batampos – Pulau Penyengat kembali mendapat perhatian pemerintah pusat. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan sejumlah program penataan kawasan bersejarah tersebut pada 2026-2027, mulai dari Balai Adat hingga perbaikan dermaga.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan Pulau Penyengat memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting, khususnya sebagai bagian dari peradaban Melayu. Karena itu, pengembangannya harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga warisan sejarah.
"Pulau Penyengat ini punya histori yang cukup panjang, sehingga tetap harus dilestarikan. Kita pasti dukung pengembangan kawasan ini," kata Dody seusai meninjau Pulau Penyengat, Sabtu (29/8).
Dody menjelaskan, Kementerian PU dalam beberapa tahun terakhir telah melakukan sejumlah penataan di Pulau Penyengat. Program tersebut antara lain menyasar peningkatan kualitas permukiman dan penataan lingkungan.
Pekerjaan yang telah dilakukan meliputi perbaikan dan pelebaran koridor jalan lingkungan, pembangunan jalur pedestrian, perbaikan drainase untuk mengantisipasi banjir, hingga penyediaan utilitas, shelter, dan ruang terbuka publik.
Penataan akan kembali dilanjutkan pada 2026-2027. Salah satu fokusnya adalah kawasan Balai Adat. Kementerian PU juga berencana melakukan pengecatan Masjid Sultan Riau serta memperbaiki Pelantar Kuning Penyengat.
Perbaikan pelantar akan dilakukan dari dua sisi, yakni di kawasan Tanjungpinang dan Pulau Penyengat.
Untuk pekerjaan pelantar yang berkaitan dengan akses kepelabuhanan, Kementerian PU akan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
"Kita akan diskusi dengan Menhub. Intinya bagi-bagi tugas saja," ujar Dody.
Meski demikian, Dody belum merinci kebutuhan anggaran untuk program penataan lanjutan tersebut. Menurut dia, besaran anggaran masih harus dihitung terlebih dahulu.
Pengembangan Pulau Penyengat diarahkan untuk memperkuat daya tarik kawasan sebagai cagar budaya nasional sekaligus destinasi wisata sejarah, budaya, dan religi. Pemerintah berharap penataan tersebut mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dalam kunjungannya, Dody didampingi Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza. Rombongan berkeliling Pulau Penyengat menggunakan becak motor dan meninjau sejumlah situs bersejarah, termasuk Balai Adat dan Masjid Sultan Riau.
Pulau Penyengat berada di seberang pusat Kota Tanjungpinang. Akses menuju pulau tersebut dapat ditempuh sekitar 15 menit menggunakan pompong atau kapal kayu.
Selain menyimpan berbagai peninggalan sejarah Melayu, Pulau Penyengat selama ini dikenal sebagai destinasi wisata yang menawarkan perpaduan wisata sejarah, budaya, dan religi. (*)
Editor : M Tahang