batampos – Piala Dunia FIFA 2026 diprediksi menjadi salah satu ajang olahraga paling mahal dalam sejarah. Di balik kemeriahan turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu, muncul pertanyaan besar: apakah negara tuan rumah benar-benar memperoleh keuntungan ekonomi?
Berbagai penelitian menunjukkan penyelenggaraan Piala Dunia tidak selalu berdampak positif terhadap ekonomi negara tuan rumah. Dalam jurnal ilmiah Does the World Cup get the economic ball rolling? Evidence from a synthetic control approach (2018), tiga ekonom yakni Jorge Viana, Antonio Barbosa, dan Breno Sampaio menyimpulkan bahwa Piala Dunia justru cenderung tidak meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita negara penyelenggara.
Penelitian tersebut menganalisis penyelenggaraan Piala Dunia sejak 1978 hingga 2006 dan menemukan bahwa dampak ekonomi langsung turnamen kerap tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Meski demikian, unsur citra negara dan dampak jangka panjang terhadap pariwisata tidak dimasukkan dalam penelitian tersebut.
Qatar Jadi Contoh Nyata
Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar menjadi contoh paling nyata mahalnya penyelenggaraan Piala Dunia.
Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), Qatar menggelontorkan dana sekitar 200 hingga 300 miliar dolar AS untuk membangun stadion, transportasi bawah tanah, jalur kereta, pelabuhan, hotel, hingga bandara.
Namun pemasukan langsung yang diperoleh Qatar diperkirakan hanya sekitar 1,6 hingga 2,4 miliar dolar AS atau sekitar satu persen dari PDB mereka pada 2022.
Walau secara finansial tampak merugi, Qatar tetap memperoleh manfaat jangka panjang berupa lonjakan sektor pariwisata dan peningkatan citra internasional.
Media ekonomi Inggris The Banker melaporkan kunjungan wisatawan ke Qatar melonjak 347 persen pada awal 2023 dibanding tahun sebelumnya.
FIFA Raup Keuntungan Terbesar
Penelitian dari University of Lausanne menjelaskan bahwa sebagian besar keuntungan komersial Piala Dunia justru dinikmati oleh FIFA.
Pendapatan dari hak siar, tiket pertandingan, sponsor, lisensi, dan hospitality sebagian besar masuk ke FIFA, sementara negara tuan rumah menanggung biaya besar untuk infrastruktur, keamanan, dan operasional.
Karena itu, negara penyelenggara harus mencari keuntungan dari sektor lain seperti pariwisata, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.
Proyeksi Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko
Untuk Piala Dunia FIFA 2026, Amerika Serikat diperkirakan mengeluarkan dana sekitar 11,1 miliar dolar AS untuk penyelenggaraan 78 pertandingan, termasuk final.
Sebagai gantinya, AS berharap memperoleh tambahan PDB hingga 17,2 miliar dolar AS melalui sektor pariwisata, tenaga kerja, dan layanan publik.
Lembaga Oxford Economics memperkirakan sekitar 1,24 juta wisatawan internasional akan datang ke AS selama turnamen berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026.
Sementara itu, Kanada menganggarkan lebih dari satu miliar dolar AS untuk menggelar 13 pertandingan di Toronto dan Vancouver. Pemerintah Kanada menargetkan pemasukan dua miliar dolar AS ke PDB nasional dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Di Meksiko, pemerintah mengalokasikan sekitar 2,5 miliar dolar AS untuk renovasi stadion dan pengembangan transportasi di Mexico City, Monterrey, dan Guadalajara.
Meksiko berharap bisa meraup hingga tiga miliar dolar AS dari kedatangan jutaan wisatawan selama turnamen.
Risiko Tetap Mengintai
Meski proyeksi keuntungan terlihat besar, sejumlah akademisi mengingatkan bahwa manfaat ekonomi Piala Dunia sering kali tidak sesuai harapan.
Penelitian terbaru dari LUT University menunjukkan Brasil justru mengalami penurunan PDB setelah menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2014.
PDB Brasil turun dari 2,47 triliun dolar AS pada 2013 menjadi 2,46 triliun dolar AS pada 2014, lalu merosot menjadi 1,8 triliun dolar AS setahun kemudian.
Selain itu, tingkat pengangguran Brasil juga meningkat tajam setelah turnamen berakhir.
Karena itu, banyak pengamat menilai keberhasilan menjadi tuan rumah Piala Dunia tidak hanya diukur dari keuntungan jangka pendek, tetapi dari kemampuan negara memanfaatkan infrastruktur dan momentum global untuk pembangunan jangka panjang.
Piala Dunia bisa menjadi peluang besar, tetapi tanpa pengelolaan yang tepat, turnamen terbesar sepak bola dunia itu juga dapat berubah menjadi beban ekonomi berkepanjangan bagi negara penyelenggara. (*)
Editor : Jamil Qasim