Batampos - Dua minggu sudah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Namun, apa sebenarnya alasa utama dua negara sekutu itu melakukannya?
Pejabat pemerintahan Trump menyampaikan beberapa alasan berbeda terkait serangan tersebut.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth menyebutkan, operasi militer sebagai upaya mengakhiri konflik panjang antara Iran dan AS yang disebut telah berlangsung selama 47 tahun.
Pete juga menuding Iran menolak berbagai upaya diplomasi yang ditawarkan, setelah program nuklir negara tersebut dihancurkan dalam operasi sebelumnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan, serangan dilakukan sebagai langkah pencegahan. Menurutnya, intelijen AS menilai Iran dapat segera menyerang kepentingan AS jika negara tersebut lebih dulu diserang oleh Israel.
Namun Trump memberikan pernyataan berbeda. Dia mengatakan, keputusan serangan itu tidak berkaitan dengan rencana serangan Israel terhadap Iran.
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Pangan, Mentan Amran Ajak Generasi Muda Manfaatkan Program Pertanian
Lagi, Rubio menyebut, Iran diperkirakan akan memiliki jumlah rudal jarak pendek dan drone yang sangat besar dalam satu hingga satu setengah tahun ke depan, yang dapat membuat negara tersebut sulit dihentikan.
Melansir beberapa situs berita seperti Reuters dan NBC, Trump pada awalnya menegaskan operasi dilakukan guna memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir.
Namun Hegseth mengatakan, operasi tersebut bukan perang mengganti rezim di Iran, meskipun ia menyatakan perubahan rezim akan membuat dunia dan kehidupan warga Iran menjadi lebih baik.
Selain itu, pemerintah AS juga menyebut misi militer bertujuan menghancurkan kemampuan rudal Iran, melumpuhkan angkatan lautnya, serta menghentikan jalur pengembangan senjata nuklir.
Baca Juga: Puncak Arus Mudik lewat Bandara Hang Nadim Diprediksi 18 Maret
Dalam pernyataan lain pada 6 Maret 2026 lalu, Trump bahkan menyebut satu-satunya kesepakatan yang dapat diterima dari Iran adalah menyerah tanpa syarat.
Presiden yang juga triliuner itu juga mengatakan, operasi militer bertujuan menjaga keamanan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia.
Lantas berapa lama perang ini akan berlangsung? Trump pada awalnya memperkirakan operasi militer berlangsung empat hingga lima minggu, tetapi kemudian menyatakan pihaknya memiliki kemampuan untuk melanjutkan perang lebih lama jika diperlukan.
Kemudian, pernyataannya kembali berubah saat wawancara dengan Axios, Rabu (11/3/2026) lalu. "Perang dengan Iran kemungkinan akan berakhir segera. Hampir tidak ada lagi target yang tersisa," ujarnya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak