batampos – Dugaan kasus pencabulan yang menyeret mantan pimpinan sebuah pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang, berdampak pada keberlangsungan kegiatan belajar di ponpes tersebut.
Belasan santri dikabarkan telah meninggalkan ponpes setelah mencuatnya dugaan tindakan pencabulan yang dilakukan pimpinan ponpes berinisial E terhadap sejumlah santri laki-laki.
Pengurus ponpes menyebutkan, sedikitnya tujuh santri yang diduga menjadi korban telah mengajukan pemindahan untuk melanjutkan pendidikan di ponpes maupun sekolah agama Islam lainnya di Tanjungpinang.
Tak hanya korban, sejumlah santri lainnya juga mulai meninggalkan ponpes. Jumlah santri yang sebelumnya lebih dari 50 orang kini disebut tersisa sekitar 30 orang.
Orang tua santri bahkan silih berganti mendatangi ponpes untuk meminta rekomendasi pemindahan anak mereka.
"Untuk tujuh korban sudah pindah juga. Tapi orangtua santri laki-laki yang lainnya juga datang untuk minta rekomendasi pindah sekolah," kata salah seorang pengurus ponpes yang meminta identitasnya tidak disebutkan, Jumat (18/9).
Menurut dia, dugaan tindakan pencabulan tersebut terungkap setelah salah seorang santri menyampaikan kejadian yang dialaminya kepada pihak yayasan.
Berdasarkan keterangan yang diterima pengurus, tujuh santri laki-laki tersebut diduga kerap dipanggil oleh E untuk memijat. Pemanggilan disebut dilakukan di lingkungan ponpes maupun di rumah pribadi terduga pelaku.
"Modusnya urut, kadang-kadang dipanggil ke rumahnya (pelaku) atau dipanggil ke ruangan yang ada di pondok," ujarnya.
Setelah pihak pengawas yayasan mengetahui dugaan kasus tersebut, posisi E sebagai pimpinan ponpes kemudian diganti. Pengurus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung meskipun jumlah santri mengalami penurunan.
"Tidak ditutup, masih berjalan normal. Saat ini lagi proses pengalihan yayasan dan pimpinan pondok," katanya.
Polisi Masih Selidiki
Sementara itu, Kasatreskrim Polresta Tanjungpinang AKP Wamilik Mabel membenarkan adanya laporan terkait dugaan pencabulan di lingkungan pesantren tersebut.
Laporan tersebut disampaikan salah seorang dari orang tua santri yang diduga menjadi korban.
"Kita sudah terima laporan, namun saat ini masih dalam tahap penyelidikan," ujar Wamilik.
Sejauh ini, penyidik baru memeriksa satu orang santri yang mengaku menjadi korban. Pemeriksaan tersebut masih terus dikembangkan untuk mengetahui kemungkinan adanya korban lainnya.
"Sementara baru satu korban yang diperiksa. Dari hasil pemeriksaan itu, kemungkinan akan berkembang ke korban lainnya," pungkasnya. (*)
Editor : Jamil Qasim