Kebutaan akibat Katarak Masih Tinggi, 101 Pasien Dapat Operasi Gratis

JawaPos • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 21:25 WIB
101 pasien mendapatkan operasi katarak gratis sekaligus dalam rangka memperingati World Sight Day 2026 di JEC Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (8/10)/(Ist)
101 pasien mendapatkan operasi katarak gratis sekaligus dalam rangka memperingati World Sight Day 2026 di JEC Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (8/10)/(Ist)

batampos - Kasus kebutaan akibat katarak di Indonesia masih menjadi perhatian. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 600 ribu hingga 650 ribu kasus kebutaan akibat katarak sepanjang 2025.

Katarak juga menjadi penyebab utama kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun, dengan proporsi mencapai 81,2 persen.

Secara global, World Health Organization (WHO) memperkirakan katarak memengaruhi lebih dari 94 juta orang. Hampir separuh orang yang mengalami kebutaan terkait katarak masih membutuhkan akses terhadap tindakan operasi.

Di Indonesia, kebutuhan layanan kesehatan mata juga meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat proporsi penduduk lanjut usia mencapai 11,97 persen pada 2025.

Di tengah kebutuhan penanganan yang tinggi, program operasi katarak gratis digelar untuk 101 pasien dalam rangka memperingati World Sight Day 2026.

Program tersebut dilaksanakan secara bertahap hingga Desember 2026 di 16 lokasi yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.

Program ini diinisiasi Gerakan Matahati bersama JEC Eye Hospitals and Clinics, Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ), dan Lions Club Indonesia. Rangkaian operasi dimulai melalui seremoni kick-off di RS Mata JEC @ Kedoya, Kamis (8/10).

Gerakan Matahati merupakan gerakan kemanusiaan di bidang sosial kesehatan mata yang diprakarsai Pandji Wisaksana dan diresmikan pada 2008.

Sejak awal, Matahati menghimpun dukungan mitra, donatur, serta tenaga medis untuk membantu masyarakat mendapatkan akses terhadap penanganan gangguan penglihatan.

Program operasi katarak tersebut dilaksanakan sebagai satu rangkaian nasional di jaringan JEC Eye Hospitals and Clinics. Penerima manfaat menjalani alur pelayanan yang terkoordinasi, mulai dari penjaringan dan skrining, tindakan operasi, hingga pemantauan pascaoperasi.

Alokasi awal mencakup 101 pasien di 16 lokasi jaringan JEC yang tersebar di Pulau Jawa, Bali, hingga Sulawesi.

Kolaborasi Perluas Akses Operasi Katarak

Pelaksanaan program menggabungkan dukungan sosial dan layanan medis. Gerakan Matahati berperan menggerakkan program serta menghimpun dukungan mitra dan donatur, sedangkan JEC Eye Hospitals and Clinics menyediakan dokter spesialis mata, perawat, tenaga kesehatan, fasilitas pemeriksaan, hingga ruang operasi.

Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiarjo, SpM(K), PhD, mengatakan pemanfaatan jaringan JEC Group penting untuk mendekatkan layanan kesehatan mata kepada masyarakat di berbagai wilayah.

“Katarak dapat berdampak besar pada kemandirian seseorang karena penglihatan sangat menentukan aktivitas sehari-hari. Karena itu, akses terhadap penanganan yang tepat perlu semakin dekat dengan masyarakat,” ujar Prof. Tjahjono.

Perluasan akses layanan tersebut berjalan beriringan dengan peran Gerakan Matahati dalam menghimpun dukungan sosial secara berkelanjutan.

Ketua Pelaksana Matahati, Wandi S. Brata, mengatakan perjalanan Matahati menunjukkan bahwa kolaborasi lintas pihak dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami telah membantu memfasilitasi 27.500 operasi katarak tanpa biaya. Program ini melanjutkan perjalanan tersebut sekaligus menjadi penghormatan atas 101 tahun Bapak Pandji Wisaksana. Bagi kami, semangat yang beliau rintis akan terus berarti selama dapat diteruskan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Wandi.

Program tersebut juga memiliki makna khusus bagi keluarga pendiri Gerakan Matahati. Perwakilan keluarga almarhum Pandji Wisaksana sekaligus wakil dari Matahati, Satria Laksmana Pandji Stephen, mengatakan angka 101 menjadi penghubung antara perjalanan hidup Pandji Wisaksana dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

“Karena itu, 101 tahun perjalanan beliau kami wujudkan melalui manfaat bagi 101 pasien. Kami berharap semangat berbagi yang beliau rintis terus hidup melalui Gerakan Matahati dan tetap relevan bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

Standar Medis Tetap Diterapkan

Direktur RS Mata JEC @ Kedoya sekaligus Ketua Katarak dan Bedah Refraktif JEC Group, Dr. dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM(K), menegaskan perluasan akses layanan tetap dilakukan dengan standar klinis yang sama bagi setiap pasien.

Menurut dia, pasien program bakti sosial tetap menjalani pemeriksaan dan penanganan berdasarkan indikasi medis.

“Setiap pasien tetap melalui pemeriksaan yang komprehensif, penentuan tindakan berdasarkan indikasi medis, operasi oleh dokter spesialis mata, penggunaan teknologi yang sama, termasuk lensa tanam intraokular atau IOL sesuai kebutuhan pasien, serta pemantauan pascaoperasi,” ujar dr. Setiyo.

Selain memastikan tindakan medis berjalan sesuai standar, program tersebut juga membawa pesan mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata.

Kepala Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ) sekaligus Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Sharita R. Siregar, SpM(K), mengingatkan masyarakat untuk mengenali perubahan penglihatan dan melakukan pemeriksaan mata ketika mulai mengalami keluhan.

“Perubahan penglihatan sering dianggap sebagai bagian biasa dari pertambahan usia, padahal penyebabnya perlu dipastikan melalui pemeriksaan mata. Pemeriksaan yang dilakukan lebih awal membantu dokter menentukan penanganan yang sesuai,” ujar dr. Sharita.

Rangkaian operasi katarak bagi 101 pasien tersebut ditargetkan selesai pada Desember 2026.

Melalui kolaborasi Gerakan Matahati, JEC Eye Hospitals and Clinics, LEBJ, dan Lions Club Indonesia, program ini diharapkan dapat memperluas akses penanganan katarak sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan mata. (*)

Editor : Cipi Ckandina
Kebutaan Katarak Operasi Gratis pasien