
batampos – Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin memudahkan mahasiswa mengembangkan ide menjadi prototipe aplikasi. Tak sekadar membantu menulis kode pemrograman, AI juga dapat digunakan untuk menyusun kebutuhan sistem, merancang aplikasi, hingga menjelaskan logika di balik kode yang dihasilkan.
Peluang tersebut dihadirkan melalui program Kiro for Students, yang memberikan akses gratis selama satu tahun kepada mahasiswa BINUS University untuk menggunakan perangkat pengembangan perangkat lunak berbasis AI dari Amazon Web Services (AWS). Melalui program ini, setiap mahasiswa mendapatkan alokasi 1.000 kredit gratis per bulan.
Kiro merupakan perangkat pengembangan perangkat lunak berbasis agen AI yang menerapkan pendekatan spec-driven development. Metode ini mengutamakan penyusunan spesifikasi dan kebutuhan sistem sebelum proses pemrograman dimulai.
Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa dapat memahami tahapan pengembangan aplikasi secara lebih terstruktur. Mereka tidak hanya mengandalkan instruksi singkat untuk menghasilkan kode, tetapi juga belajar merumuskan masalah, menyusun rancangan, dan menentukan fungsi yang dibutuhkan dalam sebuah aplikasi.
Dari Ide Menjadi Prototipe
Dalam penggunaannya, mahasiswa dapat menjelaskan gagasan aplikasi menggunakan bahasa sehari-hari. Kiro kemudian membantu menerjemahkan gagasan tersebut menjadi kebutuhan sistem, rancangan, serta daftar pekerjaan yang diperlukan.
Setelah tahap perencanaan, AI dapat membantu menulis kode dan mengembangkan aplikasi. Mahasiswa tetap dapat meninjau hasil setiap tahapan sebelum melanjutkan proses pengembangan.
Teknologi ini membuka kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai bidang untuk bereksperimen membuat prototipe, menguji gagasan, dan menilai kesesuaian solusi dengan kebutuhan pengguna.
Selain menghasilkan kode, Kiro juga dapat memberikan penjelasan mengenai cara kerja program. Fitur ini membantu mahasiswa mempelajari logika pemrograman sekaligus memahami proses pemecahan masalah dalam pengembangan perangkat lunak.
Dekan School of Computer Science BINUS University, Prof. Derwin Suhartono, mengatakan pemanfaatan AI harus diimbangi pemahaman teknis dan tanggung jawab terhadap solusi yang dikembangkan.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya mampu menciptakan solusi teknologi, tetapi juga memahami dan bertanggung jawab atas solusi yang mereka kembangkan. Kiro memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperkaya pengalaman belajar mereka, sementara fondasi akademik, bimbingan dosen, serta evaluasi proyek membantu mereka mengembangkan keterampilan teknis sekaligus kemampuan berpikir kritis,” ujar Derwin di Jakarta, Kamis (29/10).
Dukung Proyek Komputer hingga Sistem Bisnis
Pemanfaatan AI dalam pengembangan perangkat lunak tidak terbatas pada mahasiswa yang mendalami pemrograman. Teknologi ini juga dapat membantu mahasiswa mengeksplorasi solusi digital untuk menjawab persoalan bisnis maupun kebutuhan organisasi.
Mahasiswa bidang Computer Science dapat memanfaatkan Kiro untuk mendukung pengerjaan proyek mata kuliah algoritma, rekayasa perangkat lunak, pengolahan data, dan kecerdasan buatan.
Sementara itu, mahasiswa Information Systems dapat menggunakannya untuk mengembangkan layanan digital, membuat prototipe sistem, serta menguji gagasan berdasarkan kebutuhan bisnis.
Dekan School of Information Systems BINUS University, Dr. Rudy, S.Kom., M.M., menilai AI dapat mempercepat proses pengembangan gagasan menjadi solusi yang lebih konkret.
Menurut Rudy, dukungan teknologi AI dari AWS memungkinkan mahasiswa mengembangkan ide, menguji relevansinya dengan kebutuhan pengguna, serta menunjukkan nilai tambah solusi bagi organisasi dan masyarakat.
Meski menawarkan kemudahan, penggunaan AI tidak menghilangkan kebutuhan untuk menguji dan mengevaluasi hasil pengembangan aplikasi. Mahasiswa tetap harus memastikan kode berfungsi sesuai tujuan, memeriksa kemungkinan kesalahan, serta memperhatikan aspek keamanan dan kebutuhan pengguna.
Perkembangan agen AI juga mengubah proses pengembangan perangkat lunak. Sejumlah pekerjaan teknis yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat dibantu atau diotomatisasi oleh AI, mulai dari perencanaan hingga penulisan kode.
Karena itu, kemampuan menyusun instruksi, menentukan kebutuhan sistem, mengevaluasi hasil AI, dan memahami logika pemrograman menjadi semakin penting. Pengembang tetap membutuhkan dasar teknis untuk menilai ketepatan, keamanan, dan kesesuaian hasil yang dihasilkan AI.
Head of APJ Market Expansion and Strategic Partnership Amazon Web Services, Yashinta Bahana, mengatakan akses terhadap teknologi pengembangan berbasis AI dapat membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi perubahan industri.
Menurut dia, perkembangan AI dalam pengembangan perangkat lunak membuka peluang bagi Indonesia untuk melahirkan generasi baru pengembang teknologi yang mampu beradaptasi dengan transformasi digital.
“Dengan demikian, mahasiswa dapat mengembangkan pembelajaran di kelas menjadi prototipe nyata sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja masa depan. AWS bangga dapat mendukung BINUS University sebagai universitas pertama di Indonesia yang menghadirkan program ini di lingkungan kampus,” ungkap Yashinta.
BINUS University menyatakan program tersebut merupakan bagian dari pengembangan ekosistem pembelajaran berbasis AI di lingkungan kampus. Sebagai institusi yang telah bergabung dalam AWS Academy, BINUS mengintegrasikan akses teknologi pengembangan perangkat lunak berbasis AI dengan kegiatan pembelajaran akademik.
Melalui akses gratis selama satu tahun dan alokasi 1.000 kredit setiap bulan, mahasiswa diharapkan dapat mengeksplorasi pengembangan aplikasi secara langsung. Namun, keberhasilan pemanfaatannya tetap bergantung pada kemampuan mahasiswa memadukan bantuan AI dengan pemahaman konsep, evaluasi kritis, dan pengujian terhadap solusi yang dikembangkan. (*)



