Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

76 Indonesian Downhill 2026 Hadir dengan Trek Lebih Ekstrem

Antara • Kamis, 14 Mei 2026 | 15:32 WIB
ilustrasi F. indonesiandownhill.com
ilustrasi F. indonesiandownhill.com

batampos - Kompetisi balap sepeda gunung paling bergengsi di Indonesia, 76 Indonesian Downhill 2026, kembali digelar dengan menghadirkan lintasan yang lebih ekstrem dan menantang guna meningkatkan kualitas rider nasional agar semakin kompetitif di level internasional.

Musim ini, ajang downhill tersebut akan berlangsung dalam tiga seri. Seri pembuka digelar di Bukit Hijau Bike Park, Bantul, Yogyakarta pada 22-24 Mei 2026. Selanjutnya kompetisi berlanjut di Ternadi Bike Park, Kudus, Jawa Tengah pada Agustus dan ditutup di Arjuno Bike Park, Pasuruan, Jawa Timur pada Oktober.

Perwakilan 76 Rider, Agnes Wuisan, mengatakan peningkatan kualitas kompetisi menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem olahraga downhill di Indonesia.

Baca Juga: Imigrasi Tindak 6.779 WNA Sepanjang 2026, Tegaskan Pengawasan Tak Kebobolan

“Pencapaian prestasi atlet harus terus dibarengi dengan peningkatan ekosistem dan standar kualitas kompetisi. Karena itu musim ini kami melakukan sejumlah penyesuaian mulai dari pemilihan lokasi hingga tantangan yang makin ekstrem agar rider Indonesia bisa terus berkembang,” kata Agnes dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Kamis.

Menurut Agnes, peningkatan kualitas lintasan menjadi penting setelah sejumlah atlet downhill Indonesia seperti Rendy Varera Sanjaya dan Riska Amelia mencatat prestasi di SEA Games Thailand 2025.

Salah satu perubahan signifikan musim ini terdapat pada karakter lintasan yang lebih panjang, lebih curam, dan memiliki kecepatan rata-rata lebih tinggi dibanding musim sebelumnya.

Event Director 76 Indonesian Downhill, Aditya Nugraha, menjelaskan panjang lintasan musim ini mencapai minimal 1.600 meter. Angka tersebut meningkat dibanding musim lalu yang berada di kisaran 1.250 meter.

“Karakter lintasan sekarang lebih extreme dan menantang. Trek lebih curam, high speed, dan minim pedaling sehingga rider harus lebih berani mengambil risiko,” ujar Aditya.

Seri pembuka di Bukit Hijau Bike Park juga menjadi perhatian karena untuk pertama kalinya digunakan sebagai arena utama kompetisi, menggantikan Bukit Klangon yang selama ini identik dengan trek lereng Gunung Merapi.

Menurut Aditya, Bukit Hijau dipilih karena memiliki karakter tanah kering berkerikil, obstacle alami, dan kontur curam yang mendekati karakter lintasan internasional.

“Bukit Hijau punya lintasan sekitar 1.650 meter dengan karakter lebih curam dan teknikal. Ada batuan karang purba di sepanjang jalur yang membuat sensasi balapnya berbeda,” katanya.

Perubahan teknikal tersebut mendapat respons positif dari rider elite nasional. Downhiller Team 76 Rider DH Squad, Mohammad Abdul Hakim, menilai trek yang lebih ekstrem akan membantu rider Indonesia lebih siap menghadapi kompetisi di Asia maupun Eropa.

Baca Juga: Wisata Kuliner Pagi di Batam, 5 Spot Sarapan yang Wajib Dicoba

Atlet yang akrab disapa Jambol itu mengaku telah menjalani persiapan fisik dan teknis sejak jauh hari menjelang seri pembuka di Yogyakarta.

“Dengan trek yang lebih curam dan minim pedaling, rider Indonesia bisa lebih siap menghadapi persaingan internasional. Kendala rider Indonesia saat tampil di Eropa biasanya karena belum terbiasa dengan trek ekstrem,” ujarnya.

Persaingan kelas Men Elite musim ini diprediksi berlangsung ketat dengan hadirnya sejumlah rider muda agresif, termasuk juara umum musim lalu Pandu Satrio.

Selain Pandu, nama-nama seperti Khoiful Mukhib, Andy Yoga, dan Pahraz Salman Alparisi juga diperkirakan kembali menjadi pesaing utama di kelas elite.

Sebanyak 10 kelas akan dipertandingkan pada 76 Indonesian Downhill 2026, termasuk kelas utama Men Elite, Women Elite, dan Men Junior yang berstatus internasional UCI C1. (*)

Editor : Putut Ariyotejo
#76 Indonesian Downhill #Balap Sepeda Gunung #Downhill Indonesia #UCI C1 #Yogyakarta