batampos – Wacana pemerintah menggratiskan biaya pendidikan tinggi mendapat sambutan positif dari mahasiswa. Mereka berharap kebijakan tersebut benar-benar direalisasikan, bukan sekadar menjadi janji tanpa kepastian.
Kuliah gratis dinilai dapat meringankan beban ekonomi keluarga, terutama bagi mahasiswa yang harus membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Iuran Pengembangan Institusi (IPI) melalui jalur mandiri.
Adrian Kenzo Satriawan, mahasiswa Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, kebijakan pendidikan tinggi gratis dapat membantu mengurangi beban orang tua dalam membiayai kuliah.
“Jika benar-benar ada biaya kuliah gratis dari pemerintah, jelas senang dong. Alhamdulillah bisa membantu meringankan beban orang tua saya. Karena UKT lumayan mahal juga. Kasihan ibu saya,” ujar Adrian saat dikonfirmasi JawaPos.com, Rabu (7/10).
Adrian mengungkapkan, kondisi ekonomi keluarga sempat membuatnya mempertimbangkan untuk tidak melanjutkan kuliah di Unair, meskipun telah dinyatakan lolos seleksi.
Ibunya yang bekerja sebagai pengemudi taksi online tetap berusaha agar Adrian bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
“Sebetulnya kemarin saya sempat tidak masukin (melanjutkan kuliah), meski sudah lolos tes, tetapi ibu mengusahakan agar saya tetap bisa kuliah di Unair. Karena kata ibu saya, masuk ke Unair itu susah,” katanya.
Bagi Adrian, pendidikan tinggi tetap penting meskipun tidak menjamin seseorang akan menjadi kaya. Pendidikan dinilainya sebagai bekal menghadapi masa depan sekaligus membuka wawasan yang lebih luas.
“Ibu punya prinsip, meski kuliah tidak menjamin kita kaya, tetapi pendidikan di perguruan tinggi menjadi bekal untuk masa depan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Tapi dengan kita mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi, bisa memberikan pandangan lebih luas pada kita,” tuturnya.
Karena itu, Adrian berharap rencana kuliah gratis tidak berhenti sebagai wacana. Ia ingin kebijakan tersebut benar-benar diwujudkan agar mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi memiliki kesempatan lebih besar untuk mengenyam pendidikan tinggi.
“Semoga pendidikan gratis ini tidak sekadar wacana saja atau prank,” kata Adrian.
Mahasiswa Usul Jalur Mandiri PTN Dihapus
Harapan serupa disampaikan Nadia (nama samaran), mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran (Unpad). Ia menilai rencana kuliah gratis perlu dibarengi evaluasi sistem penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi negeri (PTN).
Menurut Nadia, jika pemerintah benar-benar menggratiskan biaya kuliah bagi seluruh mahasiswa PTN, jalur mandiri juga perlu dievaluasi, bahkan dihapus, agar kesempatan mengakses pendidikan tinggi lebih merata.
“Harusnya jalur mandiri tuh ditiadakan. Karena seharusnya namanya juga perguruan tinggi negeri, harusnya memang disupport full sama pemerintah,” ujarnya saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (9/10).
Nadia memahami beratnya biaya kuliah melalui jalur mandiri karena mengalaminya sendiri. Kondisi ekonomi keluarganya berubah setelah sang ayah jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia.
Saat mendaftar melalui jalur mandiri, Nadia mengajukan pembayaran IPI secara bertahap dalam dua termin. Namun, situasi keluarga berubah ketika ayahnya, yang menjadi satu-satunya pencari nafkah, harus mengambil cuti selama tiga bulan tanpa menerima gaji karena sakit.
Sekitar setahun kemudian, ayahnya meninggal dunia. Keluarga Nadia pun kehilangan sumber penghasilan, sementara kewajiban membayar biaya kuliah masih berjalan.
“Jadi sama sekali nggak ada penghasilan, sedangkan saya pun masih ada cicilan buat IPI itu,” tuturnya.
Nadia mengaku telah mengajukan keringanan biaya kepada pihak kampus agar bisa melanjutkan pendidikan. Namun, menurut dia, keringanan yang diberikan hanya sekitar 25 persen dari UKT, sedangkan tagihan IPI tidak mendapat pengurangan.
Besarnya biaya yang harus ditanggung membuat Nadia kesulitan memenuhi kewajiban kuliah. Mahasiswa semester sembilan itu bahkan harus berulang kali mendatangi kantor program studi hingga rektorat untuk memperjuangkan kelanjutan pendidikannya.
“Setiap semester tuh menurut saya melelahkan banget karena kantor ke prodi, ke pusat, ke rektorat, bolak-balik untuk memperjuangkan pendidikan saya biar tetap lanjut,” katanya.
Pada semester sebelumnya, Nadia masih berusaha melanjutkan kuliah dengan mengajukan pembayaran UKT sesuai kemampuan ekonominya. Namun, permintaan tersebut tidak disetujui pihak kampus sehingga ia terpaksa mengambil cuti.
Di tengah situasi tersebut, Nadia juga harus bekerja sambil berupaya mempertahankan pendidikannya.
“Seharusnya hal-hal seperti itu diperhatikan banget karena ini masalahnya di luar rencana. Kita nggak tahu bakal terjadi seperti ini,” ungkapnya.
Kuliah Gratis Diharapkan Membantu Mahasiswa yang Bekerja
Menurut Nadia, pendidikan gratis sangat penting, terutama bagi mahasiswa yang harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Jika biaya pendidikan ditanggung pemerintah, mahasiswa dapat lebih fokus belajar dan menyelesaikan studi tanpa terus dibayangi persoalan keuangan.
“Penting banget pendidikan itu. Karena saya ngerasain sendiri susahnya pendidikan tanpa adanya biaya. Apalagi kalau sambil kerja, bagi-bagi waktu lagi, bagi pikiran, bagi tenaga, itu juga susah banget,” kata Nadia.
Ia berharap program kuliah gratis nantinya turut memperhatikan mahasiswa yang masuk melalui jalur mandiri. Menurutnya, kemampuan ekonomi keluarga bisa berubah sewaktu-waktu sehingga mahasiswa yang semula mampu membayar biaya pendidikan belum tentu bisa mempertahankannya hingga lulus.
Karena itu, Nadia berharap kebijakan pendidikan tinggi gratis diterapkan secara merata tanpa membedakan jalur masuk. Selain mengevaluasi jalur mandiri, kampus juga perlu memiliki mekanisme keringanan biaya yang lebih responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi mahasiswa.
Dengan kebijakan yang tepat, mahasiswa tidak harus menghadapi risiko tertundanya atau terhentinya pendidikan hanya karena kesulitan membayar biaya kuliah.(*)
Editor : Cipi Ckandina