
batampos – Suara mesin ketinting meraung dari tengah laut. Dari tepian Pulau Buluh, Kecamatan Bulang, sorak warga pecah ketika perahu-perahu mulai melesat, mengejar garis akhir.
Di atas air, sampan layar, jong, ketinting hingga speed boat 15 HP saling berpacu. Ada yang mengandalkan hembusan angin, ada pula yang mengandalkan kekuatan mesin.
Minggu (23/8) pagi itu, laut bukan sekadar hamparan air yang mengelilingi pulau. Ia berubah menjadi arena pertandingan sekaligus panggung pesta rakyat.
Baca Juga: Cuaca Panas dan Kering, BMKG Peringatkan Karhutla di Pulau Bintan
Anak-anak, orang tua hingga para nelayan memenuhi tepian. Mata mereka mengikuti setiap gerakan perahu yang beradu cepat. Ketika sebuah perahu meninggalkan lawannya, tepuk tangan dan teriakan dukungan kembali terdengar.
Di Pulau Buluh, pemandangan seperti itu sebenarnya bukan hal baru. Laut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bulang sejak dahulu. Namun, kali ini ada sesuatu yang membuatnya terasa lebih istimewa.
Sampan layar yang kembali membelah perairan menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tradisi lama dihidupkan kembali, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan merayakan kemerdekaan bersama.
Bagi Wali Kota Batam Amsakar Achmad, kegiatan tersebut memperlihatkan karakter masyarakat Bulang yang lekat dengan kehidupan maritim.
“Saya apresiasi dan menyambut baik sejumlah rangkaian HUT RI ke-81 di Kecamatan Bulang. Menurut saya, permainan rakyat yang dihadirkan mulai dari sampan layar, perahu cepat, ketinting betul-betul melibatkan masyarakat,” ujar Amsakar.
Menurut dia, perayaan kemerdekaan tidak semestinya hanya menjadi tontonan. Kegiatan seperti itu juga menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan dan rasa memiliki terhadap daerah.



