
batampos – Krisis air bersih di sejumlah wilayah Batam memasuki hari keempat, Sabtu (29/8). Tak hanya mengganggu kebutuhan rumah tangga, kondisi tersebut mulai melumpuhkan aktivitas usaha warga di Batuaji, Sagulung, hingga Marina.
Cadangan air di rumah warga mulai menipis. Sebagian masyarakat bahkan terpaksa mencari sumber air alternatif ke kawasan yang lebih jauh demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di kawasan Batuaji dan Sagulung, warga mengaku kesulitan menjalankan aktivitas rumah tangga. Mencuci pakaian, membersihkan peralatan makan, hingga memasak menjadi persoalan karena pasokan air belum kembali normal.
“Warga sudah benar-benar kesulitan. Pakaian kotor menumpuk, piring juga tidak bisa dicuci. Untuk kebutuhan memasak saja kami harus berpikir bagaimana mendapatkan air,” keluh Meri, warga Marina, Sabtu (29/8).
Kondisi tersebut juga dirasakan pelaku usaha. Depot air isi ulang menjadi salah satu usaha yang terdampak langsung karena proses produksi bergantung pada ketersediaan air.
Nandar, pelaku usaha depot air minum di Batuaji, mengatakan aktivitas usahanya terpaksa berhenti karena tidak memiliki pasokan air untuk diproses.
“Usaha air isi ulang sudah tiarap. Mau produksi bagaimana kalau airnya tidak ada. UMKM katering juga sangat terdampak karena semua kegiatan membutuhkan air,” ujarnya.
Pelaku usaha katering harus menggunakan air untuk memasak, mencuci bahan makanan, membersihkan peralatan, hingga menjaga kebersihan lingkungan usaha. Ketika pasokan terganggu, seluruh rangkaian produksi ikut terdampak.
Menunggu Air Tangki
Keluhan serupa datang dari warga Marina, Kelurahan Tanjung Sekupang. Mereka masih menunggu distribusi air tangki yang sebelumnya dijanjikan untuk membantu memenuhi kebutuhan selama krisis.
Namun hingga Sabtu, suplai yang dinantikan belum tiba. Kondisi tersebut membuat warga semakin cemas karena sebagian cadangan air di rumah mulai habis.



