batampos – Di tepian pantai yang berangin, sebuah perahu kecil tanpa awak meluncur pelan mengikuti arah angin. Bagi masyarakat pesisir Melayu, itulah jong—permainan sederhana yang menyimpan jejak panjang sejarah maritim.
Jong bukan sekadar hiburan. Ia lahir dari kehidupan nelayan yang sangat bergantung pada alam. Ketika musim angin utara datang dan gelombang tinggi menghalangi aktivitas melaut, masyarakat memanfaatkan waktu dengan memainkan jong di pesisir.
Dari permainan ini, anak-anak belajar banyak hal. Mereka memahami arah angin, menjaga keseimbangan perahu, hingga membaca kondisi laut—pengetahuan dasar yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca Juga: Produk UMKM Anambas Tembus Resort Mewah, Siap Sasar Wisatawan Dunia
Secara historis, jong diyakini telah ada sejak masa kejayaan Kerajaan Johor Pahang Riau Lingga, saat budaya maritim berkembang pesat di kawasan Kepulauan Riau.
Namun, asal-usul jong tidak hanya berasal dari tradisi lokal. Sejumlah literatur menyebut adanya pengaruh budaya luar, terutama dari Tiongkok. Istilah “jong” sendiri berkaitan dengan kata “jung” yang merujuk pada kapal besar dalam jalur perdagangan kuno.
Dalam Undang-Undang Laut Melaka, istilah tersebut digunakan untuk menyebut kapal pengangkut barang. Sementara dalam naskah klasik Sulalatus Salatin, pelabuhan di wilayah Bintan digambarkan dipenuhi kapal-kapal besar, termasuk jong.
Catatan pelaut Portugis Tome Pires dalam Suma Oriental juga menyebut keberadaan kapal jung dari berbagai penjuru dunia yang singgah di Malaka.
Seiring waktu, makna jong bergeser. Dari simbol kapal besar, ia menjelma menjadi permainan rakyat yang tetap mempertahankan nilai maritimnya.
Bagi masyarakat pesisir, jong bukan sekadar permainan. Ia menjadi sarana belajar yang alami. Anak-anak diajak memahami laut sejak dini, sementara proses pembuatan perahu dilakukan bersama-sama, menanamkan nilai gotong royong.
Bahan yang digunakan pun sederhana, seperti kayu pulai atau kayu ringan lainnya, mencerminkan kedekatan masyarakat dengan alam sekitar.
Baca Juga: Sidang Kerap Molor, PN Batam Ajukan Penyesuaian Jam Sidang
Kini, jong tidak lagi hanya dimainkan untuk mengisi waktu. Permainan ini telah berkembang menjadi identitas budaya Melayu di Kepulauan Riau.
Festival dan lomba jong yang rutin digelar menjadi bukti bahwa tradisi ini tetap hidup. Bahkan, partisipasi dari berbagai daerah menunjukkan jong telah melampaui batas lokal.
Di berbagai wilayah, permainan ini hadir dengan nama dan bentuk berbeda. Di Kepulauan Riau dikenal sebagai jong, di Natuna disebut jong kate, sementara di Riau daratan dikenal sebagai jong katil.
Meski berbeda, prinsipnya tetap sama—perahu kecil yang bergerak murni oleh kekuatan angin.
Lebih dari sekadar permainan, jong adalah cermin jati diri masyarakat Melayu. Ia merekam ingatan tentang kejayaan maritim masa lalu sekaligus menjadi media pewarisan nilai kepada generasi baru.
Di tengah arus modernisasi, jong tetap bertahan—menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan budaya Melayu. (*)
Editor : M Tahang