
batampos – Maraknya kasus penipuan digital mendorong industri perbankan di Kepulauan Riau meningkatkan kewaspadaan. Hal ini mengemuka dalam forum Cyber Defense and Fraud Prevention yang digelar di Grand Mercure Batam Centre, Senin (27/4).
Forum yang diikuti sekitar 170 peserta ini melibatkan berbagai sektor, mulai dari perbankan, BPR, perusahaan gadai, asuransi, hingga sekuritas. Turut hadir perwakilan Bank Indonesia dan divisi siber Polda Kepri.
Direktur Eksekutif Perbanas Pusat, Eka Sri Dana Afriza, menegaskan bahwa transformasi digital di sektor perbankan harus diimbangi dengan sistem keamanan yang kuat.
“Industri perbankan perlu mengedepankan pendekatan proaktif melalui penguatan investigasi, teknologi analitik, serta peningkatan kapasitas SDM yang memahami pola kejahatan keuangan modern,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara industri dan regulator, seperti Otoritas Jasa Keuangan, agar kebijakan keamanan dapat diterapkan secara konsisten di seluruh sektor perbankan.
Sementara itu, Ketua Perbanas Kepri, Lenny, menyebut forum ini bertujuan meningkatkan literasi dan kesiapsiagaan pelaku industri terhadap ancaman kejahatan siber.
“Ini lebih kepada edukasi, menghadirkan pakar yang menjelaskan kasus nyata, modus penipuan, hingga langkah pencegahannya,” ujarnya.
Menurutnya, penipuan digital kini tidak hanya menyasar perbankan, tetapi juga merambah ke layanan non-bank seperti e-money, paylater, hingga aset kripto.
Lenny menilai rendahnya literasi digital masih menjadi celah utama yang dimanfaatkan pelaku. Modus yang kerap digunakan antara lain phishing, tautan palsu, hingga file APK berbahaya yang disebar melalui pesan singkat.
“Masih banyak masyarakat yang mudah terkecoh, misalnya dengan link palsu atau file APK yang tampak seperti undangan, padahal digunakan untuk mencuri data,” jelasnya.



