8 Anak SMKN 1 Batam, Alat Terbatas tapi Bawa Pulang 3 Medali dari Malaysia

Rengga Yuliandra • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 08:11 WIB
Pemain marching band SMKN 1 Batam berfoto bersama usai tampil pada Asian Music Games 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dengan personel terbatas, mereka sukses membawa pulang High Score Gold Medal, medali perak Battle, dan medali perunggu Ensemble. Foto: RENGGA YULIANDRA/BATAM POS
Pemain marching band SMKN 1 Batam berfoto bersama usai tampil pada Asian Music Games 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dengan personel terbatas, mereka sukses membawa pulang High Score Gold Medal, medali perak Battle, dan medali perunggu Ensemble. Foto: RENGGA YULIANDRA/BATAM POS

batampos - Tidak ada kemewahan dalam perjalanan marching band SMKN 1 Batam menuju Kuala Lumpur, Malaysia.

Tempat latihan belum ideal. Sebagian peralatan sudah rusak dan tak lagi bekerja maksimal. Anggaran pun terbatas.

Bahkan untuk sekadar berangkat ke Malaysia, mereka harus mengetuk pintu perusahaan dan berbagai pihak. Proposal demi proposal diajukan demi mendapatkan dukungan.

Namun, ada satu hal yang tak pernah habis: tekad untuk berjuang.

Selama enam bulan, anak-anak marching band SMKN 1 Batam berlatih hampir tanpa mengenal hari libur. Sepulang sekolah dan di sela kewajiban Praktik Kerja Lapangan (PKL), mereka kembali berkumpul untuk berlatih.

Malam hari pun tak jarang masih dihabiskan di tempat latihan hingga sekitar pukul 22.00 WIB.

Tubuh yang lelah setelah seharian beraktivitas tak menjadi alasan untuk berhenti.

Ada satu tujuan yang mereka kejar: membawa nama SMKN 1 Batam dan Indonesia ke panggung Asian Music Games 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah.

Mereka tidak sekadar datang untuk tampil. Mereka pulang membawa medali.

Delapan Pemain di Tengah Persaingan Asia

Asian Music Games merupakan kejuaraan marching band tingkat Asia yang digelar pada 4-13 September 2026 di Kuala Lumpur.

Edisi kedua ajang tersebut mempertemukan peserta dari sejumlah negara, di antaranya Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan, Sri Lanka, Filipina, dan Vietnam.

Setiap negara hanya diperbolehkan mengirim dua wakil. Indonesia mengirim SMKN 1 Batam dan satu wakil lainnya dari Jember.

Namun, tantangan terbesar justru menunggu di arena pertandingan.

SMKN 1 Batam turun di Open Division, kategori terbuka tanpa batasan usia. Artinya, mereka tidak hanya berhadapan dengan sesama pelajar, tetapi juga klub dan kelompok marching band yang telah memiliki pengalaman di berbagai kompetisi internasional.

Di tengah persaingan itu, SMKN 1 Batam datang dengan kekuatan yang terbilang kecil.

Hanya delapan pemain.

Jumlah tersebut jauh di bawah peserta lain yang membawa 19, 20, bahkan hingga 23-25 pemain.

“Yang lain 20, 23, 25 orang. Kita satu-satunya tim yang pemainnya hanya delapan orang,” kata Pembina sekaligus Pelatih Marching Band SMKN 1 Batam, Rizky Armando.

Delapan pemain itu justru mampu melangkah hingga puncak persaingan.

Mereka turun dalam tiga mata lomba, yakni Solo, Ensemble, dan Battle.

Hasilnya, SMKN 1 Batam meraih High Score Gold Medal dengan nilai di atas 85. Mereka juga membawa pulang medali perak dari Battle dan medali perunggu dari Ensemble.

Tiga medali tersebut menjadi hasil dari perjuangan panjang yang jauh lebih besar daripada sekadar penampilan di arena pertandingan.

Berlatih dengan Peralatan Terbatas

Di balik medali-medali tersebut, ada peralatan yang kondisinya sudah tidak lagi ideal.

Ada latihan yang harus dilakukan di tempat terbuka, padahal mereka nantinya bertanding di arena indoor. Ada pula tubuh yang harus tetap bergerak meski kelelahan setelah sekolah dan PKL.

Dan ada perjuangan mencari biaya agar delapan pemain itu bisa benar-benar sampai ke Kuala Lumpur.

Bagi Rizky, persoalan peralatan menjadi salah satu kendala paling nyata yang dihadapi tim.

Sebagian alat mengalami kerusakan, bahkan ada yang rusak berat. Agar tetap bisa digunakan, mereka harus mencari berbagai cara. Beberapa peralatan bahkan didapat melalui bantuan dan pinjaman.

“Peralatan yang kita gunakan kondisinya sudah dikatakan tidak baik. Tapi itu pula yang menjadi penyemangat anak-anak untuk bisa juara,” ujarnya.

Keterbatasan itu perlahan justru membentuk mental para pemain.

Mereka belajar bahwa tidak semua perjuangan dimulai dari kondisi ideal. Kadang, seseorang harus berangkat dengan apa yang ada, kemudian berusaha membuatnya cukup untuk mencapai tujuan.

Persiapan menuju Asian Music Games dilakukan selama sekitar enam bulan. Bukan dengan latihan sesekali, melainkan hampir setiap hari.

“Persiapan enam bulan setiap hari. Hari libur pun tetap latihan. Mereka harus PKL, tapi tetap menyempatkan waktu untuk latihan,” kata Rizky.

Mayoritas pemain yang tampil di Malaysia merupakan siswa kelas XII.

Dukungan Sekolah dan Orang Tua

Kepala SMKN 1 Batam Deden Suryana mengaku bangga dengan capaian para siswanya.

Menurutnya, prestasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang marching band SMKN 1 Batam yang sebelumnya juga telah beberapa kali tampil dan meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasional.

“Alhamdulillah, anak-anak kita sudah beberapa kali meraih prestasi, baik di Jakarta, di Kepri, maupun yang terakhir di Malaysia. Ini tentu menjadi prestasi yang sangat membanggakan, apalagi mereka bertanding di tingkat internasional dan berhadapan dengan peserta dari beberapa negara,” ujar Deden.

Menurut Deden, medali yang diraih di Kuala Lumpur tidak datang tiba-tiba. Ada proses panjang yang harus dilewati para siswa, termasuk latihan disiplin selama berbulan-bulan.

Pihak sekolah, lanjut Deden, akan terus memberikan dukungan terhadap kegiatan dan pembinaan marching band sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Dukungan tersebut mencakup aspek moral maupun kebutuhan material dan peralatan.

“Sebagai pimpinan, tentu saya mendukung kegiatan yang dilakukan guru dan pembina. Kita berikan dukungan moral, material dan peralatan yang dibutuhkan agar anak-anak bisa berkembang dan berhasil dengan baik sesuai bidangnya masing-masing,” ujarnya.

Perjalanan menuju Kuala Lumpur juga tidak lepas dari dukungan orang tua dan berbagai pihak.

Ketika biaya menjadi salah satu tantangan, mereka ikut membantu agar anak-anak tetap memiliki kesempatan untuk bertanding.

“Untuk bisa mengikuti perlombaan di Malaysia tentu ada proses yang harus dilalui. Anak-anak memiliki tekad yang kuat dan mereka membuktikan sendiri hasil dari kerja kerasnya. Orang tua juga memberikan dukungan dan semangat sehingga akhirnya mereka bisa berangkat dan bertanding di Malaysia,” kata Deden.

Delapan Pemain Melawan Pengalaman Internasional

Di arena pertandingan, perbedaan antara SMKN 1 Batam dan peserta lain semakin terasa.

Ada tim yang membawa personel jauh lebih banyak. Ada peserta yang telah memiliki pengalaman bertanding hingga Amerika Serikat. Bahkan, ada kelompok yang menggunakan konsultan dari negara lain untuk mempersiapkan penampilan mereka.

SMKN 1 Batam datang hanya dengan delapan pemain.

Tetapi delapan pemain itu mampu bertahan hingga final.

Rizky mengatakan jarak nilai dengan peserta yang keluar sebagai juara pertama pun tidak terlalu jauh.

“Yang lain sudah punya pengalaman lomba di Amerika, kita punya pengalaman lomba di Indonesia. Kita adu di situ dan hasilnya ternyata tidak jauh beda,” katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun, di belakangnya ada enam bulan latihan, malam-malam panjang, peralatan yang terbatas, persoalan biaya, hingga perjuangan banyak pihak agar delapan anak tersebut bisa berdiri di panggung Kuala Lumpur.

Sebelum sampai ke Malaysia, mereka juga lebih dulu membuktikan kemampuan melalui kejuaraan dunia WMCB 2025 di Jakarta International Velodrome.

Dari ajang tersebut, mereka meraih dua medali emas yang kemudian menjadi salah satu pijakan menuju Asian Music Games.

Kuala Lumpur akhirnya menjadi panggung berikutnya.

Dan mereka pulang membawa tiga medali.

Setelah Kuala Lumpur, Tantangan Baru Menunggu

Prestasi tersebut ternyata tidak menjadi akhir perjalanan.

Justru setelah tampil di Kuala Lumpur, pintu-pintu baru mulai terbuka.

Tim SMKN 1 Batam mendapat welcome invitation dari sejumlah negara, termasuk Thailand, China, dan Filipina. Kesempatan mengikuti kompetisi lain di Indonesia juga terbuka.

Ada pula peluang menuju ajang yang lebih tinggi pada 2028 di Filipina.

Namun, kesempatan yang semakin besar berarti persiapan yang juga semakin besar.

Peralatan, biaya perjalanan, latihan, dan berbagai kebutuhan lainnya tentu membutuhkan dukungan yang tidak sedikit.

Karena itu, harapan mereka kini bukan sekadar mempertahankan prestasi. Mereka ingin terus berkembang dan kembali merasakan panggung yang lebih tinggi.

Salah seorang pemain, Aretha Alencia Julianty Saragih, menyampaikan harapan sederhana.

“Kami berharap mendapat bantuan dan dukungan sehingga kami bisa kembali bertanding di tingkat yang lebih tinggi lagi,” ujarnya.

Bagi Aretha, marching band bukan hanya tentang medali.

Ada harapan lain yang ikut ia bawa. Prestasi yang diraih di panggung internasional diharapkan dapat membuka jalan untuk melanjutkan pendidikan.

Ia juga berharap semakin banyak perusahaan dan pemerintah yang memberikan dukungan agar mereka bisa kembali bertanding di kompetisi dengan level lebih tinggi.

Delapan pemain yang membawa nama SMKN 1 Batam di Kuala Lumpur adalah Aretha Alencia Julianty Saragih, Desy Noviyanti Sibuea, Desvita Indri Agustina, Nazwa Ali Safutri, Iqsan Halim Romadhan, Muhamad Aldo Saputra, serta dua alumni, Visnu Aal Firmansyah dan Nurul Hasanah Putri.

Mereka bukan tim dengan personel terbanyak. Bukan pula tim dengan fasilitas paling lengkap.

Namun, mereka memiliki sesuatu yang tak bisa diukur dari jumlah pemain ataupun kelengkapan peralatan: kegigihan.

Enam bulan mereka berlatih. Sekolah tetap berjalan. PKL tetap dijalani. Peralatan seadanya tetap dimainkan. Proposal demi proposal tetap diajukan.

Sampai akhirnya, delapan anak itu berdiri di panggung Asia.

Mereka membawa pulang medali, tetapi mungkin ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar warna emas, perak atau perunggu.

Mereka pulang membawa bukti bahwa kesempatan bisa tumbuh dari keterbatasan, selama ada kemauan untuk terus bergerak.

Kini, Kuala Lumpur hanyalah satu halaman dari perjalanan mereka. (*)

Editor : Putut Ariyo
Asian Music Games 2026 marching band Kuala Lumpur batam SMKN 1 Batam