Setiap tahun, setelah Hari Raya Idulfitri, masyarakat di Tanjungpinang menggelar tradisi khas yang disebut Halal Bihalal. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tapi juga momen sakral pemersatu warga perantauan di kampung halaman.
***
Tradisi Halal Bihalal penting untuk mempererat kembali hubungan yang sempat terputus oleh jarak, kesibukan, dan waktu. Terutama bagi warga perantauan, halal bihalal menjadi alasan kuat untuk pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga besar.
Halal bihalal merupakan tradisi yang khas Indonesia, tidak ditemukan di negara lain meskipun sama-sama merayakan Idulfitri atau Lebaran. Akar budaya ini diyakini sudah ada sejak zaman dahulu yang menyebar luas ke seluruh penjuru nusantara, termasuk Tanjungpinang.
Meskipun demikian, inti dari tradisi Halal Bihalal yang berlangsung selama satu bulan ini adalah saling memaafkan, menghapus kesalahan, dan memulai lembaran baru dalam suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan.
Bagi warga perantauan, momen Halal bihalal menjadi sangat spesial dan menjadi sakral. Setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun merantau untuk bekerja atau menimba ilmu, momen Lebaran adalah waktu yang dinantikan untuk pulang kampung halaman dan bertemu keluarga.
Dalam acara halal bihalal, warga perantauan yang pulang ke kampung halaman, tidak hanya bersilaturahmi dengan keluarga inti. Namun juga dengan tetangga, teman masa kecil hingga tokoh masyarakat.
Halal Bihalal di kampung halaman juga menjadi ajang memperkenalkan anggota keluarga baru terutama bagi pasangan muda yang baru menikah dan memanfaatkan momen Halal Bihalal untuk memperkenalkan keluarga baru ke keluarga besar.
Tak hanya itu, pertemuan pada momen Halal Bihalal ini juga dapat saling mempertemukan kembali sahabat masa kecil yang kini telah berkeluarga sehingga menciptakan momen nostalgia yang menyenangkan dan tidak terlupakan.
Secara umum, kegiatan Halal Bihalal digelar secara kolektif di rumah keluarga besar, masjid, sekolah atau rumah tokoh masyarakat hingga kantor. Halal Bihalal juga biasanya diisi dengan sambutan, tausiah keagamaan, pembacaan doa, dan tentu saja sesi saling bersalaman dan bermaaf-maafan.
Tidak ketinggalan, sajian khas Lebaran seperti ketupat, lontong, opor ayam, rendang dan kue-kue tradisional serta makanan khas lainnya, turut memeriahkan suasana Halal Bihalal di kampung halaman.
Tidak hanya sebagai wadah untuk menyatukan kembali tali persaudaraan antarwarga yang mungkin sempat renggang, dalam beberapa kesempatan, Halal Bihalal dijadikan ajang tempat berkumpul antarwarga untuk bermusyawarah membahas berbagai kegiatan sosial.
Melalui halal bihalal, nilai-nilai toleransi, gotong royong, dan kepedulian sosial kembali diperkuat. Inilah yang menjadikan tradisi Halal Bihalal begitu spesial dan istimewa dan harus terus dilestarikan ke generasi mendatang.
Meskipun zaman terus berubah dan teknologi semakin memudahkan komunikasi, tradisi Halal bihalal di kampung halaman, harus tetap dipertahankan. Karena Halal Bihalal, menjadi sebuah bukti bahwa tradisi kearifan lokal, masih menjadi penerang dalam menjaga hubungan silaturahmi dan hubungan sosial antarmanusia.
Momen Mempererat Hubungan Sosial Semua Kalangan
Salah seorang warga perantauan yakni Nurlailis, 51, mengatakan selepas gema takbir Idulfitri mereda, suasana di kampung halamannya yakni di Gang Melur Jalan Kemboja Tanjungpinang, justru semakin semarak dam meriah.
Sejak pagi hari, warga dan tetangga dari berbagai penjuru kampung berkumpul dan silaturahmi di untuk mengikuti tradisi tahunan yang sudah mendarah daging yaitu Halal Bihalal.
Pada zaman modern saat ini, kata Nurlailis, sebagian warga memilih mengirim ucapan selamat Lebaran dan saling memaafkan lewat pesan singkat atau melalui media sosial. Namun baginya, pulang ke kampung halaman dan Halal Bihalal, dapat menunjukkan momen kehangatan dan kedekatan.
“Setiap tahun kami bersama suami dan anak pasti pulang, meskipun harus cuti. Momen ini bukan cuma soal Lebaran, tapi kesempatan bertemu keluarga besar dan teman lama,” kata Nurlailis yang berprofesi sebagai guru Madrasah di Jakarta ini.
Menurutnya, tradisi Halal Bihalal bukan sekadar ajang bersalaman atau bermaaf-maafan. Bagi warga Gang Melur, Halal Bihalal adalah ajang perekat hubungan sosial yang mempertemukan semua kalangan, dari anak-anak, orang tua hingga perantau yang pulang kampung.
"Momen sakral pertemuan dengan keluarga besar, tetangga dan teman masa kecil adalah kekuatan utama dalam menjaga hubungan sosial dan tali persaudaraan," sebut perempuan kelahiran Tanjungpinang ini.
Nurlailis menjelaskan, saat momen Halal Bihalal ini biasanya, orang tua dipersilakan untuk duduk, sementara yang muda dengan tertib menghampiri untuk mencium tangan orang tua sebagai simbol penghormatan. Tidak jarang pula momen haru kebahagiaan, mewarnai pertemuan sakral tersebut, terutama bagi keluarga yang lama tidak berjumpa.
Usai prosesi saling maaf memaafkan yang diselimuti momen bahagia dan penuh haru, acara Halal Bihalal kemudian dilanjutkan dengan prosesi makan bersama, menikmati berbagai aneka hidangan khas Lebaran.
“Dulu waktu kami kecil, kami hanya ikut-ikutan. Sekarang kami paham, ini tradisi yang penting agar kita tetap rukun. Kami ingin anak-anak kami juga tumbuh dengan nilai-nilai kebersamaan seperti ini,” tutup Nurlailis. (*)
Editor : Tunggul Manurung