Bentrokan di Perbatasan Thailand-Kamboja Berakibat Setengah Juta Warga Mengungsi
Chahaya Simanjuntak• Kamis, 11 Desember 2025 | 19:26 WIB
PENGUNGSI dari warga Thailand di Provinsi Sakeo. Mereka tinggal di barak penampungan supaya terhindar dari bentrok Thailand dan Kamboja. F AFP
Batampos - Setengah juta warga Kamboja dan Thailand mengungsi akibat bentrokan yang terjadi. Mereka berlindung di pagoda, sekolah, dan tempat aman lainnya. Warga, memilih melarikan diri akibat pertikaian perbatasan antar dua negara yang telah berlangsung lebih dari seabad tersebut.
Setidaknya 14 orang, termasuk tentara Thailand dan warga sipil Kamboja tewas dalam pertempuran terbaru, sementara lebih dari 500.000 orang meninggalkan kawasan perbatasan tempat jet tempur, tank, dan drone saling serang.
Saksi mata yang juga jurnalis AFP di Samraong, Kamboja barat laut, pada Rabu pagi mendengar ledakan artileri dari arah kuil-kuil berusia berabad-abad di wilayah sengketa perbatasan. Sementara siang harinya, ratusan keluarga mulai meninggalkan tempat penampungan di sebuah pagoda dekat Samraong tempat mereka berlindung sejak Senin lalu.
"Pihak berwenang mengatakan tempat ini sudah tidak aman lagi," ujar Seut Soeung, 30, sambil beristirahat di pinggir jalan ketika kendaraan penuh orang, anjing, dan tas berisi pakaian melintas.
Seorang polisi yang enggan disebut namanya mengatakan, para warga yang mengungsi dipindahkan dari area pagoda karena kekhawatiran keamanan setelah beberapa jet Thailand melintas di dekat lokasi.
Thailand dan Kamboja telah lama berselisih mengenai batas perbatasan sepanjang 800 km tersebut. Dimulai dari era kolonial, di mana klaim atas kuil-kuil bersejarah kerap memicu konflik bersenjata.
Bentrokan yang terjadi lagi minggu ini menjadi yang paling mematikan sejak pertempuran lima hari pada Juli 2025 lalu, yang menewaskan puluhan orang sebelum gencatan senjata rapuh disepakati setelah campur tangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Kedua pihak saling menyalahkan atas pecahnya kembali konflik yang terjadi sejak Selasa (9/12/2025) tersebut. Konflik kini meluas hingga lima provinsi di Thailand dan Kamboja, menurut catatan AFP berdasarkan laporan resmi.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri, mengatakan, lebih dari 400.000 warga sipil telah dievakuasi ke tempat penampungan. Sementara dari pihak Kamboja, lebih dari 100 ribu warga sipil juga turut mengungsi.
Niam Poda, seorang petani tebu, melarikan diri dari rumahnya yang berjarak hanya 5 km dari perbatasan di Provinsi Sa Kaeo, Thailand, untuk kedua kalinya dalam lima bulan terakhir.
Perempuan berusia 62 tahun itu mengatakan ia sedang mencuci pakaian, saat ledakan keras terjadi. "Aku harus lari menyelamatkan diri secepat mungkin," ujarnya seperti dikutip dari AFP di pusat evakuasi.
Niam sempat membawa pakaian namun meninggalkan obat-obatanya miliknya. "Apa pun yang terjadi selanjutnya, aku berharap kedamaian datang agar aku bisa kembali merawat ladang tebuku dengan tenang," ujarnya.
Sejak bentrok terjadi, militer Thailand memberlakukan jam malam dari pukul 19.00 hingga 05.00 di sebagian Sa Kaeo mulai kemarin malam.
"Di Kamboja, lebih dari 101.000 orang telah dievakuasi ke tempat penampungan dan rumah kerabat," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata.
"Militer Thailand menembak secara membabi buta ke wilayah sipil dan sekolah, terutama menembaki Kuil Ta Krabey," katanya, menyebut kuil sengketa itu sebagai situs suci Kamboja.
Ia kemudian menyampaikan, jumlah korban tewas warga sipil Kamboja telah meningkat menjadi sembilan orang, termasuk seorang bayi.
Militer Thailand, di sisi lain, mengatakan pasukan Kamboja menembakkan roket yang jatuh di dekat Rumah Sakit Phanom Dong Rak di Provinsi Surin, Rabu (10/12/2025) pagi. Rumah sakit tersebut, juga pernah terkena serangan saat bentrok Juli tahun ini dan pada 2011 lalu.
Kamboja pada Rabu menarik diri dari SEA Games yang diselenggarakan Thailand, dengan komite olimpiadenya menyebut kekhawatiran serius dan permintaan keluarga para atlet agar mereka dipulangkan segera. (*)