintegrasikan rantai pasok biomassa.

Melalui model subhub dan hub, biomassa dari berbagai sumber di tingkat desa dikumpulkan, diolah, dan dikonsolidasikan sebelum disalurkan ke pembangkit. Model tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi logistik sekaligus menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pasokan biomassa.

Menurut Mamit, pengembangan Biodes diproyeksikan menghasilkan tambahan pasokan biomassa hingga 15.000 ton per tahun. Program ini juga ditargetkan melibatkan 330 petani, memanfaatkan 106 hektare lahan marjinal, serta menciptakan 25 lapangan kerja baru.

Dari sisi ekonomi, program tersebut diproyeksikan memberikan tambahan pendapatan bagi petani kecil hingga Rp100.000 per hari per pekerja.

Sementara dari aspek lingkungan, pemanfaatan biomassa melalui Biodes diproyeksikan berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca sekitar 6.750 ton CO2e.

Ke depan, roadmap Biodes mencakup pengembangan ke desa-desa di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Program tersebut juga akan dilanjutkan bersama mitra pemasok di luar Pulau Jawa serta diperluas ke berbagai lokasi PLTU yang menerapkan cofiring.

Secara bertahap, Biodes ditargetkan dapat dikembangkan hingga 100 desa untuk memperkuat ekosistem pasokan biomassa sekaligus membuka peluang pengembangan bisnis beyond kWh.(*)

Editor : Cipi Ckandina
Epic Fury Biomassa Cofiring pln