Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Triwulan IV 2025, Hipertensi dan ISPA Jadi Penyakit Terbanyak di Batam

R
Penulis: Rengga Yuliandra❯
Ilustrasi pengecekan tekanan darah (Istimewa)
Ilustrasi pengecekan tekanan darah (Istimewa)

batampos – Penyakit tidak menular dan infeksi saluran pernapasan masih mendominasi kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan di Kota Batam sepanjang triwulan IV 2025. Berdasarkan laporan 10 penyakit terbanyak periode Oktober–Desember 2025, hipertensi dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) tercatat sebagai kasus paling dominan.


Advertisement

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam Didi Kusmarjadi mengatakan, pola penyakit pada akhir tahun relatif sama dengan bulan-bulan sebelumnya. Hipertensi tetap konsisten menempati peringkat teratas.

“Sepanjang Oktober hingga Desember 2025, hipertensi esensial masih menjadi penyakit terbanyak yang ditangani di puskesmas maupun fasilitas layanan kesehatan lainnya. Ini menunjukkan penyakit tidak menular masih menjadi tantangan besar di Kota Batam,” ujar Didi, Minggu (4/1).

Data Dinkes Batam mencatat, kasus hipertensi pada Oktober 2025 mencapai 6.507 pasien, turun menjadi 6.136 pasien pada November, dan kembali tercatat tinggi pada Desember sebanyak 6.095 pasien. Mayoritas penderita merupakan pasien perempuan.

Advertisement

Selain hipertensi, penyakit ISPA seperti batuk pilek (common cold) dan infeksi saluran pernapasan atas akut juga menempati posisi teratas. Pada Oktober 2025, kasus common cold tercatat paling tinggi dengan 7.327 pasien. Jumlah tersebut menurun pada November menjadi 5.611 pasien, dan kembali turun pada Desember menjadi 3.731 pasien.

Didi menjelaskan, lonjakan kasus ISPA pada Oktober dan November dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain perubahan cuaca dan tingginya mobilitas masyarakat menjelang akhir tahun.

“Peralihan musim, curah hujan, serta aktivitas masyarakat yang meningkat turut memicu kasus ISPA. Namun pada Desember mulai terlihat tren penurunan,” jelasnya.

Advertisement

Penyakit dispepsia atau gangguan lambung juga konsisten masuk lima besar penyakit terbanyak selama triwulan IV. Pada Oktober tercatat 3.784 kasus, November 3.016 kasus, dan Desember 2.572 kasus. Pola makan tidak teratur dan tingkat stres menjadi faktor pemicu utama.

Sementara itu, diabetes melitus tipe 2 menunjukkan angka relatif stabil, dengan kisaran 1.600 hingga 1.800 kasus per bulan. Kondisi ini menandakan penyakit metabolik masih menjadi perhatian serius di Kota Batam.

Selain itu, beberapa penyakit lain yang masuk dalam 10 besar selama triwulan IV 2025 antara lain nyeri otot (myalgia), radang tenggorokan (pharyngitis), penyakit gigi dan mulut, diare, serta HIV/AIDS, meski jumlah kasusnya lebih rendah dibandingkan hipertensi dan ISPA.

Didi menegaskan, Dinkes Batam terus mendorong upaya promotif dan preventif, terutama untuk menekan angka penyakit tidak menular.

“Kami mengimbau masyarakat rutin memeriksakan tekanan darah, menjaga pola makan sehat, beraktivitas fisik secara teratur, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah ISPA dan penyakit lainnya,” pungkasnya. (*)

Advertisement
Editor : M Tahang

Artikel Terkait

Dampak Asap Karhutla, Kemenkes Catat Ratusan Ribu Kasus ISPA

Dampak Asap Karhutla, Kemenkes Catat Ratusan Ribu Kasus ISPA

Kemenkes mencatat 333.470 kasus ISPA di tujuh wilayah terdampak karhutla, dengan 4.520 kasus harian. Simak upaya penanganan dan imbauannya.

Singapura Siapkan Langkah Hukum soal Kabut Asap

Singapura Siapkan Langkah Hukum soal Kabut Asap

Singapura siapkan langkah hukum terkait kabut asap lintas batas. Di Batam, kualitas udara memburuk dan kasus ISPA mencapai 4.553.

ISPA Tersebar di 21 Puskesmas Batam, Sei Panas Tertinggi

ISPA Tersebar di 21 Puskesmas Batam, Sei Panas Tertinggi

Dinkes Batam mencatat 412 kasus ISPA pada 7 Oktober 2026. Kelompok usia 19–59 tahun mendominasi dengan 198 kasus

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer