PLTP Gunung Ungaran Dikembangkan, Air dan Candi Gedong Songo Jadi Perhatian

jpg • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:01 WIB
PLTP Gunung Ungaran, Jawa Tengah (Dok. Kementerian ESDM).
PLTP Gunung Ungaran, Jawa Tengah (Dok. Kementerian ESDM).

batampos - Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran, Jawa Tengah, memasuki tahap awal dengan sejumlah aspek yang perlu dikaji, mulai dari ketersediaan air, kelestarian hutan dan satwa, hingga perlindungan warisan budaya seperti Candi Gedong Songo.

Kajian tersebut dinilai penting agar pemanfaatan energi panas bumi dapat mendukung target Net Zero Emission (NZE) sekaligus memperhatikan kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitar kawasan.

Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development (RESSED) Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia (UI), Ali Ahmudi Achyak, mengatakan panas bumi memiliki keunggulan karena mampu menghasilkan listrik secara relatif stabil dan tidak bergantung pada cuaca maupun pergantian waktu.

“Panas bumi memiliki potensi besar karena mampu menghasilkan listrik secara relatif stabil dan tidak bergantung pada kondisi cuaca maupun pergantian waktu,” kata Ali, Jumat (9/10).

Menurut dia, pembahasan mengenai PLTP Gunung Ungaran tidak cukup hanya berfokus pada potensi energi yang dapat dihasilkan. Kondisi lingkungan, sosial, tata ruang, dan aspek lain yang melekat pada kawasan juga perlu dipahami melalui kajian sebelum proyek memasuki tahapan pengembangan berikutnya.

Ketersediaan Air Jadi Salah Satu Fokus Kajian PLTP

Sumber air menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam rencana pengembangan panas bumi di Gunung Ungaran. Mata air, sungai, sumur, dan sumber air lainnya memiliki peran penting bagi kebutuhan rumah tangga, pertanian, serta keberlangsungan ekosistem.

Ali menjelaskan, kondisi sumber air perlu dipetakan melalui pengumpulan data dasar atau baseline. Data yang dikaji antara lain debit mata air dan sungai, kualitas air, muka air tanah, curah hujan, kondisi hidrogeologi, serta pola pemanfaatan air oleh masyarakat.

Data tersebut diperlukan untuk menggambarkan kondisi awal kawasan sebelum kegiatan berlangsung. Hasilnya juga dapat digunakan sebagai pembanding dalam pemantauan pada tahapan pengembangan selanjutnya.

Dalam operasinya, PLTP membutuhkan pengelolaan air yang terukur untuk mendukung proses pembangkitan. Karena itu, perencanaan pasokan air dan pemantauan kondisi hidrologi menjadi bagian penting dalam pengelolaan proyek.

“Sehingga kontinuitas pasokan air perlu dipastikan melalui pengelolaan yang terukur, pemantauan kondisi hidrologi, serta pemenuhan ketentuan yang berlaku,” katanya.

Menurut Ali, pendekatan berbasis data dapat membantu pembahasan mengenai sumber air dilakukan berdasarkan kondisi aktual, bukan hanya kekhawatiran atau asumsi. Perlindungan sumber air, kata dia, perlu tetap menjadi bagian dari perencanaan pengembangan panas bumi.

Hutan dan Habitat Satwa Perlu Diperhatikan

Selain sumber air, Gunung Ungaran memiliki keanekaragaman tumbuhan dan satwa yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan fasilitas panas bumi.

Pembangunan fasilitas seperti jalan akses, lokasi pengeboran atau well pad, jaringan pipa, dan infrastruktur pendukung memerlukan perencanaan yang mempertimbangkan kondisi tutupan lahan serta habitat di sekitarnya.

Ali mengatakan, informasi mengenai kondisi kawasan menjadi dasar untuk menentukan perencanaan dan penempatan fasilitas. Dengan begitu, kebutuhan infrastruktur dapat dipertimbangkan bersama aspek perlindungan lingkungan.

Pengelolaan kawasan yang terdampak selama pembangunan juga dapat mencakup pemulihan lahan dan revegetasi. Sementara itu, teknologi pengeboran berarah atau directional drilling memberikan fleksibilitas dalam merancang pengeboran berdasarkan kondisi reservoir di bawah permukaan.

Teknologi tersebut membuka ruang bagi perencanaan fasilitas yang lebih adaptif terhadap kondisi kawasan. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan hasil kajian teknis dan lingkungan.

Candi Gedong Songo Masuk Pertimbangan Pengembangan

Gunung Ungaran tidak hanya memiliki potensi energi, tetapi juga nilai sejarah, budaya, dan wisata. Keberadaan Candi Gedong Songo menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pengembangan panas bumi.

Ali menjelaskan, pemetaan kawasan dengan nilai budaya tinggi perlu mempertimbangkan zona inti, zona penyangga, zona pengembangan, serta lokasi fasilitas yang direncanakan.

Kajian yang relevan juga dapat mencakup aspek arkeologi, getaran, visual lanskap, hidrologi, potensi longsor, serta prosedur penanganan temuan arkeologis yang tidak terduga atau chance find procedure.

Melalui kajian dan koordinasi dengan pemangku kepentingan, penentuan lokasi fasilitas diharapkan memiliki dasar informasi yang memadai. Langkah tersebut penting untuk memperhitungkan kebutuhan pengembangan energi sekaligus upaya menjaga warisan sejarah dan budaya.

Bagi masyarakat di sekitar Gunung Ungaran, perhatian terhadap sumber air, hutan, lahan pertanian, kawasan wisata, dan situs budaya merupakan bagian dari kepentingan kawasan secara menyeluruh.

Komunikasi dengan Masyarakat Dinilai Penting

Ali menegaskan, pengembangan panas bumi perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan hasil kajian teknis, kondisi lingkungan, aspek sosial, tata ruang, dan ketentuan yang berlaku.

Pada tahap awal, komunikasi dengan masyarakat menjadi bagian penting untuk membangun pemahaman mengenai rencana pengembangan. Informasi yang jelas mengenai tahapan proyek dan hasil kajian diharapkan membantu masyarakat memahami potensi energi panas bumi sekaligus aspek yang perlu mendapat perhatian.

Pengembangan PLTP Gunung Ungaran pun perlu ditempatkan dalam kerangka pemanfaatan energi yang memperhitungkan kondisi kawasan secara menyeluruh. Dengan kajian, pemantauan, dan komunikasi yang memadai, kebutuhan energi dapat direncanakan bersama upaya menjaga sumber daya alam serta nilai sosial dan budaya di sekitarnya. (*)

Editor : Putut Ariyo
PLTP Gunung Ungaran Energi Panas Bumi Energi Baru Terbarukan Candi Gedong Songo Net Zero Emission