Warga RI Simpan 1.800 Ton Emas, Nilainya Tembus Rp4.460 Triliun

batampos – Masyarakat Indonesia diperkirakan menyimpan sekitar 1.800 ton emas secara pribadi dengan nilai mencapai US$252 miliar atau sekitar Rp4.460 triliun. Besarnya kepemilikan emas tersebut dinilai menjadi peluang besar untuk memperkuat ekosistem perdagangan emas atau bullion di dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan data tersebut saat memaparkan perkembangan industri bullion atau layanan bank emas di Indonesia.
Menurut Airlangga, satu tahun setelah diresmikan Presiden Prabowo Subianto, layanan bank emas menunjukkan perkembangan positif dan menjadi fondasi penting bagi penguatan ekosistem emas nasional.
Saat ini, bank emas di Indonesia telah mengelola sekitar 177 ton emas. Dari jumlah tersebut, sebanyak 153 ton dikelola Pegadaian, sedangkan 24 ton berada di bawah pengelolaan Bank Syariah Indonesia (BSI).
Capaian tersebut sebelumnya juga mendapat apresiasi dari Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI pada 14 Agustus 2026.
Presiden menilai keberadaan bank emas merupakan langkah strategis untuk mengamankan aset nasional, memperkuat sistem keuangan, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Penguatan industri bullion juga ditandai dengan berdirinya Indonesia Bullion Market Association (IBMA) pada 18 Agustus 2026.
Organisasi tersebut dibentuk untuk mendorong terciptanya pasar bullion yang lebih kredibel, efisien, transparan, dan berkelanjutan.
Selain menjadi wadah kolaborasi pelaku industri emas dari hulu hingga hilir, IBMA juga diharapkan mampu memperkuat standardisasi industri serta meningkatkan literasi masyarakat mengenai investasi emas.
Airlangga mengatakan pembentukan IBMA menjadi fase baru dalam pengembangan industri bullion nasional setelah fondasi regulasi dan kelembagaan mulai terbentuk.



