Kabut Asap Ganggu 2.458 Penerbangan di Indonesia

JawaPos • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 14:42 WIB

 

Sejumlah pesawat terparkir di landasan yang diselimuti kabut asap, sementara sebuah pesawat lainnya mengudara di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (14/10). Kabut asap yang melanda Batam, Singapura, dan Malaysia dalam beberapa hari terakhir mengganggu jadwal penerbangan di sejumlah wilayah. Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain
Sejumlah pesawat terparkir di landasan yang diselimuti kabut asap. Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain

batampos - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin mengganggu penerbangan nasional. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat sebanyak 2.458 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak kabut asap selama periode 11 Agustus hingga 17 Oktober 2026.

Gangguan penerbangan terus meluas ke berbagai wilayah, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Kondisi tersebut dipicu penurunan jarak pandang di sejumlah bandar udara akibat sebaran kabut asap.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub per 17 Oktober 2026, jumlah penerbangan terdampak bertambah 437 penerbangan dibandingkan data 13 Oktober 2026 yang mencatat 2.021 penerbangan.

Dari total tersebut, sebanyak 1.080 penerbangan mengalami keterlambatan (delay), 1.324 penerbangan dibatalkan atau ditunda (cancelled/postponed), 22 penerbangan dialihkan (divert), enam penerbangan kembali ke bandara asal (return to base), dan 26 penerbangan dimajukan jadwalnya.

Selama periode 13–17 Oktober 2026, kabut asap terpantau mengganggu ruang udara dan memperpendek jarak pandang di puluhan bandar udara.

Wilayah terdampak meliputi Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat Daya, Papua Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Sumatra Utara, hingga Aceh.

Baca Juga: Asap Karhutla Meluas, Parlemen Malaysia Desak ASEAN Kucilkan Indonesia

Gangguan tidak hanya terjadi pada penerbangan domestik, tetapi juga penerbangan internasional dan rute perintis. Kemenhub mencatat 14 penerbangan internasional dibatalkan, mencakup rute Singapura–Pontianak pergi-pulang (PP) dan Singapura–Palembang PP.

Sementara itu, pada 16 Oktober 2026, sebanyak 22 penerbangan perintis, termasuk dua penerbangan kargo, terpaksa dibatalkan di wilayah kerja Korwil Singkep, Kuala Pembuang, Tanah Merah, dan Gorontalo.

Di luar dampak karhutla, Kemenhub juga mencatat 20 penerbangan berjadwal dalam negeri dibatalkan akibat faktor lain. Penyebabnya antara lain abu vulkanik Gunung Lewotolok dan Gunung Dukono, cuaca buruk, angin kencang, serta perawatan teknis pesawat.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional penerbangan.

“Asap menurunkan jarak pandang di sekitar bandar udara, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan, penundaan, hingga pembatalan penerbangan. Setiap keputusan operasional diambil dengan mengutamakan keselamatan,” ujar Lukman, Minggu (18/10).

Untuk meminimalkan risiko, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menginstruksikan seluruh penyelenggara bandara di wilayah terdampak menerapkan Low Visibility Procedures (LVP) atau prosedur operasional saat jarak pandang rendah bersama AirNav Indonesia dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Bandara juga diminta menerbitkan pemberitahuan kepada penerbang (Notice to Airmen atau NOTAM) serta meningkatkan kesiagaan operasional.

Selain itu, pengelola bandara diimbau mengoptimalkan pelayanan bagi penumpang yang tertahan di terminal, termasuk menyediakan masker dan menyampaikan pembaruan informasi penerbangan secara berkala.

Di sisi lain, dukungan terhadap operasi pemadaman karhutla melalui metode water bombing terus dilakukan. Sepanjang 20 April hingga 16 Oktober 2026, tercatat 5.179 siklus penerbangan (flight cycle) dikerahkan menggunakan 38 pesawat dari 11 operator.

Baca Juga: Kabut Asap Ganggu Penerbangan Hang Nadim, Susi Air Batam–Rengat Batal

Bandara di wilayah terdampak turut mendukung operasi tersebut dengan menyediakan area parkir helikopter dan pesawat pemadam, prioritas slot penerbangan, pasokan bahan bakar, hingga posko pemantauan.

Melalui Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I–X, Kemenhub terus berkoordinasi dengan maskapai, AirNav Indonesia, BMKG, dan instansi terkait untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan.

Masyarakat dan calon penumpang diimbau tetap tenang serta memahami kemungkinan penyesuaian jadwal demi keselamatan penerbangan. Kemenhub juga menyarankan penumpang memeriksa status penerbangan melalui maskapai masing-masing dan memantau prakiraan cuaca sebelum berangkat ke bandara. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
penerbangan nasional kemenhub karhutla kabut asap bandara