batampos – Sejumlah orangtua murid SMK Negeri 1 Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), mengeluhkan harga seragam sekolah yang dinilai cukup tinggi. Mereka juga mempersoalkan kewajiban membeli seragam dari penjahit yang telah ditentukan.
Berdasarkan data yang diterima Batam Pos, harga seragam olahraga untuk siswa putra dipatok Rp240 ribu, sedangkan untuk putri Rp260 ribu. Kemudian, baju kurung dibanderol Rp280 ribu, sementara seragam batik berkisar Rp260 ribu hingga Rp280 ribu.
Selain itu, orangtua juga diminta membeli seragam OSIS, pramuka, dan seragam praktik kejuruan yang masing-masing dibanderol Rp300 ribu. Biaya papan nama juga dikenakan sebesar Rp30 ribu.
Jika seluruh kebutuhan seragam tersebut dibeli, total biaya yang harus dikeluarkan mencapai sekitar Rp1,71 juta per murid.
Formulir pemesanan seragam tersebut disebut telah disampaikan kepada orangtua murid tahun ajaran 2026/2027. Sejumlah orangtua keberatan dengan harga tersebut karena menilai seragam di sekolah lain relatif lebih murah.
“Harganya sangat mahal, satu setel saja banyak yang Rp300 ribuan. Ya, semoga pihak terkait dapat turun tangan,” kata Ruma, salah satu orangtua murid SMK Negeri 1 Tanjungpinang, Rabu (2/9).
Sekolah Sebut Harga Ditentukan Penjahit
Menanggapi keluhan tersebut, Humas SMKN 1 Tanjungpinang Surianto mengatakan harga seragam ditentukan langsung oleh pihak penjahit. Menurutnya, seragam yang mencapai harga Rp300 ribu hanya seragam pramuka.
“Sekolah hanya menerima jika bajunya sudah selesai dijahit, lalu kami bagikan ke anak-anak. Orangtua dan penjahit yang berurusan, bukan dengan sekolah,” kata Surianto.
Ia menjelaskan, pembayaran seragam juga dapat dilakukan secara bertahap atau dicicil langsung kepada penjahit. Orangtua diminta membayar uang muka minimal 50 persen, kemudian nota pembayaran dari penjahit dibawa ke sekolah untuk proses pengukuran.
“Kita tidak memberatkan, karena kami tahu kondisi ekonomi orangtua. Pembayarannya bisa dicicil langsung ke tukang jahit, tidak ke sekolah,” pungkasnya.
Caption foto:
Editor : Jamil Qasim