batampos– Sembilan tahun lalu, Harry Kane hanya bisa menyaksikan para pemain terbaik dunia menerima penghargaan dari kejauhan. Pada ajang The Best FIFA Football Awards 2017, namanya masuk dalam daftar nominasi, tetapi hanya menempati posisi ke-24.
Kini, menurut laporan sumber, penyerang Bayern Munich tersebut mencapai puncak karier dengan memenangkan Ballon d’Or 2026. Kane mengungguli Kylian Mbappé dan Lamine Yamal untuk meraih penghargaan individu paling bergengsi di sepak bola dunia.
Perjalanan itu menjadi gambaran panjang perjuangan Kane, dari pemain muda yang harus menjalani masa peminjaman hingga menjadi salah satu penyerang yang diperhitungkan di level internasional.
Merintis Karier dari Akademi Tottenham
Kane bergabung dengan akademi Tottenham Hotspur saat berusia 11 tahun. Sebelum mendapat tempat di tim utama, ia menjalani sejumlah masa peminjaman bersama Leyton Orient, Millwall, Norwich City, dan Leicester City.
Kesempatan menembus tim utama Tottenham datang menjelang akhir musim 2013–2014. Setahun kemudian, Kane meraih penghargaan Pemain Muda Terbaik PFA saat berusia 21 tahun. Pada periode yang sama, ia menjalani debut bersama tim nasional Inggris dan langsung mencetak gol melawan Lithuania.
Namanya semakin dikenal seiring meningkatnya produktivitas di depan gawang. Kane berkembang menjadi salah satu penyerang andalan Tottenham sekaligus pemain penting tim nasional Inggris.
Tajam di Tottenham, tetapi Menanti Trofi
Selama membela Tottenham, Kane mencetak 280 gol dalam 435 penampilan. Ia juga memecahkan rekor Wayne Rooney sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa tim nasional Inggris.
Namun, di tengah berbagai pencapaian individu tersebut, Kane masih menghadapi satu tantangan besar: meraih trofi utama bersama Tottenham.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan hanya pencetak gol produktif, tetapi juga pemain yang mampu meraih gelar dan bersaing dengan para bintang terbesar dunia.
Dalam serial dokumenter All or Nothing, yang mengikuti perjalanan Tottenham pada musim 2019–2020, Kane pernah mengungkapkan ambisinya untuk mencapai level pemain seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.
Keinginan tersebut menjadi salah satu pendorongnya untuk terus berkembang dan mencari peluang meraih kesuksesan di level tertinggi.
Pindah ke Bayern Munich Jadi Titik Balik
Pada 2023, Kane meninggalkan Tottenham dan bergabung dengan Bayern Munich. Kepindahan tersebut menjadi langkah penting setelah bertahun-tahun membangun reputasi di Inggris tanpa meraih banyak gelar utama bersama klubnya.
Bersama Bayern, Kane melanjutkan ketajamannya di kompetisi Jerman. Naskah sumber mencatat ia mencetak 158 gol dalam 156 pertandingan sejak bergabung dengan klub tersebut.
Produktivitas itu memperkuat posisinya sebagai salah satu penyerang paling berbahaya di Eropa. Ia juga mendapat kesempatan lebih besar untuk bersaing memperebutkan gelar bersama klub yang rutin tampil di kompetisi papan atas.
Kepindahan ke Jerman pun mengubah perjalanan kariernya. Kane tidak lagi hanya dinilai berdasarkan jumlah gol, tetapi juga kontribusinya terhadap pencapaian tim.
Musim Produktif yang Mengantarkannya ke Puncak
Menurut laporan sumber, Kane mencetak 73 gol dalam 65 pertandingan selama periode penilaian Ballon d’Or 2026. Ia juga disebut membantu Bayern meraih gelar Bundesliga, DFB-Pokal, dan Piala Super Jerman.
Di level internasional, Kane dikabarkan memimpin Inggris meraih peringkat ketiga Piala Dunia 2026 dengan mencetak enam gol sepanjang turnamen.
Kombinasi produktivitas individu dan keberhasilan bersama klub serta tim nasional disebut menjadi faktor utama yang mengantarkannya ke penghargaan tersebut.
Jika seluruh catatan itu terkonfirmasi, pencapaian tersebut menandai fase penting dalam karier Kane. Ia tidak hanya tampil konsisten sebagai pencetak gol, tetapi juga dikaitkan dengan keberhasilan tim dalam berbagai kompetisi.
Dari Penonton Menjadi Pemenang
Perjalanan Kane menuju puncak menjadi semakin menarik jika dibandingkan dengan pengalamannya pada 2017. Kala itu, ia hanya menjadi salah satu nominasi dalam ajang penghargaan FIFA.
Sembilan tahun kemudian, menurut naskah sumber, ia kembali ke London sebagai pemenang Ballon d’Or. Dalam pidato kemenangannya, Kane menyampaikan rasa terima kasih kepada klub yang membesarkannya, rekan setim, pelatih, dan keluarga.
Ia juga mengenang perannya bersama Tottenham dalam membentuk kariernya.
“Saya tidak akan berada di posisi ini tanpa kalian,” demikian kutipan pernyataan Kane dalam naskah sumber.
Kisah perjalanan Kane menggambarkan proses panjang dalam membangun karier profesional: melewati masa peminjaman, mencetak rekor, menghadapi penantian gelar, hingga mencari tantangan baru di luar negeri.
Dari pemain yang pernah berada di urutan ke-24 dalam daftar penghargaan FIFA, Kane dalam laporan tersebut digambarkan mencapai puncak pengakuan individu di sepak bola dunia. (*)