Belum Pernah Muncul ke Publik, Pemimpin Tertinggi Baru Iran Mojtaba Khamenei Dikabarkan Luka Parah
Chahaya Simanjuntak• Kamis, 12 Maret 2026 | 14:45 WIB
Warga Iran berjalan di depan baliho Mojtaba Khamenei di Teheran. Baliho itu simbol penyerahan bendera nasional dari ayahnya yang tewas terbunuh oleh tentara AS dan Israel pada awal perang. F AFP
Batampos - Pemimpin tertinggi baru Iran,Mojtaba Khamenei, dilaporkan terluka namun berada dalam kondisi aman. Informasi tersebut disampaikan langsung oleh putra Presiden Iran,Masoud Pezeshkian, Rabu (11/3/2026) waktu setempat.
Ini, sekaligus menjadi keterangan resmi pertama terkait ketidakhadiran Mojtaba di publik sejak penunjukannya akhir pekan lalu.
" Saya mendengar kabar bahwa Mojtaba Khamenei terluka. Saya kemudian bertanya kepada beberapa teman yang memiliki hubungan dekat dengannya. Mereka mengatakan beliau dalam keadaan aman. Syukurlah," tulis Yousef Pezeshkian melalui kanal Telegram pribadinya seperti dikutip dari AFP kemarin malam.
Mojtaba Khameneisebelumnya dikenal sebagai tokoh berpengaruh di balik layar dalam politik Iran. Ia ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran setelah ayahnya,Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel, pada awal konflik Iran.
Penunjukan tersebut dilakukan lembaga ulama tertinggi Iran,Assembly of Experts. Namun hingga kini, Mojtaba belum terlihat atau memberikan pernyataan resmi di hadapan publik sejak penunjukannya, sehingga memunculkan berbagai spekulasi mengenai kondisi kesehatannya.
Televisi pemerintah Iran sebelumnya hanya menyebut Mojtaba sebagai veteran yang terluka dalam perang Ramadan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut terkait luka yang dialaminya.
Sementara itu, menurut laporan The New York Times, tiga pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya menyebutkan, Mojtaba mengalami luka parah pada beberapa bagian tubuhnya termasuk di bagian kaki.
Meski demikian, ia disebut masih dalam keadaan sadar dan saat ini berlindung di lokasi yang sangat aman dengan komunikasi terbatas.
Ada juga spekulasi Mojtaba turut terluka dalam serangan udara siang hari di Teheran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menewaskan ayahnya,Ali Khamenei, serta beberapa anggota keluarga lainnya.
Sejak penunjukannya menggantikan ayahnya, wajah Mojtaba Khamenei mulai muncul di berbagai papan reklame besar di Teheran. Salah satu billboard bahkan menampilkan lukisan, simbol penyerahan bendera nasional dari ayahnya, disaksikan oleh pendiri Republik Islam Iran,Ruhollah Khomeini.
Senada dengan kemunculan papan reklame itu, ribuan pendukung pemerintah juga menggelar aksi unjuk rasa di pusat kota Teheran dengan membawa poster Mojtaba sejak Senin (9/3/2026) kemarin.
Namun di sisi lain, sejumlah laporan menyebut adanya teriakan protes pada malam hari di ibu kota Iran dengan slogan menolak kepemimpinannya.
Beberapa pengamat menilai Mojtaba merupakan sosok yang berpengaruh dalam penindakan kejam terhadap gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang terjadi di Iran sejak 2009 lalu.
Analis keamanan dariInternational Institute for Strategic Studies,Emile Hokayem, memperkirakan Mojtaba akan tetap berada di lokasi perlindungan dengan pengamanan ketat dalam waktu lama.
Menurutnya, posisi Mojtaba kini menjadi target utama pembunuhan oleh Amerika Serikat maupun Israel.
" Dia kemungkinan akan berada di bunker untuk waktu yang cukup lama setelah melihat apa yang terjadi pada keluarganya dalam serangan awal," ujar Hokayem dalam sebuah diskusi daring.
Meski demikian, militer Iran serta pasukan elitIslamic Revolutionary Guard Corps(IRGC) telah menyatakan kesetiaan kepada Mojtaba Khamenei setelah penunjukannya sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Dukungan juga datang dari kelompok sekutu Iran di kawasan Teluk, termasuk kelompokHezbollahdi Lebanon dan pemberontakHouthi Movementdi Yaman.
Sementara itu, Presiden RusiaVladimir Putindilaporkan menyatakan dukungan penuh terhadap kepemimpinan baru Iran.
Di sisi lain, Presiden Amerika SerikatDonald Trumpsebelumnya menyatakan, Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran merupakan sosok yang “tidak dapat diterima” oleh pemerintahannya.
Dalam wawancara dengan ABC News, Trump menyebut Mojtaba harus mendapat persetujuan dari Amerika Serikat untuk dapat bertahan lama dalam posisi tersebut. (*)