Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Tradisi Lebaran di Tanjungpinang yang Kental dengan Momen Kebersamaan

Yusnadi BP • Selasa, 1 April 2025 | 13:00 WIB
ILUSTRASI fashion Lebaran 2025.
ILUSTRASI fashion Lebaran 2025.


batampos-Tradisi Lebaran masyarakat Melayu di Tanjungpinang, memiliki keunikan tersendiri yang masih kental dengan nuansa Islami, budaya dan adat istiadat.

Salah satu tradisi Lebaran di Tanjungpinang yakni masyarakat sering mengenakan pakaian adat Melayu yaitu baju kurung lengkap dengan songkok atau tanjak bagi laki-laki dan kerudung bagi perempuan.

Masyarakat juga melakukan tradisi mudik lokal dari Tanjungpinang ke Pulau Penyengat dan dari Bintan ke Tanjungpinang demi bertemu keluarga tercinta. Momen ini menjadi ajang melepas rindu dan mempererat hubungan keluarga yang terpisah karena kesibukan masing-masing.

Kemudian masyarakat juga melakukan ziarah kubur. Usai salat Idulfitri, masyarakat Melayu Tanjungpinang biasanya melakukan ziarah ke makam keluarga dan leluhur. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada kerabat yang telah meninggal dunia.

Tradisi ini juga telah menjadi bagian penting dari perayaan Lebaran bagi masyarakat Tanjungpinang. Ziarah kubur juga sebagai bentuk penghormatan kepada kerabat yang telah berpulang serta upaya mempererat silaturahmi antarkeluarga.

"Kami usai salat Idulfitri, langsung mudik lokal ke Pulau Penyengat. Melakukan ziarah kubur ke makam abah (ayah) kami, mendoakan yang terbaik untuk ayah kami," ungkap Raja Eny, 41, warga Batu 5 Tanjungpinang.

Ziarah kubur pada Hari Raya Idulfitri dilakukan dengan tujuan mengenang dan mendoakan keluarga yang telah berpulang. Selain itu, tradisi ini mengingatkan para peziarah akan kehidupan setelah kematian, sehingga memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

"Tradisi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam dan budaya lokal tetap terjaga di tengah kemajuan zaman," sebut Raja Eny.

Selanjutnya, melakukan tradisi bersalam-salaman dan bermaaf-maafan.
Seperti di banyak daerah lain di Indonesia, masyarakat Melayu Tanjungpinang juga memiliki tradisi saling bermaafan saat Idulfitri, baik di dalam keluarga maupun antartetangga.

Sebagian masyarakat juga melaksanakan kenduri Syawal. Beberapa keluarga mengadakan kenduri dengan mengundang tetangga dan kerabat untuk makan bersama sebagai bentuk syukur atas bulan suci yang telah dilalui.

"Usai ziarah kubur, kami langsung silaturahmi. Mengunjungi rumah sanak saudara yang ada di Penyengat dan saling bermaafan-maafan," katanya.

Masyarakat juga menggelar Open House. Rumah-rumah terbuka untuk sanak saudara, tetangga dan sahabat. Tuan rumah menyajikan makanan khas seperti lontong sayur, ketupat lemak, rendang, dan aneka kue tradisional.

"Kadang ada juga keluarga kami yang menggelar kenduri Syawal dengan makan bersama masyarakat dan tetangga," tutup Raja Eny. (*)

Editor : Tunggul Manurung
#lebaran