
batampos - Pertumbuhan industri pusat data atau data center di Batam mulai membutuhkan dukungan infrastruktur yang semakin besar. Salah satu kebutuhan utama yang menjadi perhatian adalah pasokan air bersih untuk menunjang operasional fasilitas digital tersebut.
Mengantisipasi kebutuhan itu, Badan Pengusahaan (BP) Batam mendorong investor data center menyiapkan infrastruktur pendukung secara mandiri, termasuk fasilitas pengolahan air laut atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) dan pasokan listrik.
Investasi pembangunan instalasi SWRO diperkirakan mencapai Rp400 miliar hingga Rp500 miliar. Fasilitas tersebut diproyeksikan mampu mengolah air sekitar 300 liter per detik untuk masing-masing perusahaan atau data center.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan saat ini terdapat 10 perusahaan data center yang tercatat berinvestasi di Batam. Perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di tiga lokasi, yakni Nongsa Digital Park (NDP), kawasan Kecamatan Nongsa di luar NDP, serta Kabil Industrial Estate (KIE).
“Di kawasan Nongsa Digital Park saat ini terdaftar enam perusahaan yang merupakan data center,” kata Ariastuty melalui keterangan resminya, Rabu (4/11).
Dari enam perusahaan di NDP, dua di antaranya telah menyelesaikan konstruksi. Satu perusahaan masih dalam proses pembangunan, sedangkan tiga lainnya berada pada tahap perencanaan konstruksi.
Sementara itu, dua perusahaan data center lainnya berada di kawasan Nongsa di luar NDP. Keduanya saat ini masih dalam tahap konstruksi.
Adapun dua perusahaan lainnya berlokasi di Kabil Industrial Estate dan juga sedang membangun fasilitas masing-masing.
Meski telah memaparkan jumlah serta sebaran investor, Ariastuty belum merinci nama-nama perusahaan yang masuk dalam daftar tersebut.
BP Batam Dorong Investor Bangun Infrastruktur Mandiri
Menurut Ariastuty, pertumbuhan industri pusat data harus diimbangi kesiapan infrastruktur pendukung. Karena itu, BP Batam mendorong penerapan konsep one investment.



