Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ekonomi Sulit, Warga Dabo Singkep Ramai Jual Emas

V
Penulis: Vatawari BP❯

Salah satu warga yang datang ke toko emas untuk menjual perhiasan, Jumat (27/3). F. Vatawari/BATAM POS
Salah satu warga yang datang ke toko emas untuk menjual perhiasan, Jumat (27/3). F. Vatawari/BATAM POS


Advertisement

Batampos - Pemandangan tak biasa terlihat di sejumlah toko Emas di kawasan pasar Dabo Singkep, Kabupaten Lingga. Terlihat warga ramai mendatangi untuk menjual emas perhiasan milik mereka.

Diketahui, kebiasaan masyarakat Dabo Singkep menjelang lebaran atau pascalebaran selalu datang ke toko Emas untuk membeli perhiasan. Namun kali ini mengalami perbedaan, warga justru memilih menjual perhiasan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Fenomena ini dipicu tekanan ekonomi yang belum stabil. Kebutuhan seperti kue Lebaran, pakaian baru, hingga biaya lainnya membuat warga mengambil langkah cepat.

Advertisement

Bahkan, ada warga yang terpaksa menjual emas karena sudah terlanjur berbelanja, namun uang yang ditunggu tak kunjung cair. Kondisi ini membuat perhiasan jadi penyelamat dadakan di tengah kebutuhan mendesak.

Salah satu penjual emas di Toko Sumbar Dabo Singkep, Aldi, mengungkapkan tren tahun ini berbeda dari sebelumnya. Ia menyebut biasanya Lebaran identik dengan pembelian emas.

“Tahun ini warga lebih banyak menjual perhiasan, beda dengan tahun-tahun sebelumnya yang justru membeli,” kata Aldi, Jumat (27/3/2026).

Advertisement

Ia menilai kondisi ekonomi sangat berpengaruh. Menariknya, tren ini berlanjut hingga arus balik Lebaran.

"Rata-rata warga menjual emas untuk kebutuhan transportasi anak-anak yang kembali sekolah atau kuliah di luar daerah," ujarnya.

Tak sedikit yang menggunakan hasil penjualan untuk membeli tiket kapal. Kebutuhan mobilitas pasca Lebaran menjadi alasan utama gelombang penjualan lanjutan.

Kondisi ini juga diperparah dengan belum cairnya THR bagi sebagian ASN di Pemkab Lingga. Alhasil, emas bukan lagi sekadar perhiasan, tapi tabungan darurat yang akhirnya dilepas demi bertahan.

Salah satu ASN Pemkab Lingga mengaku terpaksa menjual perhiasan istrinya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi THR yang menjadi harapan baginya hingga hari ini belum dibayarkan.

"Saya bersama istri terpaksa menjual perhiasan ini untuk kebutuhan hidup. Apalagi pada saat bulan puasa dan lebaran banyak pengeluaran dan harus membayar hutang," katanya. (*) 



Advertisement
Editor : Chahaya Simanjuntak

Artikel Terkait

Kasus DBD di Lingga Capai 221 Kasus, Dinkes Ingatkan Warga Jaga Kebersihan

Kasus DBD di Lingga Capai 221 Kasus, Dinkes Ingatkan Warga Jaga Kebersihan

Kasus DBD di Lingga mencapai 221 kasus hingga September 2026. Dinkes mengingatkan warga menjaga kebersihan dan memberantas sarang nyamuk.

Kabut Asap Karhutla Ganggu Sekolah di Lingga, Siswa Belajar dari Rumah

Kabut Asap Karhutla Ganggu Sekolah di Lingga, Siswa Belajar dari Rumah

Kualitas udara Lingga memburuk akibat kabut asap karhutla. PM2.5 mencapai 105 µg/m³ dan siswa kembali belajar dari rumah untuk sementara.

       BP Batam Buka Opsi Tarik Air dari Lingga

BP Batam Buka Opsi Tarik Air dari Lingga

BP Batam membuka opsi mendatangkan air dari Kabupaten Lingga untuk memenuhi kebutuhan air Batam yang terus meningkat

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer