batampos – SMA N 3 Tanjungpinang mengeluhkan berbagai dampak akibat minimnya jumlah siswa yang belajar di sekolah itu. Berbagai persoalan telah dirasakan, baik dari murid, guru hingga sekolah yang biasa mendapat bantuan dari pusat.
Beberapa siswa di SMA N 3 Tanjungpinang berjalan di lapangan sekolah, Kamis (13/7/2023)
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN 3 Tanjungpinang, Sri Haryanti mengatakan dampak sedikitnya siswa di sekolah yang dipimpinnya itu sudah dirasakan sejak beberapa waktu belakang, khususnya untuk guru sertifikasi menjadi kekurangan jam mengajar.
“Kamarin ada yang mencoba agar jam mengajarnya cukup untuk mencari tempat mengajar di sekolah lain,” kata Haryanti, Kamis (13/7).
Dampak yang paling terasa adalah minimnya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang didapatkan pihak sekolah, karena bantuan itu diberikan berdasarkan jumlah siswa yang ada di sekolah.
“Dengan sedikitnya dana yang kita terima, renaka kegiatan yang sudah kita susun menjadi terbatas. Banyak yang harus dibatasi,” ujarnya.
Kemudian, lanjut Haryanti masalah lain yang timbul akibat minimnya siswa adalah menyulitkan murid saat berkegiatan. Seperti contoh saat mengikuti ekstrakulikuler drum band yang membutuhkan banyak peserta.
“Jika siswa kita sedikit, jadi ada kendala di kegiatan ekstrakulikuler kita,” terangnya.
Sekarang total siswa yang belajar di sekolah itu sekitar 131 orang, sebanyak 112 orang adalah kelas XI dan XII, sedangkan kelas X sebanyak 19 orang.
“Yang terisi hanya 5 rumbel, padahal rumbel yang tersedia itu banyak ada 19 rumbel,” terangnya.
Dengan jumlah siswa baru yang hanya 19 orang itu, pihak sekolah berharap bantuan Dinas Pendidikan Kepri untuk tegas agar tidak mengizinkan SMA yang berdekatan dengan SMA N 13 Tanjungpinang ini untuk membuka penerimaan siswa lagi.
“Kita butuh bantuan Disdik supaya SMA 1 dan SMA 2 menutup penerimaan siswa, kalau masih dibuka takutnya siswa kami pindah semua,” harapnya. (*)
Reporter : Peri Irawan