batampos - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menargetkan Indonesia menjadi negara dengan produksi rumput laut terbesar di dunia.
Untuk mencapai target tersebut, Sarmuji memastikan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) segera mengambil langkah untuk mempersiapkan ekosistem industri rumput laut nasional.
"Insya Allah jajaran Kemenperin siap mengambil langkah-langkah untuk mempersiapkan ekosistem industri rumput laut ini sebagai satu potensi baru yang membanggakan kita semua. Mudah-mudahan ini menjadi langkah penting agar produksi rumput laut Indonesia dan seluruh hilirisasinya bisa menjadikan produksi rumput laut Indonesia nomor satu di dunia," ujar Sarmuji dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (7/10).
Menurut Sarmuji, Kemenperin memperkuat pengembangan industri rumput laut nasional sebagai bagian dari agenda industrialisasi dan hilirisasi. Langkah tersebut didorong besarnya potensi sumber daya rumput laut Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah.
Pengembangan komoditas tersebut diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus membangun rantai nilai industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Upaya ini sejalan dengan Indonesia Seaweed Development and Action Plan (ISDAP) 2026–2030 yang diinisiasi dan dikoordinasikan Kementerian PPN/Bappenas.
"Bagi Kementerian Perindustrian, inisiatif ini merupakan langkah penting untuk memperkuat sinergi pembangunan rumput laut nasional, khususnya dalam industrialisasi, hilirisasi, penciptaan nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Sarmuji mengatakan, pengembangan industri rumput laut juga relevan dengan kinerja sektor manufaktur nasional yang terus tumbuh positif. Pada triwulan II 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.
Pada periode yang sama, sektor tersebut menyumbang Rp1.102,88 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sekitar 38,98 persen terhadap realisasi investasi nasional, serta sekitar 82,40 persen terhadap ekspor nasional. Sebanyak 14 dari 15 subsektor industri pengolahan nonmigas juga mencatat pertumbuhan positif.
Berdasarkan data Manufacturing Value Added (MVA) 2025 yang dirilis Bank Dunia, nilai tambah industri manufaktur Indonesia mencapai USD275,61 miliar. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia dan pertama di Asia Tenggara.
Rumput Laut Punya Potensi Hilirisasi
Sarmuji menilai industri makanan dan minuman memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Pada semester I 2026, industri makanan dan minuman menyumbang 41,86 persen terhadap PDB industri nonmigas dan 7,16 persen terhadap PDB nasional, dengan pertumbuhan mencapai 6,77 persen.
Dalam pengembangannya, rumput laut menjadi salah satu komoditas yang berpotensi besar diolah menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah.
"Rumput laut memiliki peluang pemanfaatan yang luas, tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bahan baku berbagai produk bernilai tambah. Produk turunannya antara lain pangan, agar dan karagenan, hingga bahan untuk industri farmasi, kosmetik, nutraceutical, biomaterial, dan bioplastik," ucapnya.
Karena itu, peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi dan diversifikasi produk menjadi bagian penting dalam pengembangan industri rumput laut.
Menurut Sarmuji, pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas industri, meningkatkan inovasi, membuka pasar baru, serta meningkatkan daya saing produk Indonesia.
Pada saat yang sama, aspek keberlanjutan juga perlu diperhatikan, termasuk ketersediaan bahan baku, kualitas lingkungan, efisiensi sumber daya, serta manfaat bagi masyarakat di sentra produksi.
Arah pengembangan tersebut telah dimasukkan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2026–2045 yang saat ini dalam proses finalisasi. Strategi pengembangannya memperhatikan kesinambungan rantai pasok mulai dari bahan baku hingga produk hilir.
"Pengembangan industri tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan sentra produksi bahan baku di hulu serta industri pengguna dan pasar di hilir," ungkapnya.
Bangun Ekosistem Industri Rumput Laut
Sarmuji mengatakan pembangunan ekosistem industri rumput laut membutuhkan sinergi antara program pemerintah, investasi swasta, pembiayaan, riset, inovasi, teknologi, serta kerja sama internasional.
Sinergi tersebut penting untuk membangun rantai nilai industri yang memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional.
Melalui perannya dalam pengembangan industri, peningkatan nilai tambah, perluasan akses pasar, dan ekspor, Kemenperin mendorong industrialisasi rumput laut tidak hanya berorientasi pada pengolahan komoditas.
"Namun juga membangun rantai nilai dan mengoptimalkan potensi ekonomi biru," ujarnya.
Ekonomi biru merupakan konsep pembangunan ekonomi yang memperhatikan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian ekosistem.
Sarmuji berharap ISDAP 2026–2030 dapat menjadi landasan bagi langkah bersama yang lebih terarah dan konkret dalam membangun industri rumput laut nasional.
"Kementerian Perindustrian siap berkontribusi dalam memperkuat hilirisasi, nilai tambah, daya saing, dan akses pasar, serta terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan," pungkasnya. (*)
Editor : Cipi Ckandina