batampos - Dewan Energi Nasional (DEN) menilai Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memiliki posisi strategis untuk menjadi lokasi penyimpanan atau storage bahan bakar minyak (BBM) dalam rangka memperkuat ketahanan energi nasional.
Sejumlah lokasi di Kepri juga tengah dipersiapkan sebagai tempat penyimpanan BBM. Hal tersebut disampaikan Anggota DEN Muhammad Kholid saat sosialisasi di Auditorium Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, Rabu (30/9).
“Keandalan energi nasional, khususnya di sektor bahan bakar minyak (BBM), masih jauh dari harapan. Bahkan dengan kemampuan saat ini, kita belum mampu menghadapi ketika terjadi gejolak internasional,” ujar Kholid.
Menurutnya, saat ini kemampuan cadangan BBM nasional berada di kisaran 23 hari. Padahal, kapasitas ideal cadangan energi suatu negara mencapai 90 hari atau tiga bulan.
Dengan cadangan selama tiga bulan, kata Kholid, suatu negara memiliki ruang yang lebih besar untuk menghadapi kondisi sulit akibat gejolak geopolitik maupun gangguan pasokan energi global.
“Perang Amerika dan Iran, kemudian Iran memblokade Selat Hormuz turut memberikan dampak bagi Indonesia. Atas dasar itulah, kita harus mempersiapkan ketahanan energi di setiap daerah,” tegasnya.
Untuk itu, DEN mendorong pemerintah meningkatkan kapasitas storage BBM, baik melalui pembangunan yang dibiayai APBN maupun kolaborasi dengan pihak swasta.
Kholid menilai Kepri memiliki sejumlah lokasi strategis untuk pengembangan infrastruktur penyimpanan BBM.
“Selain Tanjunguban, Bintan juga ada storage di Karimun. Kemudian ada wacana untuk membangun infrastruktur yang sama di Pulau Foto Bintan. Tapi kami belum dapat informasi, apakah ini dibangun negara atau pihak swasta,” jelasnya.
30 Persen Kebutuhan BBM Masih Impor
Ketika ditanya mengenai kontribusi sumber daya energi di Kepri, Kholid mengatakan belum dapat memberikan penjelasan secara detail. Namun, ia menyebut Kepri tetap memiliki peran dalam mendukung ketahanan energi nasional karena merupakan salah satu daerah penghasil minyak dan gas.
“Realitas kita hari ini adalah 30 persen kebutuhan energi, khususnya BBM, masih bergantung dengan impor. Tentu ini juga kondisi yang tidak baik,” tegasnya.
Kholid juga menyoroti besarnya anggaran subsidi dan kompensasi energi yang harus disiapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas energi nasional.
Pada tahun ini, kebutuhan subsidi dan kompensasi energi diperkirakan mencapai Rp500 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp380 triliun hingga Rp450 triliun diproyeksikan untuk kompensasi BBM.
“Jumlah ini dinilai melonjak jika dibandingkan dengan tahun 2025 lalu sebesar Rp160 triliun. Kondisi ini tidak lepas dari adanya kebijakan penyesuaian harga BBM tertentu, seperti Pertamax dan Dexlite. Karena pengguna BBM tersebut bergeser membeli jenis BBM yang lebih murah,” katanya.
Kepri Dinilai Layak Tambah Storage BBM
Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kepri Muhammad Darwin mengatakan, ketahanan energi merupakan sebuah keharusan, terutama bagi Kepri yang memiliki posisi strategis dalam jalur pelayaran internasional.
Menurutnya, ketersediaan energi, khususnya BBM, menjadi kebutuhan penting untuk mendukung aktivitas masyarakat dan perekonomian daerah.
“Kepri adalah daerah lintasan pelayaran internasional, tentu daerah ini sangat layak untuk dibangun sejumlah storage BBM. Apalagi kita juga sebagai daerah penyumbang energi nasional,” ujar Muhammad Darwin. (*)
Editor : Cipi Ckandina